
Aldrik menghentikan langkah David penasaran. "David Stop ! Ada apa? Kenapa kamu buru-buru sekali setelah menerima panggilan dari asistenmu itu" tanya Aldri.
David menghentikan langkahnya. "Perusahaan kita dalam masalah besar Dad, harga saham kita turun drastis, kita bisa di nyatakan bangkrut jika tidak mencari solusinya segera." jelas David. "David harus cepat sampai kantor Dad" lanjutnya.
Aldrik langsung bangkit dari duduknya. "Daddy ikut" ucap Aldrik di balas anggukan oleh David.
Erik juga langsung mengikuti mobil daddy nya dari belakang menuju ke kantor dengan kecepatan dia atas rata-rata.
Siska panik mendengar percakapam suaminya dengan mertuanya itu, dia tidak mau kalau perusahaan milik suaminya bangkrut begitu saja. "bagaimana ini, aku tak mau menjadi miskin". Siska bermonolog sambil mondar mandir kesana kemari.
Sementara di kantor David.
Dengan langkah tergesa David memasuki ruang kerjanya dengan di ikuti oleh Aldrik dan juga Erik.
Tak lama Riko masuk ke ruang David sambil membawa laporan.
"Bagaimana Riko? apa kamu sudah tahu penyebabnya?" tanya David.
"Saya tidak tahu tuan, semua ini terjadi begitu cepat" jawab Riko menunduk.
"Apa sudah tidak ada cara lagi untuk menyelamatkan perusahaan ini Riko" tanya David putus asa.
Riko menduduk sambil menggelengkan kepalanya. "Sudah tidak ada jalan keluar lagi tuan, saya sudah menghubungi semua relasi bisnis kita namun tidak ada satupun yang mau membantunya" cicit Riko.
Brakkk
David memukul meja kerjanya, dia sangat marah dengan semua kejadian yang menimpanya hari ini.
"Keluar..." Bentak David marah.
Dia meremas rambutnya frustasi.
"Bagaimana ini Dad, para pemegang saham juga meminta untuk segera melakukan meeting darurat untuk menyelesaikan permasalahan ini" ucap David.
Aldrik limbung, dia menjatuhkan tubuhnya di sofa."Aku yakin ini ada kaitannya dengan perbuatan Siska kemarin, tidak mungkin perusahaan kita tiba-tiba jatuh merosot tanpa sebab" lirih Aldrik memijat pelipisnya pusing.
David menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Pemegang saham pasti akan menyalahkan kita dad, terutama tuan Arsen dia akan mencari celah untuk menjatuhkan kita, terlebih istrinya itu pemilik saham mayoritas di perusahaan ini" ucap David tertekan.
Aldrik meraup wajahnya kasar kasar, dia geram dengan ulah menantu dan juga cucunya. Aldrik menatap tajam cucunya penuh amarah. "Kamu bodoh Erik, kenapa kamu malah mengikuti ulah mommy mu hah, opa sudah bilang jangan asal bertindak tapi kalian malah mengabaikannya. Sebelum kamu bertindak kamu harus kenali dulu lawanmu, tuan Arsen bukan orang yang mudah untuk di singgung. "hardik Aldrik.
Dari awal Aldrik sudah memperingati keluarganya untuk tidak ceroboh. Karena Aldrik sedikit tahu tentang Arsen dari desas desus yang dia dengar.
Erik tak terima di salahkan begitu saja. "Opa tapi Erik punya hak untuk menemui Reva, karena Reva darah daging Erik bukan tuan Arsen." balas Erik tak mau kalah.
Ingin rasanya Aldrik menjedotkan kepala cucunya itu ke dinding. Apa selama ini cucunya tidak sadar, sebelum keluarganya yang menolak Alisya bahkan cucunya sudah menolaknya lebih dulu. "Kamu bisa meminta baik-baik kepada Alisya untuk menemui Anakmu itu, bukan malah kalian menghasutnya bo*oh, kau pikir tuan Arsen tidak akan tahu dengan tindakanmu itu hah, bahkan tuan Arsen menyiapkan bodyguard di samping putrimu itu, apa kamu tidak bisa berpikir sedikitpun Erik." marah Aldrik.
