Baby Girl

Baby Girl
BAB 45



Sedangkan di kamar Arsen. Arsen merasa terganggu dengan aktivitas tangan kecil di wajahnya. Tangan itu mengusap alis, mata dan sesekali memencet hidung Arsen sambil terkikik geli melihat Arsen yang kesulitan bernafas karena hidungnya ia pencet.


"Papa Alsen banun, Leva mau cekolah" ucap Reva sambil menepuk pipi Arsen.


Arsen masih setia pura-pura tidur, ia ingin memastikan panggilan gadis kecil itu kepadanya.


"Papa Alsen banun," ucap Reva lagi sambil menggoyang tubuh Arsen.


Arsen akhirnya membuka kedua matanya, ia terharu Reva mau memanggil dirinya dengan sebutan "papa" Arsen tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


"Reva tadi panggil om Arsen apa girl" tanya Arsen ingin memastikan sekali lagi.


"Papa" jawab Reva polos yang masih tengkurap sambil menindih setengah tubuh Arsen.


Arsen langsung memeluk Reva dan menghujani wajah Reva dengan kecupan-kecupan kecil, Reva terpekik karena kegelian.


"Bisakah Reva terus memanggil om Arsen dengan sebutan "papa" sayang" pinta Arsen sambil mengusap kepala Reva sayang.


"Ok papa Alsen" sahut Reva dengan wajah centilnya. Arsen gemes langsung memeluk tubuh Reva seperti guling, Reva tertawa terbahak-bahak sambil terus meronta ingin melepaskan diri dari rengkuhan Arsen.


"Anak papa Arsen menggemaskan sekali hmm" ucap Arsen yang melonggarkan sedikit pelukanya. Reva langsung meloloskan diri.


"Yeee akhilna Leva puna papa taya" sorak Reva dengan riang, sambil melompat lompat diatas kasur empuk Arsen.


"Sekarang Reva bisa minta apa saja pada papa, ok" ucap Arsen.


Arsen tersenyum sambil melhat Reva yang sangat bahagia. Arsen berjanji kepada dirinya sendiri ia akan memanjakan serta menyayangi Reva seperti putri kandungnya sendiri.


"Sekarang Reva harus mandi dulu, setelah itu papa akan mengantarkan Reva ke sekolah" ucap Arsen langsung membawa tubuh Reva dalam gendonganya. Reva mengalungkan kedua tangan mungilnya di leher Arsen.


Denga telaten Arsen membantu Reva menggosok gigi, terus menyabuni tubuhnya. Setelah selesai menyabuni Arsen menyiram tubuh Reva dengan air hingga bersih.


Setelah di rasa bersih Arsen mengangkat tubuh Reva dan membungkusnya dengan handuk.


Tugas Arsen tidak hanya di situ saja, ia masih harus membantu Reva memakai seragam sekolahnya.


Usai selesai semua Arsen mengajak Reva sarapan terlebih dahulu, Arsen melihat bundanya sedang menata makanan di atas meja makan.


"Celamat padhi oma" sapa Reva.


"Selamat pagi cucu cantiknya oma" jawab Belinda kemudian mengecup pipi Reva. Belinda membantu mengambilkan makanan untuk Reva dan juga Arsen.


"Berdoa dulu sayang, setelah itu baru makan" titah Belinda. Reva pun membaca doa mau makan dengan suara cadelnya. Belinda kagum dengan Alisya yang berhasil mendidik putrinya dengan begitu baik.


Setelah mereka selesai makan Arsen pun pamit kepada bundanya untu mengantar Reva ke sekolah.


"Oma Leva belangkat ke cekolah dulu ya" pamit Reva sambil mencium punggung tangan Belinda, di balas Belinda dengan mencium kening Reva.


"Belajar yang rajin sayang, jangan nakal di sekolah ya" ucap Belinda sambil mengingatkan Reva. Reva mengangguk patuh.


"Arsen juga berangkat dulu bund" pamit Arsen mencium tangan bundanya.


"Kau ke kantor nak" tanya Belinda. Dia heran karena akhir-akhir ini ia melihat Arsen yang rajin ke kantor, biasanya Arsen akan mengerjakan kerjaannya di rumah.


"Iya bund, ada yang mau Arsen urus" jawab Arsen sambil menggendong Reva.


