
Ceklek...
pintu ruang operasi terbuka, Terlihat dokter keluar dari ruangan tersebut.
Hendrawan mendekati dokter lalu bertanya. "Bagaimana operasinya dok" tanya Hendrawan.
Dokter tersenyum melihat Hendrawan."Alhamdulillah semuanya lancar, kondisi rahim nyonya Viona juga baik tidak terjadi kerusakan, sehingga beliau masih ada kesempatan untuk hamil kembali" jawab Dokter.
Kedua orang tua Viona mengucap syukur termasuk David, David masih di sana untuk memastikan keadaan Viona. Setelah itu baru dia akan pergi.
"Lalu bagaimana keadaan putri saya dok" tanya Hendrawan.
"Keadaan ibu Viona baik, beliau masih istirahat karena efek obat bius, tunggu beberapa menit lagi beliau akan siuman, anda bisa melihatnya setelah di pindahkan ke ruang rawat" jawab Dokter.
"Makasih dokter" ucap mama Viona.
Dokter mengangguk membalas ucapan mama Viona, setelah itu ia berlalu dari ruangan tersebut.
Suster keluar dari ruang operasi sambil mendorong brankar Viona memindahkannya ke ruang rawat.
"Pindahkan ke ruang VIP sus" pinta Hendrawan.
"Baik tuan: jawab suster tersebut.
Lalu Suster membawa Viona dan memindahkannya ke ruang VIP sesuai permintaan Hendrawan.
Kedua orang tua Viona dan David mengikuti di belakang suster yang mendorong brankar Viona yang masih terbaring tenang sambil memejamkan matanya karena efek obat bius.
"Hen, aku titip Viona kepadamu, aku harus membereskan barang-barang karena besok aku sudah harus angkat kaki dari rumah itu." ucap David dengan tatapan sendu."Maaf, jika selama ini keluargaku banyak salah kepada keluargamu, terutama Viona .... Maafkan aku karena tidak bisa menjaganya dengan baik" lanjutnya.
Hendrawan menepuk bahu David, "kalian mau pindah kemana? Tetaplah di sini, aku punya rumah yang bisa kalian tempati meskipun tak terlalu besar seperti rumahmu itu, tapi setidaknya bisa buat kalian berteduh, dan kamu bisa bekerja di perusahaanku" ucap Hendrawan tulus.
Hendrawan tidak dendam dengan keluarga Dinata, dia juga ikut andil dalam perjodohan bisnis putrinya dengan Erik. Dia juga sudah mengenal lama dengan almarhum Aldrik dan juga David, jadi dia tidak tega kalau membiarkan besannya itu hidup susah luntang lantung di jalan.
David tersenyum menggelengkan kepalanya. "Terima kasih, tapi aku tidak ingin merepotkan keluarga kalian lagi, selama ini keluarga kalian sudah sering membantu keluargaku. Aku akan tinggal di kampung di sana ada rumah peninggalan Daddy" ucap David yang terlihat tegar.
Bukan tak mau menerima bantuan itu, David bisa saja minta tolong kepada putrinya, tapi dia mengurungkan niat itu...dia ingin tinggal di kampung sama mommy nya sambil merenungi kesalahannya selama ini.
"Baiklah, aku tidak memaksamu...tapi jika kalian butuh bantuan jangan sungkan untuk menghubungi ku" ujar Hendrawan.
"Sekali lagi terima kasih, sampaikan ucapan maafku untuk Viona" ucap David di sertai anggukan dari Hendrawan.
David pamitan dengan mereka semua, dia menyempatkan diri untuk melihat Viona yang sedang terlelap. Setelah itu dia pergi meninggalkan rumah sakit dan akan menyelesaikan permasalahannya dengan Siska.
*
*
Sedangkan di rumah Arsen Reva lagi mencoba merayu ke dua orang tuanya, supaya di ijinkan untuk berlatih bela diri seperti Reynand.
Alisya mengeryit melihat putrinya turun dari tangga dengan tampilan yang sudah rapih seperti orang mau pergi."Mau kemana kamu sudah rapih begitu sayang?" tanya Alisya.
"Leva mau kelumah Ley ma, hali ini Leva mau ikut Ley latihan bela dili, tadi Leva sudah bilang sama Ley kalau Leva mau ikut" jawab Reva sambil menatap Alisya dengan mata bulatnya.
