
"Bagaimana keadaan istri saya dok" tanya Reynand saat melihat dokter keluar dari ruangan istrinya.
Dokter tak langsung menjawab, dia mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya lewat mulut.
"Istri anda mengalami pendarahan yang mengakibatkan istri anda koma, beliau kehilangan banyak darah dan kondisinya juga lemah" ucap Dokter.
"Apa? bagaimana bisa" tanya Reynand tak percaya dengan apa yang di ucapkan dokter.
"Maafkan kami tuan, kami akan berusaha menyembuhkan istri anda" ucap dokter.
Air mata Alisya langsung luruh begitu saja tanpa bisa di bendung, Arsen memeluk erat istrinya.
"Mom, Reva mom" ucap Reynand histeris.
"Reva kuat boy, Reva pasti bisa melewati ini semua" ucap Renata sambil menepuk bahu putranya.
Perawat keluar sambil membawa bayi mungil berjenis kelamin perempuan, Reynand yang melihat pun langsung melengoskan wajahnya, dia tak mau sedikitpun menatap sang putri.
"Tuan, anda bisa mengadzani putri anda" ucap perawat kepada Reynand.
Reynand tak bergeming, di masih saja memalingkan wajahnya tanpa mau menatap sang putri.
"Biar saya saja yang mengadzaninya sus" sela Reagan mengambil alih bayi mungil itu dan mengadzani nya.
Mommy Renata menangis menatap cucunya yang sedang di adzani oleh suaminya.
Ia kasihan melihat cucunya yang baru lahir sudah mendapat cobaan sebesar ini, ibu yang koma dan ayah yang mengabaikannya.
"Kamu harus kuat demi cucu kita mam" ucap Arsen.
"Aku merasa kasihan dengan cucuku, baru lahir dia sudah mendapat cobaan seperti ini" sahut Alisya.
"Kita berdoa saja minta yang terbaik mom, papah yakin cucu kita kuat seperti mommy nya" ujar Arsen menenangkan istrinya.
Setelah di adzani Reagan kembali memberikan bayi mungil itu ke perawat. perawat pun membawa bayi mungil itu ke ruang khusus bayi.
Tak lama setelah perawat pergi membawa bayi tersebut, Reynand melihat tubuh Reva yang terbaring pucat dia atas brankar yang di dorong oleh perawat. Reynand semakin lemah melihat istrinya yang masih setia memejamkan matanya.
"Sayang sadarlah, aku mohon jangan tinggalkan aku" ucap Reynand memegangi tangan istrinya.
Renata menarik tangan putranya, dan membiarkan perawat membawa Reva keruang perawatan terlebih dahulu.
"Jangan seperti ini boy kasihan Reva, kamu harus membuat istri kamu bangun, kasihan putrimu membutuhkanmu" ucap Renata menasihati putranya.
Ibu mana yang tak merasakan hancur saat melihat putranya kacau seperti ini, sebelumnya Renata tidak pernah melihat putranya sekacau ini.
"Mommy urus aja bayi itu, Rey tidak mau mom karena dia istri Rey seperti ini" ucap Rey melenggang pergi menuju ke ruang perawatan istrinya.
Renata semakin tak kuasa menahan tangisnya melihat putranya seperti ini, bahkan dengan tega putranya itu menyalahkan putrinya sendiri.
"Biarin saja mom, mungkin dia butuh waktu" ucap Reagan.
Putranya sedang dalam keadaan kacau, akan sangat sulit untuk menasihatinya.
"Kenapa putraku jadi seperti ini pah, bahkan dia tak mau sedikitpun melihat putrinya, dia justru menyalahkan putrinya atas kejadian yang menimpa Reva" ucap Renata menangis.
Viona juga menangis sambil menguatkan suaminya. suaminya paling lemah kalau sudah berurusan dengan putrinya.
Dari kecil sudah banyak cobaan yang putrinya lalui, sehingga dia tak rela melihat putrinya terbaring lemah tak berdaya seperti ini, jika bisa di gantikan ia rela menggantikan posisinya.
"Sayang" ucap Erik menangis.
"It's okay, semua akan baik-baik saja" ucap Viona.
Dari kejauhan Revan melihat semua keluarganya menangis melihat kakaknya koma pasca melahirkan bayinya.
