Baby Girl

Baby Girl
BAB 60



Alisya berjalan menjauh dari mereka berdua dengan pandangan kosong kembali keruangannya. Hati Alisya begitu sakit dan sesak. Alisya menekan dadanya yang terasa berdenyut.


Arsen di dalam ruangan sudah menutup kembali laptop Alisya yang tadi ia gunakan untuk melihat cctv.


Tak lama istrinya masuk dengan air mata yang sudah menetes dari matanya. Arsen berdiri melangkah mendekati istrinya yang terlihat berantakan.


"Are you ok baby" tanya Arsen yang pura-pura tidak tahu dengan kejadian barusan, Arsen mengusap pipi basah istrinya yang sedang berdiri mematung di depannya sambil memegangi dadanya.


Arsen tak mendapat jawaban pun langsung menarik tubuh Alisya masuk ke dalam pelukannya. Tangis Alisya pecah dalam dekapan Arsen. Arsen mengira istrinya akan kuat tapi ternyata rapuh juga.


Hati perempuan memang seperti kaca, mudah sekali pecah.


"Sudah jangan menangis, masih ada aku yang akan selalu di sampingmu baby" lirih Arsen sambil mengusap punggung Alisya dengan penuh sayang


Arsen mendengar tangis pilu istrinya yang menyayat hatinya. Sungguh bukan dia tak mau membantu Alisya, tapi Arsen memang sengaja melatih mental Alisya untuk menjadi wanita kuat yang tak mudah di tindas.


Karena menjadi pendamping Arsen bukanlah hal yang mudah. Semakin tinggi jabatan yang ia miliki maka akan semakin banyak halangan, dan semakin berkuasanya seseorang makan akan banyak orang iri dengan kekuasaan yang di miliki Arsen.


"Mereka jahat sekali hiks...Sudah melakukan tes DNA tanpa seijinku, terus mereka memberikan uang 1M menyuruhku untuk pergi dari kota ini, memangnya dia siapa hiks..hiks bisa mengusirku seenaknya saja, tak tahu apa uangku lebih banyak darinya, ingin rasanya aku menyumpal mulutnya dengan menggunakan uang...Tapi aku sedang tak memegang uang hiks hiks" cerocos Alisya sambil terus menangis sambil memeluk tubuh Arsen


Arsen tak tahu harus sedih atau tertawa, sebenarnya istrinya ini menangis karena apa, bisa-bisanya ia mengomel sambil menangis.


"Berhentilah menangis baby, bukankah tadi kamu terlihat begitu berani menghadapi mereka, lalu kenapa sekarang menangis hmm" goda Arsen Supaya istrinya berhenti menangis, seraya melerai pelukannya. Arsen melihat wajah sembab dan hidung merah istrinya. Ingin rasanya Arsen tertawa melihat wajah istrinya yang begitu lucu.


"Kamu tahu" tanya Alisya yang masih sesegukan.


"Tentu saja aku tahu, aku melihatnya dari cctv" jawab Arsen sambil menunjuk laptop Alisya yang di atas meja.


"Terus kenapa kamu tak membelaku hiks" lirih Alisya.


"Aku tak mau istriku terlihat lemah di depan mereka. Kamu harus berani melawan mereka sekalipun kau ingin membunuhnya aku tak akan menghentikanmu, aku yang akan membereskan sisanya nanti" tegas Arsen sambil mengusap air mata Alisya. Dengan kekuasaannya akan mudah bagi Arsen untuk membebaskan Alisya dari tuntutan jika itu terjadi.


(jangan lupakan kasus pak jendral guys, dengan uang segalanya bisa di rekayasa)


"Kamu menyuruhku untuk menjadi pembunuh ha" protes Alisya.


"Jika itu di perlukan menurutku tak jadi masalah. Daripada aku selalu melihat istri cantiku ini menangis terus hmm" sahut Arsen dengan senyum jenaka. Alisya memukul lengan Arsen karena kesal.


"aku hanya kasihan sama putriku...Aku takut kalau dia besar nanti akan menanyakan ayah biologisnya. Pasti dia akan kecewa kalau mengetahui ayah dan keluarganya tak mau menerima keberadaanya di dunia ini." ucap Alisya menitihkan air matanya kembali, ia akan lemah jika sudah menyangkut putri semata wayangnya.