"Kalau begitu hati-hati" ucap Belinda. Belinda ikut melambaikan tanganya ketika melihat Reva melambaikan tangan di gendongan putranya.


*


*


*


Dari sekolah Reva Arsen langsung bergegas menuju ke kantornya.



Arsen berjalan dengan wajah datarnya menuju lift khusus CEO, sesekali Arsen juga membalas sapaan karyawanya dengan anggukan.


Semua karyawan di kantor Arsen tidak boleh memotret atau membocorkan identitas Arsen, jika ada yang berani maka taruhanya ia akan di blacklist di seluruh perusahaan. Jadi tidak ada yang berani melanggar peraturan itu.


Arsen masuk ke ruanganya dengan di ikuti oleh Nino di belakangnya.


"Bagaimaa dengan hasil meeting kemarin No" tanya Arsen setelah menjatuhkan tubuhnya di kursi kebesarannya.


"Lancar tuan, ini berkas kerjasamanya" jawab Nino seraya memberikan berkas ke Arsen.


Tiap pagi Arsen akan menanyakan hasil kinerja bawahanya yang kemarin. Terutama Nino karena selama ini dia lah yang sering menggantikan posisi Arsen.


"Hari ini putra Dinata akan berkunjung kemari untuk menawarkan kerja sama tuan" jawab Nino yang kemarin sudah di hubungi oleh Erik. Arsen tersenyum yang terlihat licik di wajahnya.


"Masuk jebakan juga kau" batin Arsen.


"Kau setujui saja kerjasama nya, ini akan memudahkan kita untuk menghncurkanya nanti." sahut Arsen.


Selama ini Arsen sudah memikirkan langkah apa yang akan ia lakukan.


"Nino kau suruh orang untuk mencari tahu tentang Siska istri dari David Dinata, cari tahu kemana dia melakukan tes DNA untuk Reva"


Dan sekalian kau perketat penjagaan Reva, jangan sampai kita kecolongan lagi seperti kemarin" titah Arsen.


"Baik tuan" jawab Nino patuh.


Sedangkan di luar Erik sudah tiba di depan perusahaan Global Group. Dia berdiri sambil memandangi gedung kantor yang memiliki 15 lantai itu.


"Pantas saja perusahaan ini langsung berkembang, ternyata ia memindahkan kantor pusat yang di Eropa itu kesini. Aku begitu penasaran dengan sosok pemiliknya, katanya ia masih muda tapi dia bisa mengembangkan perusahaan nya sampai sebesar ini" gumam Erik yang masih terkagum kagum dengan bagunan lima belas lantai itu.


Erik berjalan dengan tampang angkuhnya mendekati meja reseptionist.



"Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu tuan" tanya Reseptionis dengan senyum ramah.


"Saya mau ketemu tuan Nino" jawab Erik dengan wajah datarnya.


"Maaf, apa sebelumnya tuan sudah membuat janji dengan beliau" tanya reseptionist.


"Sudah, panggil saya Erik dari perusahaan Dinata." sahut Erik. Reseptionis itu megangguk lalu menelpon sekretaris Nino.


"Bu ada tuan Erik dari perusahaan Dinata yang mencari tuan Nino" ucap reseptionist kepada sekretaris Nino.


"....."


"Baik" sahut reseptionist kemudian menutup panggilanya.


"Anda langsung di suruh naik ke lantai lima belas tuan. Tuan Nino sudah menunggu anda di ruangannya. Lift nya ada di sebelah kanan tuan" ucap Reseptionist sambil menunjuk keberadaan lift nya.


"Terima kasih" pamit Erik. Kemudian melangkah menuju lift yang tadi sudah di beri reseptionist.


Ting


Pintu lift terbuka, Erik pun masuk kedalam lift setelah pintu tertutup Erik memencat tombol 15 sesuai tujuannya.


Ting


Tak lama list yang Erik tumpangi tiba di lantai 15 dimana ruangan Nino berada.


Tok


Tok


Tok


Erik mengetuk pintu ruangan Nino.


"Masuk " terdengar suara dari dalam yang menyuruhnya masuk.


Ceklek....Sekretaris Nino membukakan pintu untuk Erik.


"Masuklah tuan, beliau sudah menunggu anda di dalam" titah sekretaris Nino.


Bersambung


Sementara waktu kita abaikan Alisya dulu ya guys


Jangan lupa


Like


Koment


Vote


Happy reading guys🙏💕