
"Bagaimana Rik? apa Reva sudah sadar" tanya Arsen ketika sudah berada di rumah sakit, sedangkan Alisya melihat putrinya di balik kaca bersama Gavin.
"Belum Ar, kata dokter lihat sampai nanti malam, tunggu Reva sampai melewati masa kritisnya" jawab Erik.
Arsen menepuk bahu Erik pelan, ia tahu Erik juga nerasa terpukul dengan kejadian ini, lihat dari kantung matanya Erik pasti tidak tidur semalaman.
"Sebenarnya apa yang terjadi Ar, kenapa dia bisa kecelakaan seperti ini" tanya Erik, ia ini waktu yang tepat untuk membahas masalah tersebut.
arsen mengajak Erik duduk di kursi tunggu, Arsen menghela nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Sebelum akhirnya berbicara.
"Reva tahu kalau dia bukan anak kandungku Rik, aku juga tidak tahu dia tahu dari siapa"
"Pada waktu itu dia pulang kerumah dalam keadaan sudah tak baik-baik saja, dia menanyakan jati dirinya, dan akhirnya Alisya berkata yang sejujurnya, Reva merasa kecewa karena merasa di bohongi, lalu dia pergi dari rumah, dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia menerobos lampu merah, hingga akhirnya mobilnya menabrak pembatas jalan lalu terguling" ucap Arsen menceritakan semuanya.
Erik memejamkan matanya lalu membukanya kembali, dia sangat kecewa pada dirinya sendiri, karena dia lah akar dari semua permasalahan ini terjadi.
"Ini semua salahku Ar, andai dulu aku tidak melakukan itu kepada Alisya, pasti tidak akan seperti ini" ucap Erik dengan nada penuh penyesalan.
"Kalau kau tidak melakukan itu kepada Alisya tentu tidak akan ada Reva di dunia ini Rik. Semua sudah berlalu, sekarang yang terpenting kita harus meyakinkan Reva kalau kita sangat menyayanginya" kata Arsen.
Erik menganggukkan kepala mengerti.
"Sebenarnya siapa yang sudah mengatakan ini ke Reva Ar?" tanya Erik.
"Aku belum menyelediki itu Rik, yang di pikiranku saat ini hanya kesembuhan Reva." sahut Arsen.
"Kau istirahatlah dulu, jangan sampai kau juga ikutan sakit, biar aku dan Alisya yang menjaganya di sini" lanjut Arsen.
"Kalau begitu aku akan pulang terlebih dahulu, nanti kalau Reva sadar kau kabari aku segera" ucap Erik.
"Iya Rik," ucap Arsen sambil tersenyum tulus kepada Erik.
Sedangkan Alisya dan Gavin sejak tadi melihat Reva dari jendela, Aliysa tidak membawa masuk putranya, takut nanti putranya berisik dan akan menganggu Reva.
"Kak Leva kenapa mama?" tanya Gavin yang tak mengalihkan pandangannya dari kakaknya.
"Kak Reva sedang sakit sayang, Gavin doain kak Reva ya supaya cepat sembuh" ucap Alisya sambil mengelus kepala putranya.
"Siapa yang bikin kak Leva na Gavin sakit mama? Gavin halus pukul olang itu, kalena olang itu sudah belani sakitin kakakna Gavin" tanya Gavin dengan wajah marah.
Alisya bersyukur meskipun beda ayah anaknya tidak ada yang membenci putrinya itu, mereka sangat menyayangi Reva.
"Terima kasih sudah menyayangi kak Reva sayang" ucap Alisya.
"Kan Kak Leva kakak na Gavin mama, jadi Gavin halus sayang sama kak Leva, tapi Gavin nda like sama kak Lavin, dia suka ejek-ejek Gavin" kata Gavin.
Arsen menghampiri istri serta putranya itu. lalu mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh cinta.
*
*
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 15jam, akhirnya pesawat Reynand tiba di tanah air.
Setibanya di bandara Rey tak langsung pulang ke rumahnya, ia memilih langsung ke rumah sakit menjenguk sahabatnya.
"Aunty, om..." Panggil Reynand setelah sampai di rumah sakit.
Arsen dan Alisya sama-sama menoleh ke asal suara tersebut.
