
"Mana adekna Leva doktel" tanya Reva yang dari tadi di cuekin.
"Sini sayang, ini tiga titik ini adiknya Reva" ucap Dokter lembut seraya menunjukkan gambar di monitor.
Reva sama Reynand yang penasaran pun langsung maju mendekati layar monitor.
"ini adikna Leva dok" Tanya Reva menunjuk salah satu titik yang di tunjuk dokter.
"Iya sayang" jawab dokter lembut. membuat Reva dan Reynand memicingkan matanya.
"Doktel jangan becanda ya, mana ada adik bayi gambalna begitu, mana tangan, kaki,mata ,nda ada" protes Reynand.
"Iya benal yang di katakan Ley, kenapa adikna Leva cuma titik nda ada mulutna" Reva ikut menimpali ucapan Reynand.
Arsen tak memperdulikan pertanyaan putrinya, dia masih menangis tersedu sedu di pelukan Alisya. Alisya yang tadinya ingin menangis malah tidak jadi karena sudah melihat suaminya menangis duluan.
"Nanti sayang, tunggu beberapa bulan lagi baru akan berbentuk meskipun belum terlihat sempurna" ucap Dokter mereka berdua mengangguk seolah mengerti.
Doktee bernafas lega, dia senang kalau melihat ada anak yang kritis, tapi terkadang juga bingunh menjawab pertanyaan nya yang di luar nalar.
"Honey" panggil Alisya melerai pelukannya. Dia bingung kenapa suaminya jadi cengeng.
"Kamu ini cengeng sekali" ledek Alisya seraya mengusap air mata suaminya yang masih mengalir.
"Hiks, aku tak menyangka baby aku akan mempunyai anak tiga sekaligus, hiks hiks" ucap Arsen masih menangis sesegukan.
"Adikna Leva tiga pa" tanya Reva yang mendengar ucapan papanya.
"Iya sayang tiga" jawab Arsen, Terlihat Reva menghitung jarinya sampai angka tiga.
"Wow, adikna Leva banyak cekali Ley, nanti Leva kasih ke Ley satu ya" ucap Reva dengan tatapan berbinar.
"Iya Leva, nanti kasih ke Ley satu, hihihihi" sahut Reynand senang, karena Renata mamanya belum hamil.
"Papa Leva cama Ley kelual dulu ya" pamit Reva karena bosan.
"Iya sayang, tapi di depan saja jangan jauh-jauh" jawab Arsen. Reva dan Reynand langsung lari ke luar dari ruangan dokter.
Alisya turun dari brankar dengan di bantu Arsen, mereka duduk berhadapan dengan dokter.
"Selamat nyonya sudah mengandung bayi triplet, tolong kurangi aktifitas yang berat, jangan terlalu lelah, dan jangan terlalu banyak fikiran, karena itu akan mempengaruhi kandungan nyonya, mengandung triplet juga lebih beresiko dan biasanya akan lebih sering mengalami morning sickness. Tapi tak masalah nyonya bisa mensiasatinya dengan memakan yang asam-asam atau membuat minuman rajikan jahe. Usahakan selalu memberi asupan yang cukup, dan perbanyak makan makanan yang bergizi." ucap dokter.
"Dan untuk suami usahakan mempunyai stock sabar yang berlebih dalam menghadapi ibu hamil, biasanya mood ibu hamil akan sering berubah ubah, karena di sebabkan oleh beberapa faktor seperti hormon, kurang tidur, lelah dll, usahakan ibu hamil dalam kondisi hati yang bahagia" lanjutnya.
"Apakah masih boleh berhubungan badan dok" tanya Arsen yang membuat wajah Alisya merona karena malu mendengar pertanyaan suaminya.
"Boleh saja asal hati-hati, tapi saya sarankan lebih baik jangan, karena biasanya trisemester pertama masih rawan keguguran" jawab dokter. Arsen mengangguk tanda mengerti.
Dokter memberikan foto hasil usg, dan memberikan beberapa obat seperti vitamin dan lainnya kepada Alisya.
Sedangkan di depan ruang dokter Reva bertemu dengan Rani dan Gilang yang sedang menunggu giliran untuk periksa kandungan, karena sekitar satu bulan lagi Rani akan melahirkan.
"Hei Reva, kamu lagi apa di sini" tanya Rani yang melihat Reva duduk berdua dengan Reynand. Rani pindah duduk di sisi Reva.
