Baby Girl

Baby Girl
BAB 156



Tak ingin membuat Arsen semakin frustasi, akhirnya Max membawa nona mudanya pergi dari perusahaan Global Group dan membawanya pulang ke rumah.


Di dalam mobil


"Nanti om Max ajak Reva ke hutan ya om, tapi jangan bilang sama papa, kita diam-diam saja perginya" pinta Reva sambil mengutarakan ide konyolnya.


"Jangan nona, itu sangat berbahaya, nanti kalau ketahuan papa kamu, om Max bisa di gantung" tolak Max.


Bisa-bisanya gadis kecil itu mengajaknya bersekongkol, mending kalau tidak ketahuan, kalau ketahuan bisa-bisa dia di bombardir sama Arsen.


"Papa nda akan tahu kalau om Max nda ngomong" desak Reva masih kekeuh dengan kemauannya.


"Tapi kan hutannya jauh, nanti om Max bilang apa sama papa nona" tanya Max mulai terpengaruh.


Max berpikir ada benarnya juga yang di katakan Nona mudanya itu, tuan nya itu tidak akan tahu kalau dia tidak bilang. Apa lagi dia selama ini sudah mempercayakan Reva kepadanya.


"Kita bilang aja mau ke taman hiburan, seperti waktu itu Reva pergi sama om Nino, pasti papa nda akan curiga" usul Reva.


Max di buat melongo, gadis kecil itu menyuruhnya berbohong sama bosnya. Dan bosnya itu papanya sendiri.


"Om Max jangan diam saja, jawab dulu mau atau tidak" teriak Reva mengagetkan Max.


"Eh, iya nona, nanti om Max ajak ke hutan kalau kamu libur" sahut Max kaget.


"Coba bilang iya dari tadi, jadi kan Reva tidak perlu teriak-teriak" ucap Reva tersenyum puas.


Tak lama mobil yang mereka tumpangi tiba di depan rumah Arsen.


Terlihat Ravin dan Rachel berjalan ingin keluar dari rumah. Kebetulan pintu rumah terbuka, mungkin pelayan lupa menutup pintu.


Reva yang melihat adiknya ingin kabur pun membulatkan matanya.


"Cepat om, kita keluar dari mobil, kita harus tangkap mereka... jangan sampai mereka beddua kabur" perintah Reva.


"Baik nona" sahut Max cepat.


Ia pun bergegas keluar dari dalam mobil, sedangkan Reva berusaha keluar sendiri dari mobil tanpa bantuan Max.


"Hei, Rachel, Ravin kalian mau kemana? masuk ke rumah cepat" teriak Reva setelah keluar dari mobil.


Rachel sama Ravin yang mendengar teriakkan kakaknya pun langsung berbalik dan masuk ke dalam rumah.


Mereka yang tadinya berjalan kini berubah jadi merangkak, karena kalau berjalan pasti akan cepat tertangkap, apa lagi jalannya masih suka oleng.


Rachel dan Ravin merangkak cepat dengan menggunakan lututnya, mereka tak mau tertangkap oleh kakanya. Mereka merangkak dengan tertawa riang seperti sedang di ajak bermain kejar-kejaran.


"Jangan kabur kalian ya" omel Reva.


"Om Max tangkap Ravin, Reva mau tangkap Rachel" perintah Reva.


Max hanya mengangguk patuh.


Reva dan Max berjalan cepat masuk ke dalam rumah menyusul keduanya.


Terlihat Revan yang sedang anteng sambil memainkan mobil-mobilannya.


Sedangkan kedua perusuh itu sudah menghilang entah ngumpet dimana.


"Revan, lihat Rachel sama Ravin ndak" tanya Reva.


"Sana ata' "jawab Revan sambil menunjuk ke sofa.


"Oh.., mereka ada di balik sofa" tanya Reva merendahkan suaranya.


Revan pun mengangguk ngangguk, menandakan tebakan kakaknya itu benar.


"Om Max, mereka ada di balik sofa, cepat kita tangkap" teriak Reva lupa.


Sedangkan dua bocil yang mendengar teriakan kakaknya pun kembali merangkak dan melarikan diri.


"Jangan kabur kalian berdua, dasar perusuh" pekik Reva sambil berlari.


"Nona cepat, om Max akan mengikuti Ravin ke dapur. nona Reva kejar nona Rachel, sepertinya dia akan kabur ke taman samping rumah. " printah Max.


