Baby Girl

Baby Girl
BAB 36



Biar aku yang membelinya, kau tunggu di sini saja sambil mengawasi mereka" ucapnya kepada Alisya.


Arsen berjalan menjauh dari Alisya, dia menuju stand minuman yang tidak jauh dari tempat Alisya duduk.


Sedangkan di sudut lain terlihat seseorang sedang mengamati Alisya yang sedang duduk sendiri dengan mata yang terus menatap ke arah Reva dan juga Reynand.


"Bukankah itu Alisya" tanya orang itu.


"Mana" tanya salah satu teman nya.


"Itu lho Rik, wanita yang sedang duduk di depan play ground" ucap Andra.


Ya orang yang melihat Alisya adalah Erik dan teman nya. Mereka sedang melakukan triple date bersama pasangan nya masing-masing, Erik sengaja membawa Viona bersama nya, supaya dia bisa mengambil hati Viona.


"Mending kita samperin dia aja Rik" usul Irfan kepada Erik.


Mereka sengaja meninggalkan pasangan mereka yang sedang perawatan di salon yang ada di mall tersebut, mereka memilih berjalan jalan sambil melihat beberapa toko untuk membeli barang yang mereka cari. Karena mereka terlalu bosan kalau di suruh berdiam diri sambil menunggu para wanita menyelesaikan perawatan nya.


Erik menatap wajah Alisya dari kejauhan, ia merasa tak asing dengan wajah itu, Erik seperti pernah ketemu dengan nya.


"Kenpaa kamu malah bengong Rik" tanya Andra yang melihat Erik terdiam sambil menatap ke arah Alisya yang sedang duduk.


"Sepertinya aku pernah bertemu dengan wanita itu, tapi dimana" sahut Erik lalu bertanya pada dirinya sendiri.


"Kamu bisa mengingat ingat itu nanti Rik, lebih baik kamu segera menghampiri Alisya." ucap Irfan.


Mereka akhirnya mengikuti saran Irfan untuk menghampiri Alisya yang sedang duduk. Dengan langkah perlahan mereka mendekati Alisya, mereka sengaja memelankan langkah nya supaya Alisya tidak melarikan diri ketika melihat mereka bertiga akan menghampirinya.


"Hai Alisya, kita bertemu lagi" sapa Andra sambil menepuk bahu Alisya. Alisya merasa ada yang menepuk bahunya ia segera membalikan diri.


Deg.


Tubuh Alisya langsung menegang ketika melihat Erik berdiri di hadapan nya. Ia tidak takut kalau Erik mengenali dirinya, ia hanya takut kalau Erik melihat Reva yang sedang bermain di arena bermain.


"Maaf, kalian siapa" tanya Alisya yang sudah bisa menguasai keterkejutan nya, ia melirik Reva dengan menggunakan ekor matanya, bersyukur putrinya sedang main di dalam kotak rumah-rumahan, sehingga tidak bisa terlihat oleh mereka.


"Gak usah sok tidak tahu kami, kau bisa melupakan mereka, tapi kau tak bisa melupakan rasa yang sudah aku berikan ke kamu dulu" ucap Erik dengan kata-kata pedas nya.


Melihat Erik sama saja membuka luka lama Alisya, hati Alisya terasa terhimpit batu yang begitu besar, sehingga menyebabkan Alisya sesak nafas.


"Memang nya anda siapa, bahkan tahu nama kalian saja tidak" ucap Alisya yang masih tenang.


"Dasar gadis sialan, jangan kau kira setelah kau merubah penampilanmu kami tidak bisa mengenalimu gadis miskin" Sahut Erik yang masih setia mengeluarkan kata-kata pedasnya.


"Terserah kalian saja" ketus Alisya kemudian membalikan badan nya bersiap pergi dari hadapan mereka.


Namun belum sempat melangkahkan kaki nya tangan Alisya sudah di tarik oleh Erik. Sehingga membuat tubuh Alisya berbalik menatap ke arah mereka lagi.


"Ingat baik-baik tuan! Saya benar-benar tidak pernah mengenal pria bajingan seperti kalian, terutama kau" ucap Alisya dengan penuh penekanan smabil menunjuk kearah muka mereka dengan menggunakan jari telunjuk nya.


