
"Sekarang giliran Reynand" ucap Reynand membuat mereka semua menoleh kearahnya.
"Ada apa Rey" tanya mommy Renata.
Namun Reynand tak menjawabnya, dia berjalan mendekati kekasihnya lalu berlutut di hadapan Reva dan memegang tangan Re.
"Rey ada apa" tanya Reva bingung.
"Sayang, izinkan aku dengan segala perasaanku yang di titipkan tuhan ini untuk membuat pengakuan. Berjuta rasa yang tak mampu diungkapkan kata-kata. Dengan beribu cara kau selalu membuat ku bahagia. Kau adalah alasan dan jawaban atas semua pertanyaan, yang benar-benar kuinginkan hanyalah kau untuk selalu di sini ada untukku. Maukah kau tuk menjadi pilihanku? menjadi yang terakhir dalam hidupku. Maukah kau tuk menjadi yang pertama? Yang selalu ada di saat pagi ku membuka mata?." Reynand mengambil cincin dari kantong jas nya.
"Sayang, Will you marry me?" ucap Reynand.
Reva menatap tak percaya sambil menutup mulutnya, kekasihnya melamarnya tepat di hari ulang tahunnya, ia tak menyangka akan mendapatkan kado spesial di hari ulang tahunnya dari kekasihnya hingga membuat Reva meneteskan air matanya.
"Jawab kak Leva, Gavin nungguin ini" teriak Gavin menyadarkan Reva.
Sejenak Reva melihat ke arah orang tuanya, seolah minta persetujuan kepada mereka, Arsen, Alisya dan Erik kompak tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Yes i do" jawab Reva sambil tersenyum sekaligus menangis haru.
Reynand pun tersenyum lebar, akhirnya penantiannya selama ini tidak sia-sia.
Reynand mengambil cincin tersebut dan memakaikannya di jari Reva. Riuh suara tepuk tangan dari keluarga kedua belah pihak.
Usai itu Reynand berdiri dan memeluk wanitanya.
"Terima kasih sayang, terima kasih sudah mau menerima lamaranku" ucap Reynand senang.
"Tentu, bukankah akan rugi jika aku menolaknya" sahut Reva membuat suasana romantis ini menjadi ambyar.
"Dahlah, kamu mah tidak bisa di ajak romantis" kesal Reynand melepas pelukannya.
"Lalu kapan kalian akan menikah" cetus Renata.
"Bulan depan mom" sahut Reynand.
"Baiklah mommy akan menyiapkan pernikahan kalian berdua" ucap Renata senang, akhirnya putranya berhasil meminang Reva untuk menjadi menantunya.
Orang tua Reva menangis melihat putrinya yang sebentar lagi akan menjadi milik orang lain, tugas mereka hampir selesai untuk merawat dan mendidik putrinya karena ketika putrinya nikah nanti dia akan menjadi tanggung jawab suaminya.
Reva menghampiri mamanya yang terlihat sedang menangis.
"Mama kenapa? apa mama tidak bahagia melihat Reva di lamar Rey?" tanya Reva lembut kepada sang mama.
Di rengkuhnya tubuh sang putri kedalam pelukannya.
"Mamah bahagia sayang, mamah hanya sedih karena sebentar lagi putri mama akan menjadi milik orang lain" ucap Alisya.
"Meskipun nanti Reynand sudah menikahi Reva, tapi Reva akan tetap menjadi putri mama, putri cantiknya mama" sahut Reva menghibur mamanya.
"Masih ada Rachel yang juga menjadi putri cantik mama kak, jadi jangan terlalu percaya diri" kata Alisya membuat Reva merengut.
Alisya terkekeh sambil melerai pelukannya dan melihat wajah merajuk putrinya.
"Sudah mau nikah, tidak boleh ambekan" goda Alisya sambil mencubit kedua pipi putrinya.
Reva meninggalkan orang tuanya dan beralih ke sang nenek.
"Nenek lihat Reva sebentar lagi akan menikah, nenek harus cepat sembuh biar bisa mendampingi Reva di pernikahan Reva nanti" ucap Reva kepada sang nenek.
Siska hanya manggut-manggut seperti anak kecil sambil membelai pipi cucunya.
