Baby Girl

Baby Girl
BAB 129



Sebelum pulang ke rumah, Arsen menyempatkan membeli makanan yang di inginkan Reva, ia membungkusnya untuk di bawa pulang sekaliam membawakan cemilan untuk istri serta bundanya.


Mobil yang di kendarai Arsen tiba di rumahnya. Arsen menggendong putrinya masuk ke dalam rumah sambil membawa makanan yang tadi sempat ia beli di jalan.


Arsen mencari keberadaan istri dan ketiga anak nya di kamarnya. Sebenarnya triplet sudah memiliki kamar sendiri, namun Alisya sebagai ibu ingin merasa dekat dengan putra putrinya sehingga Arsen memindahkan box bayi kedalam kamarnya.


"Mama...Leva pulang ini" pekik Reva masih dalam gendongan Arsen.


Alisya yang sejak tadi sibuk menyusui bayinya mengalihkan pandangannya ke asal suara.


"Putri cantik mama sudah pulang ternyata. Mama kira kamu sudah lupa sama mama" sahut Alisya memberikan sindiran untuk putrinya itu.


Reva merotasi bola matanya malas, baru pulang mamanya sudah menyebalkan.


"Tak mungkin Leva lupa sama mama, nanti nda ada lagi yang suka malahin Leva" sahut Reva.


"Terus kenapa dari kemarin kamu baru pulang" tanya Alisya sinis.


"Kan di suluh papa, katanya suluh nginep di lumah papi Elik, belati papa yang halus di malahin bukan Leva" Balas Reva tak mau di salahkan. "Papa juga balu jemput Leva di lumah onty Lani" lanjutnya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Alsan saja kamu" ketus Alisya. perdebatan seperti inilah yang Alisya rindukan dari putri sulungnya super ngeyel itu.


Arsen menghela nafas panjang sambil menurunkan putrinya dari gendongannya.


"Leva itu sudah mau pulang mama, tapi papa nda jemput-jemput Leva, papi Elik kan kelja jdi nda bisa antal Leva pulang. Mau naik taksi tapi Leva nda puna uang, mama kan nda kasih Leva uang" ucap Reva banyak alasan.


"Cih, sok-sokan mau naik taksi, kamu itu masih piyik, yang ada nanti kamu di culik" cibir Alisya.


Reva cengengesan sambil berjalan menuju ke box bayi dimana adiknya berada, dia juga sebenarnya tidak berani kalau naik taksi sendiri.


"Kamu bawa apa honey" tanya Alisya melihat bungkusan di atas nakas.


"Makanan nya Reva sayang" jawab Arsen.


"Terus buat aku mana? Kenapa cuma beli buat Reva saja" rengek Alisya.


"Ya ampun sayangku, cintaku, istri tercintaku, tentu saja aku membelikan untukmu juga" gemes Arsen, istrinya masih suka cemburu dengan putrinya itu.


Alisya nyengir kuda, Arsen yang gemes, memeluk dan mengecupi bibir istrinya itu.


"Papa, bantuin Leva gosok gigi, jangan cium-cium mama telus" ucap Reva.


Kedua pasangan suami istri itu larut dalam kemesraannya melupakan keberadaan putrinya yang masih berada di kamar itu.


Suara Reva menyadarkan Arsen, Arsen melepas rengkuhan pada tubuh istrinya. Wajah Alisya bersemu merah seperti orang yang habis ke cyduk.


"Belmeslaan telus sampai lupa sama anaknya" omel Reva.


"Eh iya, ayo sayang papa bantu, cuci tangan dan kaki saja ya, gosok giginya nanti setelah kamu makan" ucap Arsen setelah berhasil menetralkan rasa malunya.


"Telselah papa saja" ketus Reva yang sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.


Arsen membantu putrinya membersihkan kaki serta kedua tangannya. Setelah selesai Arsen membawa putrinya itu keluar kamar mandi.


Sedangkan Alisya setelah menaruh bayinya ke dalam box, ia menyiapkan makanan yang tadi di bawa suaminya di atas meja.


Arsen dan Alisya serta Reva memakan aneka cemilan yang di beli Arsen, mulai dari martabak manis, martabak telur dan masih ada yang lain.


