
Reva beneran menguras isi atm Reynnad, ia membeli semua yang ia mau, dari baju, tas, sepatu dan aksessoris pun ia beli.
"Ayo kita pulang honey, aku sudah cukup mengurangi banyak nol di saldo atm mu" ucap Reva cengengesan.
"Tak masalah, itu tak akan membuatku bangkrut" sahut Reynand sambil mengelus kepala wanitanya.
Mereka berdua akhirnya keluar dari mall dan pergi ke parkiran menuju ke mobilnya.
Reva masuk kedalam mobilnya, sedangkan Reynand memasukkan barang belanjaan Reva kedalam bagasi mobilnya.
Setelah itu Reynand masuk kedalam mobil dan duduk di kursi kemudi, Reynand menjalankan mobilnya meninggalkan mall tersebut.
"Mau membeli makanan tidak sayang? mumpung belum sampai rumah" tanya Reynand.
"Tidak honey, aku sudah kenyang" sahut Reva.
Sepanjang perjalanan Reynand terus menggenggam tangan Reva sesekali menciuminya.
Hanya butuh waktu empat puluh lima menit, akhirnya mobil yang mereka tumpangi tiba di halaman rumah Arsen.
Reynand keluar dari mobilnya, tak lupa ia juga membawa barang belanjaan Reva yang ia ambil dari dalam bagasi mobilnya.
Mereka berdua berjalan beriringan sambil bergandengan masuk kedalm rumah Arsen.
"Selamat sore semuanya, Reva cantik sudah pulang" teriak Reva mengangetkan semuanya.
Gavin orang lari terbirit-birit menghampiri kakaknya.
"Mana pesanan Gavin kak" tanya Gavind dengan nafas ngos-ngosan usai lari.
"Ini boy," Reynand menyodorkan papper bag yang berisi sepatu kepada Gavin.
"Telima kasih" sahut Gavin sambil menerima papper bag tersebut.
Ia duduk di lantai dan terus membukanya.
"Holeee... akhilna Gavin puna sepatu bola" sorak Gavin jingkrak-jingkrak sambil mengangkat sepatunya tinggi-tinggi.
"Lah bocah ngapa dah, buat apa kamu minta beliin kak Reva sepatu bola, orang badan kamu aja udah kek bola" ejek Rachel.
"Bialin aja, bial puna aja... di pakai tidakna ulusan nanti" sahut Gavin nyleneh.
Semua di buat tercengang mereka kira Gavin ingin bermain bola, makanya minta beliin sepatu bola.
"Gavin... Ngadi-ngadi kamu ya, ngapain minta di beliim kalau cuma buat pajangan doang, buat pajangan mah punya kak Reva sama punya kak Ravin juga banyak" teriak Reva dengan nafas naik turun karena kesal.
"Kan puna Gavin belum ada kak," sahut Gavin langsung melarikan diri sebelum kakaknya kembali menceramahinya.
Reynand mengusap punggung wanitanya, agar lebih sabar.
"Anak itu selalu saja membuatku emosi" gerutu Reva.
"Sama seperti kamu dulu yang sering membuat papa emosi kak" timpal Reynand yang baru saja pulang dari kantornya.
"Eh papa sudah pulang" ucap Reva setalh itu ia mencium punggung tangan papanya
Reynand dan Rachel juga melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Reva.
"Apa yang kamu bawa Rey" tanya Arsen.
"Ini belanjaan Reva om" jawab Reynand sembari meletakkan belanjaan tersebut di atas meja.
Rachel yang penasaran langsung membuka satu persatu belanjaan kakaknya, hingga ia menemukan tas yang bagus milik kakaknya itu.
"Kak ini tas nya buat Rachel ya" pinta Rachel dengan tatapan memelas.
"Enak aja, kamu beli sendiri" tolak Reva sambil mencoba mengambil tasnya darinpelukan adiknya itu.
"Tapi Rachel mau ini kak, kak Reva beli lagi aja" ucap Rachel sambil berusaha mempertahankan tasnya.
"Ini punya kak Reva, kamu beli sendiri sana sama mama" sahut Reva tak terima.