Pria muda itu memang tak pandai mengekspresikan kesedihannya, dia hanya diam membisu memperhatikan semuanya.
Dari luar kaca Revan memperhatikan keponakannya yang sedang terlelap. pemuda itu tersenyum sambil menatap keponakannya.
Tak lama perawat datang dan masuk kedalam ruangan bayi tersebut.
"Bolehkah saya masuk" tanya Revan.
"Anda siapa" tanya Perawat.
"Saya Revan anak tuan Arsen" jawab Revan.
Perawat pun mengangguk dan mengijinkan Revan masuk.
Siapa yang tidak kenal Arsen, semua karyawan di rumah sakit itu tentu mengenal Arsen, karena Arsen merupakan salah satu pemegang saham mayoritas di rumah sakit tersebut.
"Assalamualaikum sayang, apa kabar keponakan om?" ucap Revan sambil mengusap tangan mungil keponakannya.
Bayi itu merasa terusik dan menggeliat, Revan terkekeh melihat keponakannya.
"Dia lucu sekali" ucap Revan tersenyum.
"Doakan mommy kamu ya sayang, semoga mommy cepat sadar dan bisa segera menemui kamu" ucap Reva tak terasa meneteskan air matanya.
Setelah cukup puas bermain dengan keponakannya, Revan keluar dari ruangan tersebut.
🌹🌹🌹
Sementara di ruangan Reva, Reynand dengan setia menjaga istrinya tak sedetikpun ia beranjak dari tempat duduknya, matanya terus menatap wajah istrinya dengan harapan istrinya segera membuka matanya.
Cia masuk ke ruangan Reva, ia menatap kakaknya dengan penampilan kacau dan terlihat begitu menyedihkan.
"Kak Rey" panggil Cia.
Reynand menoleh sebentar lalu menatap istrinya lagi, Cia merasa sedih melihat kakaknya seperti ini.
Ia menghampiri kakaknya dan memeluknya dari belakang.
"Jangan seperti ini kak, Cia sedih melihat kak Rey seperti ini" ucap Cia.
"Lalu kak Rey harus bagaiman dek? apa kak Rey harus bahagia melihat istri kakak seperti ini" sahut Reynand.
Cia menggelengkan kepalanya di punggung kakaknya.
"Kak Rey harus kuat, ingat putri kakak. Bukan hanya kak Rey yang membutuhkan kak Reva tapi putri kakak juga. Apalagi sekarang kak Rey mengabaikan putri kakak sendiri, Ini bukan kesalahan putri kakak tapi dengan kejam kakak malah menyalahkannya" ucap Cia panjang lebar.
"Pergilah jika kamu hanya ingin membicarakan bayi itu" sahut Reynand.
Cia menghela nafas sabar, lalu melepaskan pelukannya dari tubuh kakaknya.
"Kalau kak Reva tahu, pasti kak Reva akan memarahi kak Rey" ucap Cia setelah itu dia keluar dari ruangan Reva dan meninggalkan kakak sendiri.
Selama ini Reynand berusaha kuat demi adiknya dan juga keluarganya, dan ketika kakaknya terpuruk seperti ini giliran Cia yang menguatkan kakaknya.
Setelah kepergian Cia, Reynand menelungkupkan wajah nya di tepi ranjang sambil memegang tangan Reva.
"Aku harus apa? katakan sayang aku harus apa? hikss...hiks" lirih Reynand dalam tangisnya.
Namun Reva hanya diam tak menjawab pertanyaan Reynand, karena wanita itu masih enggan membuka matanya.
"Kenapa mereka selalu mengatakan kecewa padaku, apa mereka tahu apa yang aku rasakan, apa mereka tahu apa yang takutkan, aku hanya takut kehilanganmu sayang,Aku takut kamu pergi meninggalkan ku hidup sendiri di dunia ini, Entah seperti apa hidupku tanpa kamu sayang"
Reynand mengira semua keluarganya tidak ada yang mengerti dirinya, tapi nyatanya bukan seperti itu, keluarganya ini Reynand kuat karena masih ada anaknya yang membutuhkan pelukannya dan kasih sayangnya.
Bersambung
jangan lupa like, koment, vote, gift🙏