
"Listy" gumam Brian melihat Listy yang sedang menenangkan putranya.
Mata Brian terus memperhatikan kearah Listy, tatapannya tertuju kepada bayi yang sedang di gendong Listy.
"Lihatlah ken dia bangun, lucu sekali dia" ucap Listy mengangkat putranya dari kereta dorong.
"Dia terganggu mungkin Lis, makanya bangun" sahut Niken.
Di sela-sela makannya sesekali Listy dan Niken menggoda Fathan membuat bayi itu tersenyum.
Setelah menghabiskan makan siangnya mereka berdua beranjak dari resto tersebut, Brian mengikuti Listy dari jarak yang cukup jauh supaya Listy tak melihat dirinya sedang mengikutinya.
"Kenapa Listy ada di kota ini juga, kemana daddy? apa mereka masih mencariku" tanya Brian dalam hati.
Selama ini Brian tinggal di kota S, dia bekerja di perusahaan swasta sebagai manager keuangan untuk menyambung hidupnya.
Namun siapa sangka, dia melihat mantan kekasihnya di kota yang sama juga dengan dirinya.
Brian yang penasaran akhirnya memutuskan untuk mengikuti Listy, tak bisa di pungkiri Brian juga kangen dengan orang tuanya.
Brian terus mengikuti Listy sampai ke mobilnya, hingga mobil Listy berjalan pun Brian terus mengikutinya dari belakang.
Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit akhirnya mobil Listy sampai di rumah yang terlihat sederhana.
Ia memantau dari kejauhan, ia berharap bisa melihat daddy nya meskipun dari jarak jauh.
Tapi pada akhirnya Brian kecewa karena setelah menunggu lumayan lama, dia tidak melihat daddy nya keluar dari rumah tersebut.
Brian memantapkan hatinya mencoba menemui daddynya di rumah Listy, selama pergi dari rumah Brian mencoba berdamai dengan masa lalunya dan sedikit demi sedikit dia bisa memaafkan daddy nya. turun dari mobil dan melangkahkan kakinya mendekati rumah tersebut.
Brian mengetuk pintu rumah yang di tinggali Listy dan putranya.
Tok
Tok
Tok
Ceklek...
Listy mematung saat melihat Brian berdiri di depan pintu rumahnya. ia tak menyangka ternyata Brian mengikutinya hingga kerumahnya.
"Brian, kau.."
Listy langsung menutup pintunya namun keburu di tahan oleh Brian.
"Pergilah Bri, aku sudah tidak ada urusan lagi denganmu" usir Listy.
"Aku mau ketemu daddy" ucap Brian sambil menahan pintu rumah Listy.
"Daddy mu tidak di sini" sahut Listy.
"Maksudmu" tanya Brian tak paham.
"Daddy mu ada di rumahnya Bri" ucap Listy.
"Apa kamu meninggalkannya" tuduh Brian tersenyum sinis sambil melihat wajah Listy.
"Terserah kamu mau bilang apa Bri, yang jelas aku sudah tidak ada hubungan lagi denganmu dan juga daddymu" ucap Listy.
Brian mengerutkan dahinya mencoba mencerna ucapan Listy, apa benar wanita di hadapannya ini benar-benar sudah meninggalkan daddy nya, lalu gimana nasib bayi yang ada di kandungan Listy waktu itu.
"Jadi kau benar sudah pisah dengan daddy ku? apa kau sudah sadar karena daddy ku cacat makanya kau meninggalkannya." ucap Brian.
"Aku tidak sepicik itu Bri, aku punya alasan sendiri kenapa aku meninggalkan daddymu, kau tidak tahu masalah kami jadi jangan pernah kamu menuduhku tanpa tahu permasalahannya apa. Urusi hidup masing-masing karena selama ini aku juga tidak pernah mengusik hidupmu" tegas Listy setelah itu langsung menutup pintunya kasar.
Di Rumah Sakit.
Rachel masuk kedalam ruangan kakaknya dengan wajah diliputi emosi. Rachel memang sedikit manja namu kalau sudah menyangkut keluarga dia akan keluar karakter aslinya.
Bugh
Bugh
Bugh
Rachel masuk ke ruangan Reva langsung memukul wajah Reynand.
"Kenapa kau memukul ku Chel" tanya Reynand sambil menahan tangan Rachel yang ingin memukulnya lagi.
