
"Dia kemari lagi?" gumam Rista.
Rista menatap lekat ke arah mobil dosen nya tersebut. Ini sudah malam dan ada tujuan apa lagi pria itu kesini.
Tak mau berpikir lama, Rista akhirnya segera masuk ke dalam rumah nya.
"I'm home," teriak Rista seraya membuka sepatu nya dan mengganti nya dengan sendal rumahan milik nya.
"Kau sudah pulang sayang, astaga kenapa lama sekali. Seharian loh," ucap Eve seraya memeluk Rista.
"Maaf mom, tadi aku ketemu Bu Devina di Mall bersama Rafael dan juga Gabriel. Mereka baru saja pulang," jelas Rista.
"Mereka kemari? kenapa tidak menyuruh mereka masuk," ucap Eve ingin kedepan.
"Mereka sudah pergi mah, soalnya Gabriel udah tidur takutnya nanti kebangun," ucap Rista.
"Oh baiklah, Melviano dari tadi sore nungguin kamu, dia belum mau pulang sebelum kamu datang. Mamah jadi gak enak tau," ucap Eve.
Dia heran mengapa dosen Rista begitu betah, padahal dia bisa saja pulang.
"Tadi bener mamah minta dia balik bareng aku?" tanya Rista.
"Enggak juga sih, dia yang nelpon mamah katanya dia bakalan anter kamu kerumah," ucap Eve.
"Dasar pembohong, kata dia mamah maksa," cetus Rista mengerucut kan bibir nya.
"Udah sana bersihkan diri kamu, kita makan malam. Melviano juga pasti sudah lapar dari tadi nungguin kamu," sindir Eve pada putri nya.
"Yah, tapi aku tadi baru makan mamah, lagian aku kan gak minta dia buat nungguin aku," ucap Rista yang tak terima.
"Yaudah kamu temenin dia aja makan, mamah mau kerumah tetangga soal nya hehe tadi diajak buat bakar-bakaran,'
Mata Rista melotot sempurna, itu artinya dia hanya akan berdua dengan Melviano. Dan apa katanya tadi, menemani pria itu makan? Rista sudah seperti menjadi istri saja.
"Lah terus aku bareng pak Melvin gitu disini, berdua. Mamah yang benar aja. Suruh pulang aja deh pak Melvin nya," ucap Rista tak percaya.
Bagaimana mungkin Eve membiarkan dia hanya bersama seorang pria dirumah itu.
"Yaelah, gapapa kan biar kamu gak sendiri disini, entar mamah ajak kamu kesana pasti kamu nolak, kamu juga pasti ada tugas kan. Kebetulan tuh ada dosen mu tanyain!" ucap Eve.
"Lagian kan Deket tuh, kalo ada apa -apa tinggal manggil aja," lanjut Eve lagi.
Eve juga tidak bepergian jauh, rumah untuk tempat mereka berkumpul tepat disamping rumah nya.
"Yaudah deh terserah mamah aja," pasrah Rista. Dia juga tak mungkin untuk melarang Mama nya untuk bersenang-senang dengan teman-temannya. Wanita itu juga pasti butuh hiburan.
"Melvin nya ada diruang keluarga tuh, mamah pergi ya. Tia ti loh." Eve mengedipkan sebelah matanya pada Rista.
"Mamah gue kok gitu banget ya," gumam Rista menggeleng-gelengkan kan kepalanya.
Rista akhirnya mengecek keberadaan Melviano di ruang keluarga. Dan benar saja pria itu berada disana sibuk dengan laptop nya dan kertas yang bertumpuk di meja.
Seperti nya pria itu tengah sibuk dengan tugas - tugas mahasiswa nya. Benar-benar niat sekali. Melviano pasti sudah membawanya dari rumah dan meletakkan nya di mobil.
"Pak Melvin!" panggil Rista.
Pria itu lantas menoleh dan menghentikan aktivitas nya seketika.
"Ya?" tanya pria itu.
"Maaf buat pak Melvin nunggu, saya bersihin diri bentar ya," ucap Rista yang diangguki oleh pria itu.