"Ya bagus, nenek memang harus semangat, nanti Reva akan mengantar nenek periksa" ucap Reva semangat sambil tersenyum.
Setelah itu Reva mendekatkan wajahnya ketelinga sang nenek.
"Nanti Reva akan buatkan cicit buat nenek" bisik Reva membuat Siska tersenyum senang sambil bertepuk tangan.
Semua menatap heran kepada keduanya.
"Hai kau membisikan apa kepada nenekmu sayang" tanya Erik penasaran.
"Itu rahasia, ya kan nek" sahut Reva mencari pembelaan kepada neneknya.
Siska mengangguk seolah membenarkan ucapan cucunya.
David hanya menggelengkan kepalanya melihat keakraban keduanya, Reva memang akan bertingkah konyol kalau sedang bersama Siska. Tak jarang Siska pun selalu di buat tertawa olehnya.
Hiksss.... Hiksss...
Tiba-tiba ada suara seseorang yang sedang menangis yang mengagetkan mereka.
"Siapa yang nangis pi, apa di atas hotel ini ada hantunya" seloroh Reva.
"Sembarangan aja kalau ngomong, itu lihat adikmu sedang nangis di pojokan" sahut Erik.
"Lah, kenapa dia nangis" bingung Reva melihat Gavin menangis.
Dia pun akhirnya menghampiri adik bungsunya itu.
"Kamu kenapa menangis Gav" tanya Reva bingung. Revan Ravin dan juga Rachel juga ikut mengerubungi adiknya.
"Dia kesambet setan di hotel ini kali kak" seloroh Ravin karena Gavin tak mau menjawab pertanyaan kakaknya.
"Serius kamu Vin, siram aja setannya pakai air Vin kali aja setannya akan pergi dari tubuh Gavin" goda Reva seraya melirik ke arah sang adik.
"Sebentar kak, Ravin ambil air dulu buat siram Gavin"
Baru juga Ravin berbalik badan sudah terdengar teriakan Gavin yang begitu melengking.
"DASAL PUNA KAKAK NDA ADA OTAKNA MEMANG, ADIKNA LAGI SEDIH MALAH DI BILANG KELASUKAN, GAVIN INI SEDANG SEDIH TAU TIDAK" pekik Gavin membuat semua menutup kedua telinganya.
"Kenapa kamu sedih Gav, bukannya harusnya kamu senang karena sebentar lagi kak Reva mau menikah" tanya Revan bingung.
"Senang, senang, Gavin sedih nanti kalau kak Leva menikah sama kak Ley nda ada yang belain Gavin lagi di lumah" ketus Gavin, srluppp sambil menarik ingusnya.
"Lah kan masih ada yang lain yang bisa belain Gavin" sahut Reva.
"Yang lain tidak ada yang belani lawan mama, meleka semua penakut" balas Gavin.
"Heh bocil, kita itu bukan takut, kita itu ngga mau jadi anak durhaka makanya tidak mau lawan mama, lagian nanti kalau mama marah sama kita siapa nanti yang akan ngasih uang saku kita" timpal Ravin tak terima di katai penakut.
Tentu saja Reva berani ngeyel sama mamanya, Reva kan sudah kerja jadi tidak takut lagi kalau tidak menerima uang jajan dari mamanya, sedangkan triplet yang ada nanti puasa di sekolah mana papanya juga takut sama mamanya.
"Alasan saja, bilang aja takut sama mama. wlee.... " ejek Gavin menjulurkan lidahnya
"Kamu aja takut, sok-sokan ngatain kita". timpal Rachel.
"Memangna kalau nanti Gavin di hukum mama nda di kasih susu, kak Lachel mau kasih Gavin susu?, dasal nda ada otakna memang" ketus Gavin tak mau kalah.
Reva pusing melihat perselisihan adik-adiknay, ia memilih duduk sambil makan kentang sambil nonton adiknya yang terus berdebat.
"Kamu kenapa malah diam saja sayang, itu adiknya pada berantem kan" ucap Reynand menghampiri tunangannya.
"Biarin saja, nanti kalau capek juga berhenti sendiri" sahut Reva.
Reynand mengacak rambut Reva gemas.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏
othor sudah up dari jam 10 malam guys, tapi belum di review sama pihak NT.