
"Reva, ayo kita pulang" ajak Max, membuat Reva yang sedang bermain dengan kedua anak harimau pun menoleh.
"No om, Reva ngga mau pulang kalau Om Max tidak ijinkan Reva bawa mereka" tolak Reva.
Max menghela nafas berat.
"Nanti kalau papa kamu marah bagaimana" ujar Max.
"Tidak, nanti biar Reva yang bilang sama papa buat melihara mereka, nanti Reva juga minta papa untuk membuatkan tempat tidur untuk mereka, seperti Molly kucingnya mama juga punya tempat tidur sendiri" ucap Reva.
"Astaga, ini macan woyy bukan kucing oren, bisa-bisanya di samakan sama Molly" batin Max menjerit frustasi.
"Kalau begitu bawa saja yang Snow, yang Dexter tinggal" ucap Max pasrah, di larang pun percuma.
Maju kena mundur kena, begitulah posisi Max sekarang, bawa Snow sudah pasti kena marah sama Arsen, karena mereka pergi ke hutan tanpa pamit dan pulang-pulang malah bawa harimau.
Kalau tidak di bolehkan bawa harimau, nona kecilnya itu tidak mau pulang, ujung-ujungnya Arsen akan mencarinya dan memarahinya juga.
"Tapi kalau Reva cuma bawa Snow, nanti kasihan Dexter tidak ada temannya om" ucap Reva mencoba bernegosiasi.
"Kan dia punya orang tua Reva sayang" ucap Max gemes.
"Tetap saja nanti papa mamanya Dexter sibuk, nanti Dexter tidak ada teman main. seperti papa Reva yang selalu bekerja" desak Reva.
"Ya tuhan, tolong hambamu sekali ini saja. Memangnya harimau sibuk apa, ya kali dia mau bekerja" batin Max frustasi.
"Satu atau tidak sama sekali" tegas Max yang sudah gemas.
Ternyata bernegosiasi dengan nona kecilnya lebih sulit, ketimbang menghadapi musuhnya.
"Ok deh, dari pada Reva nda dapat dua-duanya, satu dulu nda apa-apa, nanti Reva rayu om Max lagi, hihihihi" gumam Reva supaya Max tidak dengar.
"Iya Om, Reva bawa Snow saja" ucap Reva.
"Yasudah cepat, nanti kalau kesorean kita di cari papa kamu" aja Max.
Max mengalihkan pandangannya ke Emma yang sedang melamun.
"Kamu tolong gendong Reva ya, saya mau bawa anak harimau itu" ucap Amx menyadarkan lamunan.
"Eh, baik tuan" sahut Emma kaget.
Ema berdiri dari duduknya, lalu mendekati Reva.
"Ayo sayang, onty gendong" ucap Emma.
"Memangnya onty kuat gendong Reva, badan Reva berat onty" sahut Reva yang sedikit ragu, karena melihat postur tubuh Emma yang kecil.
"Jangan remehkan kekuatan onty sayang" ucap Emma dengan senyum manis.
Deg
"Senyum nya manis sekali" batin Max, Max segera menepisnya.
Mereka pun akhirnya pulang dengan membawa anak harimau, Reva duduk di belakang dengan Snow.
Sedangkan Emma duduk di depan di sebelah kursi kemudi. Emma dan Max hanya diam saja tak ada obrolan sama sekali.
Di mobil itu hanya ada suara celotehan Reva yang sedang mengajak Snow mengobrol.
Setelah memakan waktu yang cukup panjang. akhirnya mereja sampai di mansion Arsen.
"Kamu tunggu di mobil saja, saya akan masuk sebentar" ucap Max.
Emma mengangguk patuh seolah terhipnotis dengan wajah tampan Max.
Max dan Reva turun lalu masuk ke dalam di ikuti oleh Snow di belakangnya.
"Selamat sore semuanya, Reva cantik pulang" teriak Reva dengan riangnya masuk ke rumah.
"Reva berisik, ini di rumah bukan di hutan" tegur Reynand.
"Suka-suka Reva, ini kan rumah na Reva. Wlee.. " ejek Reva seraya menjulurkan lidahnya.