"Kamu juga harus menghargai Viona istrimu, mulai lah menerima kehadirannya Erik. Dia sedang hamil anakmu dan hanya dialah harapan kita satu-satunya untuk bertahan hidup" lanjut Aldrik memperingati cucunya yang keras kepala.
......................
Sementara itu kabar perusahaan Dinata yang mengalamai krisis pun sudah tersebar di semua penjuru, terutama di telinga Hendrawan ayah Viona.
Hendrawan sedang berdiskusi dengan putrinya di ruangannya sambil membicarakan perusahaan Dinata.
"Papa dengar perusahaan Dinata sedang mengalami krisis" ucap Hendrawan memecah kesunyian.
Viona menyandarkan tubuhnya lelah. "Viona tidak tahu dan juga tidak peduli pa" jawab Viona santai.
Dia khawatir kalau selama ini putri semata wayangnya di perlakukan tak adil oleh keluarga Dinata, karena dia tahu kalau dari dulu putrinyalah yang lebih dulu mencintai Erik.
"Viona dan calon cucu papa baik-baik saja, papa tak perlu khawatir dengan Viona." jawab Viona bohong.
"Lantas langkah apa yang akan kamu ambil setelah keluarga suamimu mengalami kebangkrutan nak" tanya Hendrawan.
Meskipun Hendrawan menikahkan Viona dengan pernikahan bisnis, tapi bukan berarti dia akan memaksa putrinya untuk menceraikan suaminya secara sepihak.
Hendrawan tak ingin egois, dia akan mengutamakan perasaan putrinya terlebih dahulu, kalau sudah di rasa keterlaluan makan dia akan turun tangan untuk mengambil keputusan. Sementara ini dia akan meyerahkan semuanya kepada putrinya itu.
"Viona tetap akan bertahan dengan Erik pa, ada satu masalah yang mesti Viona selesaikan dengan Erik" jawab Viona.
Viona masih penasaran dengan masa lalu Erik dengan Alisya, dia akan mencari tahu terlebih dahulu.
Drttt......Drrrtttt
Tak lama ponsel milik Viona berdering memecah kesunyian di ruangan itu, Viona melihat layar ponselnya, ternyata orang suruhannya yang menghubunginga.
"Bagimana" tanya Viona langsung.
Hendrawan mengerutkan dahinya memperhatikan putrinya yang sedang menerima telpon.
"......"
"Kirim bukti informasi itu langsung ke emailku, setelah itu aku akan membayar sisanya"perintah Viona.
"......."
Viona memutuskan panggilannya.
Hendrawan menatap putrinya penasaran. "Apa yang sedang kamu cari nak" tanya Hendrawan.
Viona mengambil nafas dalam-dalam. "Viona lagi mencari tahu masa lalu Erik dengan Alisya istri tuan Arsen pa, Viona merasa ada sesuatu yang di sembunyikan keluarga itu dari Viona" jawab Viona.
"Maksudnya bagaimana nak? Papa tidak ngerti" tanya Hendrawan.
Viona membatalkan niatnya untuk bercerita kepada papanya, karena dia mendapat notif email masuk dari anak buahnya.
Viona membuka email tersebut, dia kaget dengan informasi yang dia dapat, dugaan nya ternyaya benar. Viona menjatuhkan ponselnya ke atas meja.
Hendrawan yang penasaran langsung menyambar ponsel putrinya yang tergeletak dia atas meja. Dia membaca satu persatu kalimat yang tertera di layar ponsel Viona.
"Bagaimana bisa" lirih Hendrawan terkejut.
Hendrawan mengalihkan pandangannya ke wajah putrinya, dia bisa melihat wajah kecewa di kedua manik putrinya itu.
"Jelaskan sama papa nak? Apa maksud semua ini" pinta Hendrawan.
"Ternyata putri tuan Arsen yang kita lihat di pesta perusahaan Global Group itu putri kandung Erik yang tak di akui Erik pa" lirih Viona dengan nada yang tercekat di tenggorokan.
"Bahkan semua keluarga Dinata juga tidak mengakui cucunya sendiri kecuali Rani. Dan kemarin Viona melihat Erik dan juga Mommy menemui putri Alisya di sekolahnya, makanya Viona curiga lalu mencari informasi tentangnya" lanjutnya. sambil meneteskan cairan bening dari kedua matanya.
Bersambung
Happy reading guys🙏