Baby Girl

Baby Girl
BAB 61



Sedangkan David dan Aldrik keluar dari restoran Alisya dengan hati yang berkecamuk, mereka merasa tak terima Alisya berani merendahkan dirinya. Memang ia pikir Alisya siapa berani menghina keluarga Dinata.


Aldrik dan David berada di dalam mobil


"Sepertinya perempuan itu memang benar pemilik restoran itu Dad, Daddy bisa melihat gaya dan penampilannya. Tidak mungkin kalau seorang pelayan dia seberani itu dengan kita" ucap David sambil fokus menyetir.


"Siapapun dia, yang jelas perempuan itu sudah berani merendahkan kita." sahut Aldrik dengan mengetatkan rahangnya.


"Terus apa yang akan kita lakukan Dad" tanya David.


"Biarkan saja, yang penting kita sudah mendapatkan tanda tanganya. Jika dia berani berulah baru kita bertindak" jawab Aldrik


Tujuan Aldrik menemui Alisya hanya untuk memperingati sekaligus meminta Alisya untuk menandatangi surat perjanjian itu.


Masalah cek yang di sobek Alisya, Aldrik tak ambil pusing....dia malah senang karena uangnya tak jadi berkurang untuk memberi kompensasi pada Alisya.


Aldrik berpikir dia sudah mempunyai senjata jika sewaktu waktu Alisya berani mengingkari janjinya, Aldrik tinggal menyeret Alisya ke jalur hukum dengan menggunakan surat perjanjian yang tadi sudah di tangani oleh kedua belah pihak itu.


Sedangkan di mall Reva merengek kepada mamanya supaya mengijinkan untuk membeli mainan.


"Mama Leva mau beli mainan" rengek Reva sambil menggandeng lengan mamanya.


"Nggak boleh, Reva sudah mempunyai banyak mainan di rumah sayang" larang Alisya. Ia tak menyukai putrinya membeli mainan terus menerus.


"Cuma dua mama nda lebih, please" rayu Reva sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya. Alisya menghela nafas sabar. Putrinya tak akan berhenti merayu nya sebelum mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Biarin baby, kan cuma dua" ceplos Arsen yang mendapat pelototan dari Alisya. Arsen langsung diam mendapat pelototan dari istrinya. ia tak berani berbicara lagi, bisa gagal rencana nanti malam membuat Arsen junior.


"Satu, tidak lebih" tegas Alisya tak mau di bantah. Reva mencebik kesal.


"Mama ini pelit cekali" dumal Reva.


Arsen menggendong putrinya sambil berbisik."Jangan ngambek, nanti papa akan belikan yang banyak tapi jangan bilang sama mama" bisik Arsen di telinga Reva. Reva pun mengangguk...wajahnya langsung berubah cerah setelah mendengar bisikan papa nya.


Alisya memicingkan matanya sambil melihat mereka berdua berbisik-bisik, sudah pasti keduanya sedang merencanakan sesuatu.


"Awas aja kalau papa diam-diam membelikan nya mainan, siap-siap saja papa tidur di luar" ancam Alisya.


Gluk


Arsen menelan ludahnya kasar mendengar ancaman istrinya, mana bisa dia tidur sendiri tanpa memeluk istrinya itu.


"Maaf girl, kali ini papa tidak bisa membantumu...Ancaman mama sangat menakutkan" batin Arsen.


"Iya mam" jawab Arsen patuh.


Mereka berjalan menuju ke toko mainan dengan Reva yang masih berada di gendongan Arsen.


Alisya memilih membelikan mainan untuk Reva terlebih dahulu, supaya putrinya itu berhenti merengek.


Reva memilih mainan barbie lengkap dengan baju gantinya. Setelah itu baru mereka pindah ke toko baju sesuai permintaan Alisya.


"Mama Leva mau beli es klim" pinta Reva dengan puppy eyes nya.


"Ayo beli sama papa, biarkan mama mu belanja dulu" ajak Arsen sebelum Alisya marah dengan rengekan putrinya. Mana mood istrinya belum kembali setelah pertemuannya tadi.


Ingin rasanya Arsen menembak kepala kedua tua bangka itu. Mereka yang berulah dirinya yang kena getahnya.