"Jangan pikirkan apa yang belum tentu terjadi baby. Kita akan memberikan kasih sayang yang melimpah kepada Reva, hingga dia lupa akan ayah kandungnya sendiri." sahut Arsen menenangkan istrinya.


Arsen berjanji akan menghancurkan siapapun yang berani menyakiti keluarganya.


Arsen tak akan terang-terangan menunjukkan dirinya melawan mereka. Arsen akan bergerak di balik layar.


"Bereskan barang-barangmu baby, aku akan menunggumu di mobil bersama Reva" titah Arsen. Alisya mengangguk patuh.


Dengan hati-hati Arsen mengangkat tubuh putrinya yang sedang terlelap, agar putrinya tak terganggu dengan pergerakannya.


Arsen keluar dari ruangan Alisya sambil menggendong Reva. Ia segaja keluar terlebih dahulu, Arsen butuh ruang untuk menelpon Nino agar Alisya tak bisa mendengar obrolannya dengan Nino.


Setelah tiba di mobil Arsen menidurkan Reva di jok belakang, ia menyelimuti tubuh Reva dengan selimut yang memang tersedia di dalam mobilnya.


"Hallo Nino" sapa Arsen ketika panggilannya sudah tersambung.


"......." balas Nino dari sebrang telpon.


"Suruh anak buah kita yang ada di perusahaan Dinata untuk menyabotase proyek kerjasama kita dengan perusahaan Dinata" perintah Arsen kepada Nino.


"......"


"Lakukan dengan rapi seperti biasanya, jangan sampai meninggalkan jejak" ucap Arsen sambil mencengkram kemudinya. Setelah mengatakan seperti itu Arsen langsung menutup panggilannya secara sepihak.


Arsen sengaja melakukan itu, karena dengan begitu dia akan mempunyai alasan untuk menekan perusahaan Dinata.


Arsen tak akan membiarkan perusahaan Dinata bangkrut begitu saja, Arsen akan menjatuhkannya secara perlahan. Hingga mereka sendiri yang akan datang ke Alisya untuk meminta tolong.


"Kamu mau mampir kemana dulu baby" tanya Arsen ketika Alisya sudah masuk ke dalam mobilnya. Alisya duduk di samping kursi kemudi.


"Belanja boleh?" tanya Alisya dengan wajah di buat seimut mungkin. Alisya ingin berbelanja untuk mengembalikan moodnya.


"Boleh, tapi tidak geratis baby" sahut Arsen dengan wajah piciknya


"Dua ronde cukup" tawar Alisya yang memang tahu dengan akal bulus Arsen. Arsen mengetuk-ngetuk dagunya menimang tawaran Alisya.


"Tiga ronde tak bisa kurang" ceplos Arsen yang mebuat Alisya jengkel.


"Ngggak mau, mending kita pulang saja" rajuk Alisya membuang wajahnya ke samping. Arsen tertawa terbahak melihat istrinya yang merajuk.


"Papa belisik" ketus Reva dari jok belakang. Dia merasa terganggu dengan tawa sang papa.


Arsen menghentikan tawanya. Arsen dan Alisya menoleh ke belakang secara bersamaan.


"Reva sudah bangun sayang" ucap Alisya sambil mengulurkan tangannya menyentuh selimut Reva.


"Leva macih mengantuk mama" lirih Reva sambil membalik badannya membelakangi mereka.


"Mama mau ke mall...Reva mau ikut tidak sayang" tanya Arsen lembut seraya mengusap kepala Reva.


"Ikut papa, Leva cudah nda nagntuk lagi" jawab Reva antusias langsung bangkit dari tidurnya. Alisya memutar bola matanya jengah, Mana mungkin putrinya itu akan melewatkan untuk berbelanja. Jangan lupakan otak kecilnya yang matre itu.


"Kalau begitu duduk yang tenang sayang, papa akan menjalankan mobilnya" pinta Arsen.


"Baik papa" sahut Reva dengan semangat seolah melupakan matanya yang mengantuk.


"Ingat baby, ini tidak geratis...dua ronde sesuai janjimu baby" bisik Arsen di telinga Alisya. Alisya merinding merasakan hembusan nafas Arsen yang menerpa telinganya. Kalau sudah begini Alisya hanya menghela nafas pasrah.


Arsen mengemudikan mobil nya membelah jalana ibu kota, sore ini langit terlihat begitu cerah secerah wajah Arsen yang akan menggempur istrinya nanti malam😂


Bersambung


Happy reading guys🙏