"Dasar wanita jal*ng" sentak Erik yang sudah mengangkat tangan nya. Namun tangan Erik keburu di tahan oleh seseorang.


"Jangan sedikit pun kau bermain tangan dengan wanitaku, jika kau berani menyentuhnya maka aku tak segan mematahkan tanganmu ini" ancam Arsen dengan suara bariton nya sambil menghempaskan tangan Erik.


"Oh ternyata pria sampah ini yang ada di belakang gadis miskin itu, aku curiga kalau dulu sebenarnya kau hamil dengan nya, tapi karena aku lebih kaya dari dia makanya kau meminta pertanggung jawaban ke padaku, untung nya aku tidak bodoh percaya begitu saja dengan tipu muslihatmu" hina Erik kepada Arsen dan juga Alisya.


Erik berfikiran kalau Arsen hanya pria dari kalangan menengah ke bawah, pasal nya Arsen memang tidak mengganti pakaian lagi, dia masih memakai kaos putih polos biasa dan celana jeans, bahkan dia hanya memakai sandal slop saja.Arsen tak terlalu suka dengan barang branded, beda cerita kalau mobil, berapapun akan Arsen beli meskioun harganya mahal, Erik mengira semua yang melekat di tubuh Arsen itu barang KW.


Alisya sudah mengepalkan kedua tangan nya menahan gejolak amarah yang ada di hatinya.


"Bukan kah kau mengatai dirimu sendiri tuan, bahkan kalian lebih sampah dari yang kau ucapkan" ucap Alisya dengan tatapan datar dan tajam seolah menusuk tepat di jantung mereka.


"Sudah jangan di layani baby, jangan kau buang energimu hanya untuk melayani manusia tak berguna seperti dia" ucap Arsen lembut sambil mengelus punggung Alisya.


Andra dan Irfan tercengang melihat perubahan pada diri Arsen ketika berbicara dengan Alisya, dia begitu lembut dan penuh kasih sayang, berbeda ketika berbicara dengan Erik, tatapan mata dia begitu tajam yang mampu mengintimidasi lawan nya.


"Pergi dari sini, atau aku akan menyuruh orangku untuk melempar kalian dari mall ini" ancam Arsen.


Erik dan yang lain nya menoleh ke samping, dia berpikir kalau ucapan Arsen hanya gertakan saja, namun ternyata mereka salah. Erik melihat dua orang berbadan kekar dengan memakai setelan baju serba hitam yang terlihat begitu menakutkan.


Mereka bertiga memang bisa bela diri, namun mereka ragu untuk melawan kedua orang berbadan kekar itu yang terlihat bukan orang biasa, mereka terlihat orang yang terlatih dan memang biasa di tugaskan untuk menjaga seseorang.


Mereka bertiga akhirnya memilih pergi meninggalkan Alisya dan Arsen, mereka tidak mau mati konyol karena melawan bodyguard Alisya.


"Sebenarnya siapa pria itu, dia telihat bukan orang sembarangan" tanya Irfan.


"Aku juga tidak tahu, lagian kamu kenapa langsung menyerang Alisya sih Rik" kesal Andra.


"Iya tau, kita kan mau mencari tau tentang anak yang di kandung Alisya dulu, seharusnya kau bisa mengontrol emosimu Rik" sahut Irfan.


"Berisik" bentak Erik kepada mereka, Eri merasa harga dirinya di injak-sama Arsen dan Alisya.


Sedangkan Arsen masih menenagkan Alisya yang berada di pelukan nya.


Hati Alisya begitu sakit atas hinaan yang di lontarkan Erik kepadanya.


Alisya tidak menangis, namun ia butuh pelukan untuk menguatkan dirinya.


"Sudah ya, lebih baik kita ajak anak-anak untuk pergi dari sini" sarah Arsen setelah melepaskan pelukan nya. Alisya mengikuti saran Arsen, ia tak mau kalau Erik melihat keberadaan Reva, Alisya takut akan membahayakan Reva, mengingat Erik yang masih membenci dirinya.


Bersambung


Happy reading guys🙏