Reagan sudah mengajarkan Reynand bela diri sejak dini , putranya itu harus bisa bela diri untuk memperkuat dirinya, karena menjadi anak seorang pengusaha itu tidak akan mudah, pasti ada aja gangguan dari luar yang ingin mencoba menumbangkan kekuasaan keluarganya.
"Kamu mau menemani Rey berlatih saja atau ikut gabung dengan Rey juga?" tanya Alisya memastikan, pasalnya kelakuan Reva suka random.
Alisya menepuk keningnya. "Tidak ! Mama tidak akan mengijinkanmu latihan bela diri" tegas Alisya.
"Mama pliss...Leva mau ikut bela dili baleng Ley, bial nanti Leva bisa menjaga mama dali olang jahat sepelti ini" pinta Reva sambil memperagakan tendangannya seolah sedang berkelahi di depan Alisya.
"Apa benar dia putriku, sepertinya putriku tertukar waktu di rumah sakit, perasaan dulu aku kalem tidak barbar seperti dia" batin Alisya.
Alisya meringis melihatnya, tidak habis pikir dengan tingkah putrinya, "Jangan ngadi-ngadi kamu ya Reva, mama ngga kebayang kalau kamu ikut bela diri...yang ada kamu nanti baku hantam mulu, pusing mama kalau begitu" omel Alisya panjang lebar.
"Mama nda asik sekali, lagian kapan Leva belantem sih" gerutu Reva sambil bersandar di lengan papanya.
"Hai nona muda, apa kamu tidak ingat waktu di acara ulang tahun perusahaan papa hmm, sampai rambut kamu di tarik Reynand" cibir Arsen.
Reva nyengir kuda, sambil menduselkan wajahnya ke lengan Arsen karena malu.
Arsen terkekeh geli melihat tingkah laku Reva yang kelewat aktif.
Kini Reva mencoba peruntungannya untuk merayu papanya, biasanya Arsen lebih mudah di rayu ketimbang Alisya.
"Nah kalena itu Leva halus bisa bela dili, nanti kalau ada yang nakali Leva bial Leva bisa balas sepelti kemalin," rayu Reva manja sambil mengelus elus lengan papanya.
"Buat apa girl, kan ada om Max yang selalu menjaga kamu, bagaimana kalau kamu les piano saja" sahut Arsen mencoba bernegoisasi dengan putrinya. Bukan Arsen tak memperbolehkannya, tapi Reva anak perempuan dia tak mau nanti putrinya terluka jika ikut bela diri.
Reva merengut kesal. Dia mau ikut bela diri malah di tawarin piano.
"Memang na om Max di samping Leva telus, kemalin saja waktu Leva di dolong om Max nda ada" kesal Reva. "Mending Leva jadi anak Daddy Leagan saja kalau begitu, pasti Leva di bolehin ikut Ley belajal bela dili" cicit Reva.
Arsen menghela nafas sabar, putrinya ini keras kepala,....kalau sudah punya kemauan pasti dia akan kekeuh tidak mau di bantah, sangat sulit untuk di ajak bernegosiasi.
Tak selamanya Arsen selalu menuruti kemauan Reva, kalau di rasa baik buat tumbuh kembang putrinya maka dia akan menurutinya, namun jika tidak Arsen akan tegas menolak dan membiarkan putrinya menangis begitu saja.
Terkadang anak akan menggunakan air matanya sebagai senjata untuk mendapatkan keinginan nya.
"kalau mau menamani Rey berlatih papa ijinkan, tapi kalau berlatih papa tidak ijinkan. Nanti papa sendiri yang akan melatih Reva di rumah, bagaimana?" tegas Arsen mencoba memberikan usul kepada putrinya.
Reva memiringkan kepalanya menatap wajah papanya."Memangna papa bisa bela dili" tanya Reva ragu.
"Tentu saja, bahkan papa sudah sabuk hitam" jawab Arsen bangga.
Reva mengetuk ngetuk dagunya mencoba mempertimbangkan usulan papanya. "Ok, Leva belatih sama papa saja, dali pada tidak sama sekali, sekalang Leva mau ke lumah Ley dulu" ucap Reva lalu pamit kepada orang tuanya pergi ke rumah Reynand dengan di antar Max pengawal setia Reva.
Bersambung
Jangan lupa
Like
Koment
Vote
Gift
Happy reading guys🙏💕