
Reva dan Reynand akhirnya ngedate sambil mengajak Gavin, bocah kecil itu sudah naik di atas motor, dia duduk di tengah-tengah antara Reva dan Reynand.
Andai membuang adiknya itu di halalkan, mungkin detik ini juga Reva sudah melempar tubuh Gavin kejalanan.
Adiknya itu selalu saja merecoki waktunya dengan Reynand, apalagi sekarang duduk di tengah-tengah membuat Reva sulit memeluk sang kekasih karena terhalang tubuh gemuk adiknya itu.
"Honey ini gimana? bocil ini membuatku susah memelukmu" rengek Reva.
"Kak Leva peluk Gavin aja nda usah peluk kak Ley" sahut Gavin semakin membuat Reva jengkel.
Reva dari belakang sudah gregetan ingin sekali meremat kepala adiknya menggunakan tangannya.
"Harusnya kamu ngga usah ikut, di rumah aja belajar sama mama" omel Reva.
"Makana Gavin ikut kak Leva, kalena di lumah Gavin di suruh belajal telus sama mama" sahut Gavin.
Ternyata Gavin cuma mencari alasan saja untuk menghindari mamanya, Alisya sering menyuruh putranya untuk belajar membaca karena Gavin masih belum lancar membaca huruf.
"Sabar sayang," sahut Reynand sedikit menaikan suaranya agar Reva mendengarnya.
Karena takut jatuh maka dengan terpaksa Reva memeluk tubuh gempal adiknya.
Reynand melajukan motornya dengan kecepatan sedang, kebetulan malam ini malam minggu jadi membuat jalanan sedikit ramai di penuhi dengan lalu lalang anak muda yang berpasangan juga seperti dirinya.
"Honey, sepertinya di depan ada pasar malam" ucap Reva ketika tak sengaja melihat pasar malam.
"Iya sayang, kenapa?" tanya Reynand.
"Kita kesana honey, aku belum pernah ke pasar malam" pinta Reva.
"Iya kak Ley kita ke dufan aja" timpal Gavin antusias, dia menyamakan pasar malam itu seperti Dufan yang banyak terdapat aneka permainan juga.
"Let's gooo...." seru Reyanand yang juga terlihat antusias. dia juga penasaran dengan tempat seperti ini.
Jarang sekali Reynand bermain di tempat seperti ini, bahkan hampir tidak pernah dari dulu orang tuanya sering membawanya ke disneyland, Dufan, dan tempat hiburan lainnya yang harga tiketnya tergolong mahal.
"Eh ikan buntal, itu namanya pasar malam bukan Dufan" ucap Reva membenarkan ucapan sang adik.
"Bukan kak Leva itu Dufan, lihat itu ada pelmainannya, mana ada pasal ada pelmainannya" ngotot Gavin.
"Kamu ini salah tapi di kasih tahu malah ngeyel. Makanya sekali-sekali tuh bermain ke tempat seperti ini jangan ke mall mulu, jadinya kamu tidak tahu pasar malam kan" sahut Reva kesal.
"Bukan salah Gavin, salahin aja mama sama papa yang selalu ajak Gavin ke mall" protes Gavin membuat Reva mencebikkan bibirnya kesal.
Reynand sejak tadi tak menghiraukan perdebatan antara adik dan kakak itu, ia fokus mencari tempat parkir untuk memarkirkan motornya.
Setelah mendapat tempat parkir Reynand mematikan mesin motornya dan menyuruh mereka berdua turun dari atas motornya.
"Ayo turun sayang, kita sudah sampai ini" ucap Reynand.
Dengan hati-hati Reva turun dari atas motor Reynand.
"Kak Leva bantu Gavin tulun, Gavin nda bisa tulunna ini" pinta Gavin dengan merentangkan kedua tangannya kepada sang kakak.
Kakinya yang pendek membuat Gavin kesulitan turun dari atas motor Reynand.
"Minta tolong kak Rey aja, Kak Reva ngga kuat gendong kamu" ucap Reva.
Reynand menghela nafas, sepertinya kekasihnya itu masih badmood karena ulah adiknya itu. Reynand maju dan membantu Gavin turun dari motornya.