Memang di ruang tamu ada pintu yang menghubungkan ke taman, kalau siang Alisya jarang menutupnya, biasanya setelah buah hatinya tidur dia akan duduk di taman sambil melihat tanaman.


"Kak ada apa, kenapa teriak-teriak" tanya Alisya yang baru saja datang sambil membawa tiga botol susu di tangannya.


"Tangkap Rachel ma, tadi dia mau kabur keluar rumah, mama cegat sana cepat" jawab Reva.


Alisya langsung berlari kencang menhentikan langkah putri nakalnya itu.


Hap.


"Akhirnya ke tangkap juga kamu sama mama, bikin capek kak Reva saja" omel Reva lega.


Sedangkan bayi cantik itu berontak di gendongan mamanya.


"Bjklllssjknmm... " omel Rachel tak jelas.


"Diam sayang, nanti kamu jatuh....kamu kalau suka kabur-kaburan nanti mama kandangin mau kamu" peringatnya.


"Ya ampun, kenapa putriku tidak ada yang kalem, mereka pada barbar" batin Alisya frustasi.


"Wleeee...Sukurin ddi marahin mama" ejek Reva kepada adiknya.


"Ata'.... " teriak Rachel jengkel.


"Apa? tidak terima? turun ayo kalau mau gelut sama kak Reva" goda Reva membuat bayi yang belum genap dua tahun itu marah.


"Reva, jangan di godain mulu adiknya" lerai Alisya yang sudah kewalahan menangani Rachel yang terus berontak tak bisa diam di gendongannya.


"Nyonya, ini tuan Ravin nya taruh dimana" tanya Max yang baru saja datang sambil menggendong Ravin yang cengengesan.


"Masukin lemari aja om, biar nda bisa kabur" ceplos Reva tertawa kecil.


"Taruh saja di sebelah Revan Max" jawab Alisya.


Max pun langsung melangkah ke arah Revan, dan merebahkan tubuh gempal Ravin di bawah yang beralaskan karpet bulu.


"Nih kakak kasih susu, biar anteng kamu...awas aja berani kabur lagi" omel Reva sambil menyodorkan dot susu ke mulut Ravin.


Mereka langsung anteng, dan tak lama ketiga bayi itu pun terlelap.


"Akhirnya mereka tidur juga" ucap Reva lega,


...****************...


Malam hari tiba, semua keluarga Arsen sudah bersiap-siap, Belinda membawa Reagan dan juga istrinya supaya terlihat ramai.


Tak lupa mereka juga membawa beberapa kotak hantaran lamaran yang sudah di siapkan oleh Nino untuk calon istri.


"Sudah siap belum?" tanya Belinda.


"Sudah oma" teriak Reva dan Reynand kompak.


"Cie.. om Nino sebentar lagi mau menikah dengan onty Dewi" goda Reynand.


Nino semakin grogi karena ulah bocil itu. dahinl Nino langsung berkeringat.


Reynand dan Reva yang melihatnya pun tertawa terbahak.


"Jadi berangkat ke rumah onty Dewi nda ini, kalau nda Reva mau tidur aja" tanya Reva sengaja menggoda Nino.


"Jadi nona, ayo bunda kita berangkat sekarang, takut keluarga Dewi terlalu lama menunggu" ajak Nino gugup.


Sedangkan yang lain menggelengkan kepala melihat tingkah usil kedua perusuh senior itu.


Mereka pun akhirnya memasuki mobilnya masing-masing, mereka membawa tiga mobil, satu mobil mereka isi untuk membawa hantaran lamaran untuk Dewi.


Selama perjalanan ke rumah Dewi, di dlaam mobil terjadi keributan antara Ravin dan Reva.


Karena gabut Ravin menarik rambut Reva yang di kucir dua, dan terlihat begitu lucu.


"Awwww....mama" teriak Reva memegangi rambutnya.


"Kenapa sayang," tanya Alisya yang tidak tahu, pasalnya dari tadi anaknya diam saja.


"Mama rambut Reva di jambak Ravin, bantu Reva mama, tangan Ravinnya ngga mau lepas" ucap Reva sambil meringis.


Arsen yang mendengar pun langsung mencoba melepaskan tangan putranya yang ada di pangkuannya.


"Lepas boy, kakak nya sakit" ucap Arsen lembut sambil melepaskan gengaman tangan putranya dari rambut Reva.


Bersambung


Happy reading guys 🙏