Arsen membelikan itu semua untuk istrinya juga, istrinya itu terkadang meskipun sudah makan masih saja merasa lapar, mungkin karena menyusui ketiga anaknya itu.


Setelah menemani istri serta anaknya makan Arsen mengambil Baby Rachel dari box bayi, putrinya itu masih terjaga belum mau tidur.


Sedangkan Reva masih sibuk makan jajanannya. Reva termasuk anak yang bisa makan apa aja. Dia tak pernah pilah pilih makanan, apa lagi berhubungan dengan telur. Dia akan langsung memakannya.


Belinda yang merasa kesepian pun memutuskan datang ke kamar Alisya ingin bermain dengan cucunya.


Ceklek.... Belinda membuka pintu kamar Alisya.


Arsen dari dalam menoleh ke arah pintu.


"Ada apa bund?" tanya Arsen yang masih menggendong Rachel.


"Tidak, bunda hanya kesepian saja" jawab Belinda sambil duduk di sebelah Reva.


"Makanya menikah lagi aja, biar tidak kesepian" seloroh Arsen.


"Sembarangan kalau ngomong, bunda sudah tua dan sudah punya cucu banyak, ngapain nikah lagi" omel Belinda. Arsen hanya nyengir kuda.


Bundanya terlalu mencintai mendiang ayahnya, sampai sekarang jika Arsen menyuruhnya nikah lagi dia tidak pernah mau.


"Kamu sudah mendapatkan baby sitter untuk triplet belum Ar?" tanya Belinda mengalihkan pembicaraan.


"Belum bund, aku baru tadi menyuruh Nino untuk mencarinya" jawab Arsen, Belinda mengangguk mengerti.


"Sepertinya putrimu nyaman berada di gendonganmu Son" ucap Belinda.


"Tentu saja bund, dia kan ayahnya, dan dia sepertinya akan menjadi ayah yang posesif untuk putrinya itu" sahut Alisya.


"Biarin saja, mereka kan putri Arsen, jadi tidak ada yang boleh sembarangan mendekatinya" ucap Arsen posesif.


Alisya dan Belinda tersenyum kecut sambil geleng-geleng menatap Reva iba, sepertinya jika sudah besar nanti Reva dan Rachel akan di jaga ketat oleh ayahnya yang posesif itu.


Namun Alisya bersyukur mendapat suami seperti Arsen, meskipun dia terkenal menakutkan di luar tapi suaminya itu akan berubah hangat ketika berada di rumah.


Selama Alisya melahirkan di rumah sakit Arsen akan selalu membantu istrinya dalam merawat triplet. Jika tengah malam kembar bangun, maka Arsen akan bangun terlebih dahulu untuk menenangkan putra putrinya dalam gendongannya.


Alisya selalu di buat kagum dengan sikap suaminya yang cekatan dalam merawat putra putrinya. Alisya terus menatap Arsen yang sedang menggendong Rachel sambil mengajaknya ngobrol, meskipun putrinya itu belum mengerti.


"Kamu lagi ngapain sayang" tanya Belinda pada Reva.


"Leva lagi makan maltabak oma, oma mau nda?" jawab Reva lalu menawarkan makanan kepada sang oma.


"Tidak sayang, buat Reva semua" jawab Belinda sambil mengelus kepala Reva.


"Leva sudah kenyang oma, lihat pelut Leva besal, hihihi" ucap Reva sambil menunjukkan perut buncitnya.


"Kalau sudah kenyang ya berhenti sayang, jangan ngunyah terus" sindir Belinda. Reva tertawa memperlihatkan deretan giginya.


"Ayo sekarang minum, setelah itu gosok gigi dan tidur sama oma" titah Belinda. Reva mengangguk patuh.


Bukan Belinda tak memperbolehkan Reva tidur bersama orang tuanya, akan tetapi si kembar kalau tengah malam suka tiba-tiba bangun, nanti yang ada tidur Reva terganggu, kasihan kalau nantinya malah kurang tidur.


Belinda membawa Reva keluar dari kamar orang tuanya. Arsen menaruh baby Rachel kedalam box nya setelah bayi itu terlelap.


