Baby Girl

Baby Girl
S2~95



Hari berjalan begitu cepat, kandungan Reva sudah memasuki usia sembilan bulan, Malam ini Arsen meminta semuanya kumpul di rumahnya, karena sudah lama mereka tidak kumpul bersama, apalagi Erik yang semakin sibuk semenjak mengambil alih perusahaan Dinata.


Di dapur Reva sedang membuat teh hangat untuk suaminya, tak lama Reynand menyusul istrinya ke dapur.


"Sayang, kamu lagi ngapain" tanya Reynand sambil memeluk Reva dari belakang.


"Aku sedang membuat teh untuk kamu honey, kamu tidak boleh minum kopi terus" sahut Reva membuat Reynand berdecih


"Ck, memangnya kapan aku minum kopi" tanya pria itu sambil meletakkan dagunya di bahu sang istri.


"Tadi pagi itu apa honey, emang kamu pikir yang kamu minum tadi pagi itu jamu" omel Reva.


Reynand tertawa kecil melihat istrinya mengomelinya, memang seharian ini dirinya sudah minum tiga gelas kopi.


"Anak daddy, nanti kalau sudah lahir kamu jangan cerewet seperti mommy ya" ucap Reynnad sambil mengelus perut buncit istrinya.


"Hai maksudnya apa. biar cerewet begini yang penting sayang sama kamu, lagian aku yang mengandungnya sudah pasti dia akan meniru ibunya" protes Reva tidak terima.


"Sayang, tapi aku yang membuatnya, jadi dia harus seperti aku" sahut Reynand tak mau kalah.


"Tanpa aku kamu tidak bisa membuatnya sendiri honey" ucap Reva dengan senyum mengejek.


Reynand yang kesal langsung menggigit leher jenjang istrinya gemas.


"Aaa.... sakit" pekik Reva sambil memukul tangan Reynand yang melingkar di perutnya.


"Rasakan, siapa suruh ngeselin" ucap Reynand sambil menciumi bekas gigitannya yang ada di leher sang istri.


"Ini namanya penganiayaan honey" rajuk Reva sambil membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Reynand.


"Tapi kamu suka di aniaya sayang, apalagi di atas ranjang" Sahut Reynand dengan mengerlingkan matanya nakal.


Wajah Reva langsung merona, dia memang tidak pernah menolak kalau di ajak suaminya melakukan adu kekuatan dia tas ranjang, terkadang dia juga memintanya lebih dulu, dan senang hati Reynand akan mengabulkan permintaan istrinya.


Reynand menautkan bibirnya ke bibir sang istri, dia me lu mat bibir Reva dengan begitu lembut.


"Khem"


Dehem Revan yang ingin mengambil air di dalam kulkas, tak sengaja dia melihat bibir kakaknya saling bertaut satu sama lain.


"Tolong hargai kami yang masih di bawah umur kak, kalau sudah tidak kuat mending ke ke kamar aja" sindir Revan setelah itu dia melenggang pergi meninggalkan sepasang suami istri yang sedang di mabuk asmara.


Reynand langsung melepaskan tautannya dari bibir Reva, mereka berdua salah tingkah karena ke cyduk sama adiknya.


"Kamu sih honey main nyosor aja" kesal Reva sambil memukul dada istrinya.


"Tapi kamu juga tidak menolak sayang" sahut Reynand tak mau di salahkan.


"Bagaimana ini sayang? aku malu"


"Ngapain malu, lagian Revan sudah besar ini"


Reynand dan Reva kembali ke halaman belakang menghampiri keluarganya.


"Kalian dari mana saja kenapa lama sekali?" tanya Alisya.


"Emm...kami habis dari dapur mam" sahut Reva yang nampak sedikit canggung karena ada Revan di tempat itu.


Reva dan Reynand mendudukan tubuhnya di kursi yang kosong.


"Kak Leva" panggil Gavin.


"Reva Gav, kamu sudah besar masih aja ngga bisa ngomong R" sahut Reva meledek adiknya.


"Gavin sudah belusaha kak Leva, tapi lidah Gavin suka kesleo kalau ngomong huluf L" ucap Gavin alasan.


"Terserah kamu saja lah" ucap Reva merotasi bola matanya malas.