"Kakak bertanya kenapa?, harusnya Rachel yang bertanya kakak kenapa? kakak boleh bersedih, kakak boleh terpuruk karena melihat keadaan kak Reva seperti ini, tapi tolong jangan lupakan anak kakak, putri kakak juga butuh sosok ayahnya, sampai kapan kakak mau egois seperti ini hah.
"Kalau memang kakak belum siap memiliki anak, kakak harusnya dengerin ucapan papah, sudah berkali-kali papah melarang kak Rey menghamili kak Reva tapi apa yang kak Rey lakukan? kak Rey tetap nekat menghamili kak Reva, terus setelah kejadian seperti ini kak Rey menyalahkan putri kakak. Dimana otak kak Rey yang cerdas itu kak, kak Rey yang membuatnya tapi kak Rey sendiri yang menyalahkannya, apa putri kak Rey pernah bilang minta dilahirkan? tidak bukan? kalian yang membuatnya ia hadir ke dunia ini tapi kak Rey malah mengabaikannya, ini semua kehendak tuhan bukan kehendak putri kakak, dia hanya makhluk kecil yang tidak tahu apa-apa kak, bahkan sampai sekarang dia belum memiliki nama. BERHENTI EGOIS DAN BERHENTI MENYALAHKANNYA, bukan cuma kakak yang sedih tapi kita semua sedih melihat keadaan kak Reva seperti ini.
"Temui putrimu dan peluk dia" ucap Rachel.
Reynand bungkam sambil menundukkan kepalanya, dia merasa tertampar dengan ucapan adik iparnya.
Kini Rachel mendekati kakaknya yang masih setia memejamkan matanya.
"Sampai kapan kak Reva mau tidur seperti ini, apa kakak tidak ingin melihat putri kakak, dia cantik seperti kak Reva, tapi sayangnya suami kakak tidak mau mengurusnya, bahkan suami kakak juga tidak mau melihat putrinya, dia juga menyalahkan putri kakak atas keadaan yang menimpa kakak saat ini. bangun kak atau putri kakak selamanya tidak akan memiliki nama" ucap Rachel membuat tubuh Reva bereaksi dan kejang-kejang.
"Kak Reva kak" panggil Rachel panik.
Reynand langsung berdiri menghampiri adik iparnya yang terus berteriak.
"Ada apa Chel" tanya Reynand.
"Tubuh kak Reva kejang kak, cepat panggil dokter" ucap Rachel.
Reynand langsung berlari keluar kamar memanggil dokter dan juga perawat, dokter dan perawat masuk kedalam ruangan Reva langsung memeriksa keadaan Reva.
Usai memeriksa Reva, dokter tersenyum manis sambil menatap Rachel dan juga Reynand secara bergantian.
"Bagaimana keadaan istri saya dok" tanya Reynand khawatir.
"Istri anda berhasil melewati masa kritisnya tuan, mungkin sebentar lagi istri anda akan sadar" jawab dokter tersebut, membuat senyum di bibir Rey mengembang.
Rachel tersenyum lalau mendekati kakaknya lagi, di genggamnya tangan kakaknya.
"Kakak harus cepat sadar, kakak harus selamatkan putri kakak dari kekejaman suami kakak" ucap Rachel sambil melirik kakak iparnya sinis.
Reynand menghela nafas panjang, dari tadi adik iparnya itu terus menjelek-jelekkan dirinya di depan sang istri, namun di dalam hatinya Reynand juga mengucapkan terima kasih kepada adik iparnya, berkat adik iparnya istrinya mampu melewati masa kritisnya.
Entah apa yang akan di lakukan istrinya saat sadar nanti, dia siap meskipun istrinya akan memarahinya.
"Hubungi Rachel kalau kak Reva sadar, Rachel mau pulang ambil baby" ucap Rachel.
"Kenapa kamu repot-repot pulang, kamu bisa suruh mama ajak baby nya kemari" sahut Reynand.
"Tidak mau, Rachel males terlalu lama melihat muka kak Rey" ucap Rachel bikin jengkel.
Rachel akhirnya pergi meninggalkan ruangan kakaknya, ia ingin pulang dan memberi tahu kabar gembira ini kepada keluarganya.
"Ho-ney" gumam Reva dalam tidurnya.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