Alisya berdiri di balkon kamar sambil menikmati semilir angin malam yang membelai wajah yang cantik, hingga membuat Alisya enggan untuk beranjak. Alisya sangat menikmati suasana seperti ini, ia menegadahkan wajahnya ke atas sambil menatap langit yang gelap di penuhi dengan bintang-bintang yang menambah keindahan langit itu.


Alisya merasakan kehadiran seseorang, tiba-ttiba ada kedua tangan yang melingkar di perutnya, Alisya tahu kalau yang memeluknya adalah suaminya.


"Kenapa masih di luar hmm" tanya Arsen lembut sambil menyandarkan dagunya di bahu Alisya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, baby" tanyya Arsen.


"Emmm....Apa setelah kelahiran si kembar kamu akan tetap menyayangi Reva, honey" tanya Alisya sambil menatap lurus ke depan.


"Pertanyaan macam apa itu, sudah pasti aku akan tetap menyayanginya. Di saat aku memutuskan menikahimu, di saat itu juga aku sudah menganggap Reva seperti anak kandungku sendiri baby, meskipun kita terkadang terlibat perdebatan yang sengit, tapi itu semua tidak mengurangi rasa sayangku kepadanya." jelas Arsen.


Alisya membalikkan badan menghadap suaminya, ia menatap mata suaminya dengan seksama.


"Maaf, bukan maksudku meragukan kasih sayangmu, tapi aku hanya takut nantinya kamu akan membeda-bedakan kasih sayangmu antara kembar dan Reva." ucap Alisya.


"Aku tahu perasaanmu. Tapi tolong jangan pernah kamu ragukan kasih sayangku untuknya" ucap Arsen menatap kedua mata istrinya dalam.


"Maaf, maafkan aku... Jika perkataanku menyakiti perasaanmu" ucap Alisya sesal.


Arsen membawa istrinya kedalam pelukannya. Alisya meneteskan air matanya di dalam pelukan suaminya, Arsen mengecupi puncak kepala istrinya serta mengelus punggung istrinya yang bergetar.


Alisya hanya takut, suatu saat Arsen akan berubah dan membedakan anak kandungannya dengan Reva, bagaimanapun juga Reva hanya anak sambung bagi Arsen.


"Jangan terlalu banyak berpikir, sekarang lebih baik kamu segera tidur, mumpung kembar sudah terlelap" ucap Arsen sambil mengurai pelukannya.


Arsen membawa istrinya masuk kedalam kamar. Alisya membaringkan tubuhnya di atas ranjang, Arsen ikut naik ke atas ranjang lalu ikut merebahkan diri di samping istrinya.


Arsen memeluk Alisya supaya istrinya itu cepat terlelap. Tak lama terdengar dengkuran halus dari istrinya. Arsen pun ikut terlelap mengarungi alam mimpi, kebetulan dia besok harus ke kota B untuk meninjau proyek yang sedang di bangun.


...****************...


Pagi hari, Reva sudah rapih dengan seragam sekolahnya begitu juga Arsen yang sudah rapih dengan pakaian kantornya.


Mereka sedang sarapan bersama di meja makan. Setelah selesai Arsen pamitan kepada istrinya.


"Baby, mungkin hari ini aku akan pulang telat, aku harus ke kota B terlebih dahulu" ucap Arsen.


"Kamu sama siapa kesananya" tanya Alisya.


"Sama Nino, aku langsung pulang kok.. Tidak menginap" jawab Arsen.


"Kalau begitu hati-hati, jangan lupa memberi kabar" ucap Alisya mengingatkan suaminya.


Alisya mencium punggung tangan suaminya, kemudian Arsen mencium kening serta bibir istrinya.


Arsen akan mengantarkan Reva ke sekolahnya terlebih dahulu, setelah itu baru pergi ke kantor.


"Sayang, nanti yang jemput om Max ya" pesan Arsen ketika sudah sampai di sekolah Reva


"Iya papa" jawab Reva.


"Ingat, jangan nakal dan belajar yang rajin, kalau baik nanti pulang kerja papa akan belikan mainan untukmu" ucap Arsen.


"Iya papa" ucap Reva kalem.


Bersambung


Happy reading guys🙏