Mendapat anggukan dari Melviano Rista segera melesat ke kamar nya.
"Pak Melvin ngapa kayak gitu deh respon nya. Kok dia kayak marah gitu sih sama gue kan harusnya gue yang marah sama dia soal tadi siang." pikir Rista.
Tak mau membuat Melviano menjadi menunggu lebih lama, Rista mempercepat acara mandi nya.
Rista langsung memakai baju tidur nya. Malas untuk berganti pakaian lagi nantinya.
Selepas selesai dengan acara memakai bajunya, Rista kembali turun keruang keluarga dan melihat Melviano yang masih terlihat sibuk dengan pekerjaan nya.
"Astaga, kamu ini kenapa sering bikin kaget," cetus Melviano saat melihat Rista yang sudah berada tepat disamping nya dengan menyengir tidak jelas.
"Heheh maaf pak," ucap Rista .
"Ini bapak lagi koreksi tugas ya," Rista melirik laptop milik Melviano.
"Iya,"
"Wahh, ternyata Pak Melvin periksa satu-satu toh, saya kira gak diperiksa gitu soalnya kan banyak banget," Rista menatap ngeri kertas-kertas yang bertumpuk di depannya.
"Ya itu sudah tugas saya, masa saya harus nebak-nebak nilai mahasiswa, kamu mau seperti itu?" tanya Melviano.
"Enggak lah pak, capek-capek ngerjain tugas eh nilai nya asal-asal bikin. Gak fair dong pak," bantah Rista tidak setuju.
"Hm," dehem Melviano singkat.
"Bapak udah periksa tugas saya yang kemarin belum pak?" gimana hasilnya?" tanya Rista penasaran.
"Hancur," balas Melviano membuat Rista menembus kan nafas nya. Dia sudah menduga nya, ya tapi jelas saja orang Melviano menyuruh nya untuk quiz dadakan. Rista tak mempersiapkan apapun saat itu.
"Lanjut entar deh pak, bapak belum makan kan?" tanya Rista.
Melviano mengangguk kecil. Dia sudah memang sudah sangat lapar sedari tadi. Bahkan tadi siang dia tidak sempat untuk makan dan malam ini dirinya pun telat makan.
Rista lebih dulu menuju dapur.
"Bapak ambil aja ya, saya udah makan tadi soalnya," ucap Rista.
"Lalu saya hanya akan makan sendiri?" tanya Melviano. Mana bisa begitu pikir nya. Dia merasa tidak enak saat tuan rumah tidak makan.
"Iya, saya akan temanin pak Melvin," ucap Rista.
"Kalau begitu saya tidak makan deh," tolak Melviano.
"Lah kok gitu sih pak, liat nih mamah kan udah masak, terus siapa yang makan," ucap Rista.
Eve sudah susah payah menyiapkan nya pasti dia akan sedih saat melihat makanan ini tidak tersentuh.
"Saya tidak bisa menghabiskan nya sendiri. Kau makan lah lagi," ucap Melviano.
"Huft baiklah," ucap Rista tak memperpanjang masalah.
Rista mengambil piring untuk nya dan mengisi nya dengan sedikit lauk tanpa nasi.
"Ambilkan untuk saya juga," pinta Melviano yang terdengar sebagai sebuah perintah.
"Bapak ambil sendiri, kan bapak punya tangan," ucap Rista.
"Saya mau kamu yang ambilkan," kekeh Melviano berdiam diri.
"Ck, nyebelin banget sih, tinggal ambil sendiri kok susah banget," gerutu Rista. Tapi gadis itu tetap mengambil makanan untuk Melviano.
"Anggap saja sebagai latihan,' balas Melviano menerima piring yang sudah diisi oleh Risa dengan senang hati.
"Latihan apa dah," heran Rista yang tak mengerti.
"Latihan menjadi istri saya," ucap Melviano tanpa beban.
"Hah," beo Rista mendelik kan mata nya.
Gadis itu hendak menyendok makanan kemulutnya namun ditahan oleh Melviano.
"Kenapa lagi sih pak," kesal Rista.
"Berdoa dulu," tegas Melviano yang membuat Rista menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
TBC