"Kalian dari mana saja?, kenapa jam segini baru pulang" sela Arsen menghentikan perdebatan mereka, dia menatap tajam ke arah Reva dan juga Max.
"Kenapa tidak bisa jawab" desak Arsen.
"Anu tuan, kita dari hutan" jawab Max sambil menunduk.
"Apa kamu bilang? jadi kamu bohong sama papa?, jawab Reva Davidson" tegas Arsen.
"Maaf pa" cicit Reva.
Arsen tak habis pikir dengan apa yang di lakukan oleh putri serta bodyguardnya itu, bisa-bisa mereka berani membohonginya.
"Dan kamu Max! kenapa kamu tidak ijin dulu kepada saya kalau membawa Reva ke hutan" ucap Arsen dengan tatapan marah.
"Karena tuan pasti tak mengijinkan kami ke hutan" jawab Max.
Max tak mungkin berkata jujur kalau dirinya di paksa bohong oleh nona kecilnya itu. Max tak tega kalau nona kecilnya kena hukuman dari tuannya.
"Terus kalian bisa seenaknya membohongi kami, begitu hah? ucap Arsen sedikit meninggikan suaranya.
Alisya mengelus punggung suaminya untuk meredakan emosinya.
"Sudah Ar, kasihan putrimu itu" tegur Reagan yang merasa kasihan melihat wajah ketakutan Reva.
Arsen menatap wajah putrinya yang menunduk sambil tanganya meremat ujung bajunya, ia mengambil nafas dalam, lalu menghembuskannya lewat mulut.
"Kali ini papa maafkan, tapi tidak untuk lain kali, papa paling tidak suka putri papa menjadi tukang bohong" ucap Arsen ketika sudah bisa menetralkan emosinya.
"Terima kasih papa, Reva janji tidak akan berbohong lagi" ucap Reva sambil mengangkat wajahnya menatap papanya.
Reva tidak menangis sedikitpun, mungkin gadis kecil itu tahu kalau dirinya salah, dan harus berani menanggung konsekuensinya.
"Untung kalian pulang dengan selamat, kalau tidak bagaimana, papa mau nyari kamu kemana hmm" ucap Arsen seraya menarik lengan putrinya, akan tetapi Reva tetap mempertahankan posisinya.
Arsen mengeryitkan dahinya, menatap mereka berdua.
"Apa yang kalian sembunyikan di belakang tubuh kalian?" tanya Arsen.
"Anu pa, Reva bawa Snow" jawab Reva gugup.
"Kucing? atau kelinci? apa kamu membawa dia dari hutan hmm" tanya Arsen penasaran.
"Bukan pa, tapi dia anak harimau" lirihnya.
"Apa?" pekik Mereka kompak seraya membulatkan matanya
Semua orang yang ada di ruang tamu kaget mendengar ucapan Reva yang enteng tanpa beban, sedang kan Max menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Arsen langsung menarik tubuh putrinya, dia takut kalao anak harimau itu mengigit Reva.
Terlihatlah anak harimau yang begitu imutnya.
"Sayang, pegang Rachel sama Ravin cepat, jangan sampai mereka berdua mendekati harimau itu" titah Arsen panik. sedangkan Revan sudah berada di pelukan omanya.
Alisya pun dengan sigap langsung memeluk kedua buah hatinya.
"Kau gila Max, kenapa kamu membawa anak harimau itu, mau mati kamu hah" ucap Arsen murka.
"Nona Reva yang memaksa tuan, kalau tidak di ijinkan bawa anak harimau itu, dia tidak mau pulang" ucap Max membela diri.
"Papa jangan marahin om Max, Reva yang menyuruh om Max bawa Snow ke rumah," ucap Reva membela Max.
"Bawa dia kembali ke hutan Max," tegas Arsen.
"Jangan papa, biarkan Snow di sini buat teman Molly, kalau papa takut...nanti biar Snow tidur di kamar Reva saja" rengek Reva.
"Astaga sayang, dia harimau bukan kucing, nanti yang ada Molly nya di makan sama harimau itu" ucap Arsen frustasi.
Ketika semua orang sedang asik berdebat. tanpa sepengetahuan mereka Reynand diam-diam mendekati Snow.
Bersambung