Ketika Alisya sedang sibuk memilih milih baju dari sudut lain ada seorang pria yang sedang memperhatikannya. Orang itu adalah Erik ia sedang mengantar Viona berbelanja di toko yang sama dengan Alisya.


"Dia sekarang cantik sekali" gumam Erik sambil terus memperhatikan Alisya. Ia terpesona dengan kecantikannya.



Usai membayar Alisya keluar dari toko dengan menenteng belanjaannya.


Sedangkan di dalam toko Erik meminta ijin ke Viona kalau dirinya mau ke toilet. Viona pun mengijinkannya.


Erik langsung keluar dari toko mengejar Alisya. Erik melihat Alisya yang sedang clingukan seperti mencari seseorang, Erik pun langsung menghampirinya.


"Al..." panggil Erik seraya memegang bahu Alisya dari belakang. Alisya merasa ada yang menyentuh bahunya langsung saja berbalik melihat orang tersebut.


Alisya langsung merubah ekpresi wajahnya yang tadinya senyum berubah jadi dingin. Alisya pikir orang yang berani menyentuh bahunya itu suaminya.


"Maaf, aku buru-buru" ucap Alisya langsung pergi meninggalkan Erik dengan langkah tergesa. Erik mengejar Alisya dari belakang.


"Al, kita perlu bicara" pinta Erik setelah berhasil menyamakan langkahnya dengan Alisya.


"Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan" tanya Alisya dengan sorot mata mengintimidasi. Setelah menghentikan langkahnya.


"Dimana anak yang kau kandung dulu" tanya Erik langsung tanpa basa basi, ia takut Alisya keburu pergi.


"Sudah mati seperti permintaanmu dulu" jawab Alisya dengan nada dingin.


"Kamu bohong Al" kekeh Erik. Alisya sambil mengedarkan pandangannya mencari keberadaan suaminya.


"Terserah kau saja tuan" tuturnya, setelah itu Alisya pergi meninggalkan Erik, lalu menghampiri keberadaan suaminya.


"Sayang ayo, aku sudah selesai belanja" ajak Viona mengangetkan Erik yang sedang menatap Alisya dari belakang, beruntung Alisya sudah menjauh jadi Viona tak mencurigainya.


"Kau sedang melihat apa" tanya Viona seraya mengikuti arah pandang Erik, tapi sayang Erik langsung merangkul dirinya mengajak pulang.


"Kita pulang sekarang, kita sudah di tunggu mommy untuk makan malam" ajak Erik, Viona mengangguk kecil. Tapi Viona merasa ada yang aneh dengan sikap Erik.....tapi Viona mencoba menepis pemikiran itu.


......................


"Honey sudah belum mainnya" tanya Alisya ketika melihat suaminya sedang bermain timezone bersama putrinya.


"Sebental mama, Leva masih mau main" jawab Reva tanpa menatap mamanya, ia masih fokus bermain balap mobil bersama papanya.


Alisya pun memilih duduk di tempat tunggu. Cukup lama Alisya menunggu mereka bermain. Hingga membuat Alisya cemberut.


"Sudah malam girl, kita harus pulang" ucap Arsen memberi pengertian. Pasalnya Reva masih belum mau di ajak pulang.


"Tapi ini lagi selu papa" protes Reva.


"Nanti hari libur kita main lagi ajak Reynand" bujuk Arsen dengan membawa bawa nama Reynand, karena biasanya putrinya akan luluh kalau dengar nama Reynand.


"Ok, sekalang kita pulang tapi papa halus janji ajak Leynand" sahut Reva. Bener bukan apa yang ada di pikiran Arsen, kalau putrinya itu akan luluh kalau sudah mendengar nama Reynand.


"Siap tuan putri, sekarang kita pulang dulu kasihan mama sudah capek" janji Arsen seraya menggendong Reva menghampiri istrinya yang sedang duduk dengan wajah bosannya.


" Ayo kita pulang baby" ajak Arsen seraya mengusap puncak kepala Alisya, Alisya mengangkat wajahnya lalu mengangguk.


Alisya berdiri dari tempat duduknya, Arsen langsung merangkul pinggang istrinya dengan lengan yang satunya. Arsen seolah ingin menunjukkan ke semua pengunjung mall kalau Alisya adalah miliknya.


Bersambung


Selamat malam mingguan guys🙏