"Rey, kamu di sini, bukankah kamu sedang ada di jerman" tanya Arsen heran.
"Mommy memberi tahu Rey, katanya Reva kecelakaan, jadi Rey langsung pulang kemari" sahut Reynand dengan wajah menunjukkan kekhawatiran.
"Masuklah, pasti kau ingin ketemu Reva bukan," ucap Arsen.
Reynand tersenyum dengan mata berkaca-kaca, akhirnya ia bisa ketemu sahabatnya.
"Kak Ley nanti tolong bilang sama kak Leva ya, kalau Gavin ada sini jagain kak Leva, kalena Gavin nda boleh masuk ke dalam sama mama, jadi Gavin nitip sama kak Ley aja" kata Gavin, bocah kecil itu sangat berharap kalau kakaknya akan segera bangun.
"Iya sayang" sahut Rey dengan mengelus kepala Gavin.
Reyanand di pakaikan baju steril terlebih dahulu, setelah itu ia masuk ke ruangan Reva. lalu dia duduk di kursi sambil menatap wajah Reva yang terlelap.
"Selamat pagi tuan putri, bagun yuk, sampai kapan kamu akan menjadi putri tidur seperti ini, aku sudah bela-belain pulang dari jerman untuk ketemu kamu, tapi kamu malah tak menyambutku. Bangunlah atau aku akan marah sama kamu"
"Sebenarnya apa yang terjadi sampai membuatmu begini, apa Brian menyakitimu? apa di berselingkuh? kalau iya.. biar nanti aku yang akan menghajarnya, karena dia sudah menyakiti orang yang aku sayangi." ucap Rey.
Reynand berbicara sendiri sambil menundukkan kepalanya karena menahan tangisnya.
Tanpa Rey sadari sudut mata Reva mengeluarkan air matanya, seolah merespon ucapan Reynand.
Reva pernah berkata sama Rey, kalau dia mau menjadi mama pengganti untuk Snow, karena dia sudah memisahkan Snow dengan orang tuanya.
Reynand mengangkat kepalanya, ia melihat sudut mata Reva mengeluarkan air matanya.
Reynand mengusapnya dengan ibu jarinya.
"Kenapa kamu menangis, apa rasanya sangat sakit? kalau begitu bangunlah, kamu bisa mebaginya denganku" ucap Reynand.
Tak lama tubuh Reva mengalami kejang.
Reynand panik langsung saja keluar kamar. berteriak memanggil dokter.
"Dokter tolong dokter..... " teriak Reynand.
Arsen dan Alisya langsung berdiri mengahampiri Reynand.
"Ada apa Rey, kenapa kamu berteriak" tanya Arsen panik.
"Panggil dokter om, Reva kejang" panik Reynand.
Dokter dan perawat datang sambil berlari menuju ke ruangan Reva.
"Tolong keluarlah, saya akan memriksa pasien" perintah dokter.
Reynand dan Arsen menurut langsung keluar dari kamar Reva, mereka membiarkan dokter memeriksa keadaan Reva.
"Ya Allah, selamatkan nyawa anak hamba" doa Alisya dalam hati.
*
*
Sedangkan di tempat lain, Rachel dan Ravin sengaja bolos sekolah, ia minta ijin kepada pihak sekolah untuk menjeguk kakanya.
Sebelum ke rumah sakit, mereka memutuskan untuk pergi ke restoran terlebih dahulu, untuk membelikan orang tuanya makanan.
Rachel dan Ravin berjalan memasuki restoran.
"Kau pesanlah Vin, aku tunggu di sini" ucap Rachel seraya duduk si meja pengunjung.
"Baiklah" sahut Ravin.
Rachel mengedarkan pandangannya ke setiap sudut restoran.
Tanpa sengaja ia melihat seseorang yang tak asing di matanya, bahkan dia sangat mengenali orang tersebut.
Rachel menajamkan penglihatannya ke arah orang tersebut.
Ternyata orang itu Brian dan Listy yang sedang makan, mereka memutuskan makan di luar sekalian menemani Listy belanja.
Rachel mengealkan tanganya kuat, hingga buku tangannya memutih, ia melihat Brian dengan sorot mata tajam penuh amarah.
Bersambung
Jangan lupa
Like
Koment
Vote
Gift.
Happy reading guys🙏