Reva menoleh lalu menjawab"Leva lagi ngantal mama peliksa adikna Leva onty" jawab Reva sambil mengelus perut buncit Rani, Reva tak lagi canggung karena sudah beberapa kali ketemu Rani.
"Reva mau punya adik ya" tanya Rani.
"Iya onty, adiknya Leva tiga...banyak kan" bukan Reva yang jawab tapi Reynand, karena Reva tengah asik mengelus perut Rani.
"Hah, tiga?" kaget Rani.
Reynand dengan memberanikan diri ikut mengelus perut buncit Rani yang terlihat begerak karena tendangan dari sang baby.
"Wow...pelut onty nya belgelak Leva" pekik Reynand yang baru pertama kali mengusap perut orang hamil.
"Iya Ley, adik bayina lagi main sepak bola di pelutna onty, hihihihi" seloroh Reva cekikikan, membuat Gilang gemas lalu menciumi kedua perusuh itu.
Tak lama Alisya dan Arsen keluar dari ruangan dokter, mereka berdua mencari keberadaan kedua perusuh itu.
"Sayang, ayo pulang" panggil Alisya setelah melihat keberadaan putrinya dan juga Reynand, dari kejauhan Alisya memberikan senyuman pada Rani, Rani pun membalas senyuman Alisya.
"Iya mama, onty" sahut mereka bersamaan.
"Dedek bayi, kak Leva dan kak Ley pulang dulu ya, dedek bayi janan nakal di pelut onty" pamit Reva sambil mencium perut Rani di ikuti Reynand, Rani begitu terharu melihatnya.
Rani bersyukur keponakan yang dulu tak di akui keluarganya kini tengah berbahagia dengan keluarga barunya. Bersyukur papa sambung Reva bisa menerima Reva dengan tulus.
Setelah itu Reva dan Reynand beranjak dari tempat duduk yang tadi mereka duduki di sebelah Rani.
*
*
*
Waktu menunjukkan pukul 17.00 sore, setelah pulang dari pemeriksaan Rani mampir kerumah orang tuanya. Sudah lama semenjak perdebatan yang kemarin Rani belum datang lagi ke rumah orang tuanya.
Terlihat keluarganya sudah berkumpul di rumah semua, Daddy dan juga kakak nya masih mengenakan baju kantor, tandanya mereka belum lama pulang dari kantor.
"Sore mom, dad, kak, oma, opa" sapa Rani kepada semuanya, dia mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan juga opa, omanya, setelah itu dia duduk di sisi mommy nya yang kosong di ikuti Gilang.
"Sedang bahas apa? Tumben masih sore sudah berkumpul di sini" tanya Rani basa basi.
"Mommy lagi mencari cara untuk bisa bertemu Alisya, karena tadi siang mommy ke restorannya tapi kata karyawannya Alisya tidak datang" jawab Siska.
"Ngapain mommy mencari Alisya" tanya Rani.
"Tentu saja untuk mempertanggung jawabkan perbuatan Erik dulu" jawab Siska percaya diri.
Rani tersenyum mengejek melihat kakak nya.
"Telat, Alisya sudah menikah dan dia sedang hamil sekarang" Ceplos Rani santai. Dia sengaja memberi tahu keluarganya tentang kehamilan Alisya, karena dia tidak ingin keluarganya mengusik kehidupan Alisya.
"Apa? Pekik mereka secara bersamaan.
"Jangan ngarang kamu Rani" Siska membantah ucapam Rani.
"Terserah, yang jelas tadi Rani ketemu dengan dia di dokter kandungan tempat Rani periksa" ucap Rani.
Erik terlihat menunduk, dia merasa sudah tidak ada kesempatan lagi untuk memiliki Alisya.
"Tidak usah sedih kak, bukankah ini yang kalian semua mau" sindir Rani.
"Tapi Alisya memiliki saham mayoritas di perusahaan kita Rani" ucap David.
"Terus masalahnya apa? Dia punya uang tentu saja bisa membelinya, jangan pernah menilai seseorang dari cover nya saja Dad. Roda itu berputar yang miskin tak selamanya miskin, begitu juga yang kaya" tutur Rani.
"Sudahlah Siska, biarkan saja Alisya lebih baik sekarang kamu urus pernikahan Viona dengan Erik" sela Aldrik. Dia sudah tidak mau ambil pusing lagi. Dia lebih memilih yang di depan mata dari pada harus mengejar Alisya yang belum pasti.
Bersambung