Baby Girl

Baby Girl
BAB 86



Reagan memicingkan matanya melihat kedua bocil sedang berbisik merencanakan sesuatu.


"Kalian lagi apa? Tanya Reagan.


Reynand menoleh "Jangan belisik dad, nanti mak lampilnya mendengal apa yang sedang Ley bicalakan" jawab Reynand berbisik.


Reagan meremas telapak tangannya, dia gemas dengan tingkah mereka berdua.


Reynand beranjak dari tempat duduknya, lalu pindah duduk di sebelah Siska.


"Dia mau ngapain sih dad? Kenapa dia pindah duduk di sebelah situ" bisik Renata yang melihat putranya duduk mendekati Siska.


"Lihatin saja mom, aku juga tidak tahu apa yang kedua bocah itu rencanakan" jawab Reagan lirih.


Siska menyapa Reynand yang duduk di sebelahnya sambil melipat tanganya di atas meja.


"Hai boy, nama kamu siapa" tanya Siska.


"Namaku Leynand nyonya" jawab Reynand singkat.


Siska beralih menatap ke arah Reva yang sedang mengobrol dengan Renata.


"Reva sayang, sini sama nenek" panggil Siska.


Reva yang sedang ngobrol pun reflek menengok "Hah, nenek lampil" ceplos Reva polos.


"Uhhukkk....." Arsen yang sedang minum pun tersedak mendengar ucapan putrinya.


Alisya langsung menduselkan wajahnya ke lengan Arsen sumpah Alisya malu sendiri mendengar jawaban polos putrinya "honey, sungguh dia bukan putriku" lirih Alisya menahan tawa.


Renata juga sama, dia menduselkan wajahnya ke punggung suaminya, dia sekuat tenaga menahan tawanya agar tak pecah.


Belinda justru tertawa mengejek Siska yang wajahnya sudah merah padam menahan emosi.


"Sialan, dia mempermalukanku....kalau bukan demi perusahaan aku tak akan sudi mengakuimu sebagai cucuku" umpat Siska.


Dia memutuskan mengajak suaminya pergi dari situ, dia sangat malu mendengar ucapan cucunya yang menyebut dirinya nenek lampir.


"Kami permisi" pamit Siska bangkit dari tempat duduknya.


Baru juga Siska berbalik ingin melangkah tiba-tiba.


Brughh


"Akhhh..."pekik Siska jatuh tersungkur sambil menabrak seorang pelayan yang kebetulan lewat membawa nampan kosong, nampan tersebut jatuh mengenai kepala Siska, beruntung nampan tersebut kosong, ngga kebayang kalau misal nampan itu berisi banyak gelas lalu jatuh menimpa Siska.


"Mom" pekik David yang melihat istrinya jatuh tersungkur.


Semua tamu undangan menoleh ke arah Siska yang sedang tersungkur di lantai.


Terdengar bisik-bisik tamu undangan menertawakan Siska, mereka juga ada yang membicarakan tingkah Siska yang terkesan kampungan.


David langsung membantu istrinya berdiri, bukan masalah sakit tidaknya, tapi malunya itu lho yang membuat Siska menundukan wajahnya karena malu. Ingin rasanya Siska menghilang seketika dari sana. Dia malu di lihatin banyak orang, terlebih rata-rata yang hadir dari kalangan atas semua.


Setelah berdiri David langsung membawa istrinya pergi keluar meninggalkan tempat acara tersebut. David juga malu dengan kejadian ini.


Sedangkan si tersangka dari tadi hanya diam saja sambil memakan kuenya yang ada di atas meja.


Setelah melihat Siska pergi barulah kedua bocah itu bersorak.


"Yess...kita belhasil" ucap kedua perusuh itu tertawa cekikikan Sambil berdiri menggoyangkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri.


Reynand sengaja menginjak ujung dress Siska yang menjuntai hingga ke lantai.


"Lasakan pembalasan kita, siapa suluh sudah nalik lambutnya Leva" sinis Reva dengan mengangkat dagunya angkuh.


Arsen dan Reagan menepuk dahinya melihat tingkah konyol mereka.


Sedangkan Renata dan Alisya memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Mereka berdua tak habis pikir dengan kelakuan kedua bocil itu.


Sungguh mereka berdua tidak pernah mengajarkan buah hatinya untuk bersikap kurang ajar dengan orang tua.