Rachel akhirnya membawa lari tas tersebut, ia tahu kakaknya tak akan bisa mengejarnya, karena kaki Reva belum benar-benar sembuh.
"Rachel jangan lari kamu, kembalikan tas kak Reva, Rachel... " teriak Reva tapi tak membuat Rachel menghentikan langkahnya.
Arsen menghela nafas sabar, ada aja yang mereka rebutkan, kalau tidak barang ya makanan.
"Kamu beli lagi ya, nanti ganti uangya dua kali lipat," bujuk Arsen.
"Tidak mau, itu kan punya Reva habis di beliin pacar Reva" ucap Reva keceplosan.
Reynand menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia tidak tahu bagaimana reaksi Arsen kalau tahu putrinya pacaran dengannya.
"Kamu punya pacar" tanya Arsen sambil menatap Reva penuh selidik.
Reva menutup mulutnya, ia baru sadar kalau dirinya keceplosan di depan papanya.
Melihat keterdiaman putrinya Arsen paham, kalau putrinya memang sudah mempunyai kekasih baru lagi.
"Siapa" tanya Arsen lagi, kali ini ia tak ingin kecolongan seperti sama Brian dulu.
"Emm..anu pa, Reva cuma salah bicara" jawab Reva gagap.
"Siapa orang itu kak" tanya Arsen dengan penuh penekanan.
"Saya om, saya kekasih Reva yang sekarang, kita baru saja jadian tadi siang" timpal Reynand yang kasihan melihat Reva yang tersudutkan.
Arsen membelalakan matanya, apa barusan, keponakannya jadian sama putrinya. batin Arsen.
"Jangan main-main Rey" tegas Arsen.
"Siapa yang main-main sih om, Reynand serius kalau Reynand sudah jadian sama Reva" jawab Reynand.
"Kalian saudara, jadi tidak boleh pacaran" ucap Arsen bohong.
Reynand menaikan sudut bibirnya, om nya kira kalau Reynand belum tahu yang sebenarnya.
"Jangan bohong om, Rey sudah tahu kalau Reva cuma anak sambung om, bukan anak kandung om" ucap Reynand, Reva mengangguk membenarkan ucapan kekasihnya itu.
Arsen mendengus kesal, kali ini dia tidak bisa membohongi keponakannya itu.
"Tetap saja, harusnya kamu minta ijin dulu kalau mau macarin anak gadis orang" ucap Arsen hanya beralasan.
"Kan om sudah tahu, lantas Rey harus minta ijin sama siapa lagi" sahut Reynand yang merasa bingunh dengan omnya itu.
Perasaan dulu Brian gampang-gampang saja, kenapa giliran dirinya dipersulit, pikir Reynand.
"Bukan dengan om, tapi dengan aunty Alisya dan om Erik" sahut Arsen.
"kenapa om Erik? apa hubunganyan dengan om Erik" tanya Reynand yang memang belum tahu ayah kandung Reva, ia lupa menanyakan detailnya kepada daddynya.
"Karena om Erik ayah kandung Reva" jawab Arsen.
Reynand melihat kearah kekasihnya, seolah ragu dengan ucapan om nya itu.
"Benar honey, papi Erik itu ayah kandungku" ucap Reva.
Arsen berdecak kesal ketika mendengar panggilan sayangnya kepada Reynand.
"Yasudah nanti Rey akan menemui om Erik untuk minta restu sekalian" ucap Reynand.
"Kalian baru jadian kenapa langsung minta restu" seru Arsen.
"Siapa tahu Rey akan segera menikahinya" sahut Reynand.
"Hai bocah tengik, jangan sembarangan ya, nikah itu tak segampang kamu beli cilok, kamu harus memikirkannya dengan matang terlebih dahulu, bukan hanya sekedar cinta lalu menikahinya"
"Lalu om Arsen maunya gimana? om Arsen maunya Reva Rey pacarin terus tanpa di nikahin begitu?" ucap Rey yang sudah lelah menghadapi om nya itu.
"Enak saja, kalau kamu berani macarin ya kamu harus berani nikahin juga nantinya" kata Arsen tak terima.
Sebenarnya bukan mempersulit Reynand, Arsen hanya tidak terima saja keponakannya yang notaben nya musuhnya dulu berani macari putrinya.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