"Kak Leva nda boleh gitu, nanti kalau dedek bayina milip sama Gavin balu tahu lasa" seru Gavin.


"Mana bisa gitu, pasti dia akan ngikutin kak Reva atau kak Rey" sahut Reva.


Alisya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putra bungsunya itu, tapi dengan adanya Gavin membuat suasana menjadi ramai.


"Memangna dedek bayina cewek apa cowok?" tanya Gavin ingin tahu.


"Doain aja cowok, biar bisa gelut sama kamu" jawab Reva.


"Sayang, kamu ini anaknya belum lahir sudah di suruh gelut aja sih" timpal Erik tak habis pikir dengan putrinya.


"Biarin aja papi, habisnya dia ngajak berantem mulu" rengek Reva manja.


Gavin tak menghiraukan kakaknya yang sedang mengobrol dengan papinya. Dia mengulurkan tangannya dan memberanikan diri mengusap perut besar kakaknya.


"Pelutna besal sekali, sepelti balon" gumam Gavin sambil mengelus-elus perut sang kakak.


Reva hanya diam membiarkan adiknya mengusap perutnya. Sampai akhirnya Gavin berteriak karena merasakan perut kakaknya bergerak, sepertinya bayi yang ada di perut Reva merespon usapan tangan Gavin.


"Kak Leva pelutna mau meletus" teriak Gavin polos, sambil berusaha turun dari kursinya, bocah itu ingin kabur menghindari ledakan dari perut kakaknya.


Semua orang menepuk keningnya melihat kehebohan Gavin. perut Reva kerena pergerakan bayina bukan mau meletus.


"Duduklah Gav, itu dedek bayinnya bergerak bukan mau meletus" ucap Erik melihat raut wajah ketakutan Gavin.


"Belgelak?" tanya Gavin ragu.


"Iya dedek bayina sedang berenang makanya bergerak" sahut Erik asal langsung dapat pukulan dari istrinya.


Erik nyengir sambil menatap istrinya yang menatapnya tajam.


"Sssttt...." ringis Reva karena bayina tidak bisa diam.


"Kenapa sayang" tanya Reynand khawatir.


"Gerak terus honey" sahut Reva.


"Hai anak dady, berhentilah, kamu menyakiti mommy mu" ucap Reynand sambil mengusap perut istrinya lembut.


Bayinya memang berhenti bergerak tapi semakin lama Reva merasakan perutnya semakin sakit.


Reva mencengkram erat tangan Reynand dan juga tangan Gavin yang kembali sudah duduk disebelah kakaknya.


"Aduhhh... honey" pekik Reva


"Akhh.... Mamah" teriak Gavin kesakitan.


Mereka berdua berteriak bersamaan membuat semua orang bingung.


"Loh kalian kenapa berteriak? " tanya Alisya.


"Kak Leva na cengklam tangan Gavin mamah, bantu lepasin mah sakit" sahut Gavin meringis.


Alisya bangkit dari tempat duduknya dan mendekati sang putra.


"Honey... perut aku, Akhhh.... " teriak Reva.


"Sayang, kamu kenapa teriak? ada apa sayang?" tanya Reynand.


"Perutku sakit, honey" ucap Reva.


"Hah?"semua terkejut.


"Sayang ayo kita ke rumah sakit" ucap Reynand.


"Cepat bawa Reva ke rumah sakit Rey, sepertinya istrimu mau melahirkan" ucap mommy Renata membuat semua orang panik dan heboh.


Tanpa menunggu lama lagi Reynand langsung menggendong Reva.


Alisya naik ke atas mengambil perlengkapan Reva dan bayinya yang sudah Alisya siapkan dari jauh-jauh hari.


Sedangkan yang lain ikut Reva dan Reynnad ke rumah sakit.


🌹🌹🌹


"Rey gimana keadaan Reva" tanya Alisa yang baru sampai di rumah sakit.


"Reva masih di dalam sama mommy dan mami" sahut Reynand.


"Kenapa kamu diluar Rey, harusnya kamu temani istrimu lahiran" ucap Alisya.


"Rey tidak tega melihat Reva kesakitan mah" lirih Reynand dengan mata berkaca-kaca.


Bersambung


Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