Mereka bertiga berjalan bersama sambil menggandeng tangan Gavin yang ada di tengah-tengah mereka berdua, membuat mereka seperti keluarga kecil yang sednag mengajak putranya bermain di pasar malam.
"Gavin lapal kak, kita makan dulu ya" pinta Gavin.
"Gavin mau makan apa" tanya Reynand.
"Apa aja kak Ley, yang penting bisa di makan sahut Gavin yang memnag tidak pilah pilih makanan.
Gavin memang tadi belum sempat makan malam di rumah. Dasarnya Gavin tukang makan jadi baru sampai perutnya sudah minta di isi.
"Kamu mau makan apa sayang" tanya Reynand kepada kekasihnya.
Reynand akhirnya membawa mereka menuju ke gerobak abang tukang sate. Reynand langsung memesan tiga porsi sate untuk mereka bertiga.
Tak lama pesanan mereka jadi, dan pelayan menaruhnya dia atas meja mereka.
Gavin yang sudah tak sabar langsung sabar menyantap makanan miliknya.
Reva dan Reynand sambil makan disela-sela obrolannya, tenda yang terbuka membuat Merek bisa melihat orang yang berlalu lalang dan sesekali ada pengamen yang masuk ke tenda warung tersebut.
"Enak ngga satenya? atau mau cari yang lain?" tanya Reynand takut kekasihnya tak suka dengan makanan pinggiran.
"Enak honey, aku suka" sahut Reva sambil tersenyum melihat wajah Reynand.
Reynand mengulurkan tangannya mengusap sudut bibir Reva yang terkena bumbu kacang.
Blushhh....
Wajah Reva langsung blushing karena mendapat perlakuan manis daro Reynand.
"Belepotan kek anak kecil" ucap Reynand.
Reva langsung menundukkan wajahnya agar Reynand tak melihat wajahnya yang memerah karena malu.
"Kenapa tiap kali berdekatan sama Rey jantungku jedag jedug mulu ya, dulu sama Brian perasaan biasa aja"
"Sepertinya besok aku harus pergi ke dokter jantung, aku takut kalau terjadi sesuatu dengan jantungku" batin Reva.
"Akhilnya Gavin kenyang juga" cetus Gavin sambil memegang perutnya yang membuncit.
"Cih, dasar rakus" sindir Reva ketika melihat piring Gavin bersih tak ada yang tersisa.
Bocah kecil itu menghabiskan 10tusuk sate dan satu lontong.
"Kak Leva lupa pesan mama ya, mama kan selalu bilang kalau makan halus di habiskan nda boleh di sisain bial nda mubadzil"
Reynand mengulum senyum melihat sang kekasih tak berkutik dengan adiknya.
Reynand berdiri dan membayar semua makanannya. Setelah selesai membayar Reynand mengajak Reva dan Gavin keliling.
"Kalian diam di sini sebentar jangan kemana-mana" pinta Reynand.
Dia pergi meninggalkan sang kekasih, dia menuju ke abang-abang penjula gulali.
Reynand menghampiri Reva dengan membawa gulali.
"Hoeny kamu bawa apa" tanya Reva.
"Gulali sayang, ini buat kamu" jawab Reynand sambil memberika satu gulalu kepada Reva.
"Terima kaaih honey" ucap Reva dengan mata berbinar menatap gulali, dari dulu dia memang menyukai makanan manis.
"Dan ini untuk Gavin" ucap Reynand sambil memberikan satu gulali kepada calon adik iparnya itu.
"Telima kasih kak Ley" ucap Gavin langsung memasukkan gulali itu kedalam mulutnya.
Inilah yang membuat ia suka ikut dengan kakaknya, dia bebas makan apa saja tidak seperti waktu pergi sama mamanya.
Setelah menghabiskan gulali Reynand mengajak mereka berdua memainkan semua permainan yang ada.
Malam ini Reva merasa bahagia, bersama Reynand ia bisa pergi kemana pun tak harus tempat yang mewah.
Tidak seperti Brian dulu yang selalu saja membawa dirinya ke tempat-tempat high class yang terkadang membuat Reva bosan.
Reva pernah mengajak Brian makan di warung tenda tapi Brian tak pernah mau, dia selalu bilang kalau itu tempat untuk orang miskin.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