Mereka berempat tak tahu harus tertawa atau sedih melihat Siska malu karena ulah kedua perusuh itu.


"Jadi ini semua rencanamu boy" tegur Reagan kepada putranya.


"Bagus, lain kali kamu juga harus menjambak rambutnya biar sama seperti yang dia lakukan kepada Reva. Kamu harus bisa menjaga Reva...nanti om kasih kamu hadiah" saran Arsen menimpali.


Plakk..


Regan memukul kepala Arsen. Reagan kesal dengan ucapan ngawur sepupunya itu, tidak di ajarin aja anak nya udah banyak ulah, apa lagi di ajarin.


"Kamu ini kenapa mengajari putraku yang tidak benar Ar" omel Reagan.


"Tidak benar bagaimana, jelas-jelas aku menyuruh anakmu untuk melindungi putriku" kilah Arsen.


"Melindungi putrimu gundulmu, kamu tadi menyuruh putraku menjambak rambut Siska, memunah" kesal Reagan.


"Memangnya kamu mau kalau rambut anakmu yang di jambak? Mending anakmu yang menjambak duluan kan" ucap Arsen semakin tak masuk akal, ngapain Siska menjambak rambut Reynand coba.


Sang istri menatap mereka berdua jengah, tiap ketemu pasti berantem.


"Sayang, lain kali jangan begitu lagi ya, ngga baik mengerjai orang tua" tegur Alisya lembut kepada kedua bocah itu.


"Iya mama, Aunty" jawab mereka berdua kompak.


Reagan menatap sinis Arsen "itu baru benar yang di bilang istrimu. Tidak seperti kamu yang bodoh" ledek Reagan.


Arsen tidak mau meladeni Reagan, dia memilih menemui Raka Wijaya temannya dulu waktu kuliah di london. Raka sedang mengobrol dengan Andre dan juga Alex, sedangkan para istri sedang menemani anak-anak bermain.


"Selamat malam tuan Raka" sapa Arsen sambil mengulurkan tangannya menjabat tangan Raka.


"Hai bro, apa kabar kamu? Aku tak menyangka akhirnya kamu mau muncul ke publik" ucap Raka sambil menerima uluran tangan Arsen.


Tentu Raka sudah dari dulu tahu kalau Arsen lah sosok di balik keberhasilan Global Group, dia mengakui kehebatan temannya itu. Dari semenjak kuliah Arsen sudah terjun ke perusahaan membantu orang tuanya.


"Tentu saja, tak mungkin aku akan terus bersembunyi bukan. Sekarang kau kalah denganku aku sudah menikah dan juga mempunyai anak" sombong Arsen.


"Ck, ngga usah sombong, bahkan aku sudah mempunyai anak kembar" balas Raka.


Arsen melongo mendengar jawaban Raka.


"Sejak kapan kamu menikah, kenapa kamu tidak mengundangku" cerocos Arsen.


"Tidak ada yang aku undang, aku sudah hampir enam tahun menikah, bahkan anak-anak ku sudah mau berusia 5th" jawab Raka.


"Tapi tetap saja aku yang menang, istriku sedang hamil triplet" sombong Arsen, Raka mendengus kesal dengan temannya itu yang dari dulu tidak pernah berubah.


Mata Arsen beralih menatap ke arah Alex,Arsen juga menyapa Alex dari keluarga Damanik.


"Kamu Alexander Damanik , right? Tanya Arsen


"Iya tuan Arsen, senang berkenalan dengan Anda" jawab Alex sambil menjabat tangan Arsen.


Tak lupa Arsen juga menyapa Andre Asisten Raka.


"Mana istri serta anak-anak kalian" tanya Arsen.


"Mereka sedang menemani anak-anak bermain. aku suka konsep yang kau buat untuk acara ini sih, jarang sekali orang menyediakan arena bermain di pesta perusahaan seperti ini" puji Raka, di salut sengan pemikiran temannya itu.


"Awalnya aku menyediakan arena bermain untuk putriku, aku takut dia bosan kalau terlalu lama di acara seperti ini. Namun tiba-tiba terlintas ide untuk membuatnya lebih besar untuk para tamu undangan yang membawa anak." jawab Arsen.


Bersambung


Raka wijaya ada di perjodohan dengan CEO


Jangan lupa


Like


Koment


Vote


Follow


Happy reading guys🙏