Baby Girl

Baby Girl
BAB 152



"Kalian diamlah, biarkan om Nino berbicara" lerai Belinda jengah melihat perdebatan mereka.


"Oma Reva nda asik ya Rey" bisik Reva di telinga Reynand. Reynand mengangguk mengiyakan.


Belinda menggelengkan kepalanya melihat cucunya yang sedang berbisik bisik, dia tahu kalau cucunya sedang mengatai dirinya.


"Silahkan Nino, kamu mau bicara apa sama bunda" tanya Belinda sama Nino.


"Nino mau menikah bund" jawab Nino gugup.


"Nino secepatnya akan menikahi Dewi bund. Nino kesini meminta restu sama bunda sekalian mau minta tolong sama bunda datang ke rumah Dewi untuk melamarnya buat Nino." lanjutnya.


Belinda diam sejenak sambil menelisik wajah serius Nino, Belinda mencari keraguan di mata Nino namun tak menemukannya.


"Jika semua itu sudah menjadi keputusanmu, bunda tidak bisa melarangmu, bunda hanya bisa mendoakanmu, supaya kelak kamu bisa bahagia dengan keluarga kecilmu. Bunda berpesan kepadamu, jangan pernah kau lukai hati istrimu, muliakanlah dia, bagaimana pun dia adalah istrimu yang akan menjadi ibu dari anak-anakmu." ucap Belinda memberi wejangan kepada Nino.


"Terima kasih bunda, Nino janji akan menajaga serta membahagiakan istri Nino nanti" jawab Nino.


Belinda mengalihkan pandangannya memandang Dewi.


"Dan untuk kamu Dewi, apa kamu sudah yakin menerima Nino, Nino hanya anak yatim piatu yang hidup sebatang kara di dunia ini. Tapi keluarga Davidson sudah mengangap dia seperti keluarga sendiri. Bunda minta tolong sama kamu, tolong jaga Nino jangan sakiti hatinya, karena selama ini sudah banyak derita yang ia alami." ucap Belinda.


"Saya dan orang tua saya sudah menerima Nino nyonya, dan saya akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Nino kelak." jawab Dewi.


"Panggil saya bunda, jangan panggil Nyonya, karena sebentar lagi kamu akan menjadi menantu bunda" ucap Belinda sambil memeluk Dewi.


Dewi terharu dengan perlakuan Belinda terhadapnya. Dia tak membeda bedakan status sosial seseorang.


"Kenapa oma peluk-peluk onty Dewi, memangnya onty Dewi lagi sedihnya, makanya di peluk-peluk seperti itu" tanya Reva penasaran.


"Onty Dewi sedang bahagia sayang, karena sebentar lagi om Nino akan menikah dengan onty Dewi" bukan Belinda atau Dewi yang menjawab melainkan Nino.


"Om Nino mau menikah seperti mama sama papa Reva dulu ya" tanya Reva yang memang mengingat moment pernikahan kedua orang tuanya.


"Iya sayang" jawab Nino tersenyum.


Reva langsung bersorak heboh


"Akhirnya om Nino mau nikah sama onty Dewi, om Nino harus terima kasih sama Reva, karena gara-gara Reva om Nino bisa dekat dengan onty Dewi" ucap Reva.


"Kan om Nino waktu itu sudah ngasih Reva boneka barbie,sayang" sahut Nino.


"Kurang om Nino, waktu itu kan bayaran Reva, karena Reva sudah berhasil mengajak onty Dewi jalan-jalan. Sekarang Om Nino harus kasih hadiah Reva lagi karena om Nino bisa menikah dengan onty Dewi" ucap Reva mulai itung-itungan😂


"Kamu lama-lama papa bikinin kantor biro jodoh ya" ucap Arsen gemes.


"Mau pa, Reva mau, supaya nanti Reva dapat banyak hadiah." sahut Reva dengan mata berbinar.


plak


Reynand memukul bahu Reva pelan.


"Dasar matre" cemoh Reynand.


"Biarin, nanti kalau Reva banyak uang, Reva tak mau membaginya denganmu" sungut Reva.


Arsen menarik tubuh putrinya dan membawanya duduk di atas kedua pahanya.


"Kamu ini masih kecil, kenapa sudah memikirkan banyak uang hmm" ucap Reva.


"Karena Reva tak mau melihat mama susah, supaya mama tak bekerja lagi, dan bisa bermain dengan adiknya Reva" jawab Reva polos.


Arsen membawa tubuh Reva ke dalam pelukannya.


Alisya tersenyum getir mendengarnya, ada rasa haru, juga ada rasa sedih di hatinya.


Ternyata selama ini sebelum dirinya menikah dengan Arsen, Reva selalu memperhatikan mamanya yang sibuk bekerja dari pagi hingga malam, demi memenuhi kebutuhan hidupnya.


Bahkan putrinya berharap kalau mamanya punya waktu untuk adiknya, tidak seperti dirinya dulu yang selalu bermain dengan karyawan mamanya, tak jarang kalau mereka sibuk Reva bermain sendiri bersama molly kucing mamanya.


"Kan sekarang mama sudah tidak bekerja lagi, sudah ada papa yang menggantikan tugas mama, jadi Reva tak usah takut kalau mama tak punya waktu untuk kalian, mama akan selalu di rumah menemani kalian bermain." ucap Arsen seraya mencium puncak kepala putrinya.


Alisya ikut memeluk suami serta putrinya. ia merasa bersalah selama ini terlalu fokus dengan pekerjaanya, dan mengabaikan putrinya.


"Maafkan mama yang selama ini sudah mengabaikan Reva" lirih Alisya sambil meneteskan air matanya.


"It's ok mama, Reva tidak apa-apa, Reva sayang sama mama" ucap Reva sambil melepaskan pelukan papanya, dan mengusap air mata mamanya dengan menggunakan tangan mungilnya.


"Aduhh... kenapa jadi sedih seperti ini sih" ceplos Belinda sambil mengipasi matanya yang sudah mengembun.


Dewi juga ikut meneteskan air matanya, apa lagi ia menjadi saksi perjalanan hidup Alisya selama ini.


Bersambung


Happy reading guys🙏