
Pantai adalah salah satu tempat di bumi ini yang kerap kali menghadirkan suasan romantis dan begitu menyenangkan.
Dengan pemandangan yang begitu indah di atas laut maupun di bawahnya.
Selain pasir putih, air alit yang jernih dan deburan ombak. Pantai juga salah satu tempat dimana kita bisa menemukan udara bersih. Sehingha tak heran praktisi kesehatan selalu menyuruh kita untuk liburan kepantai, karena selain untuk menghilangkan stress pantai juga menyehatkan.
*
Setelah merasa puas berlari di tepi pantai, kini mereka semua melepaskan sepatu yang mereka kenakan, mereka ingin bermain air dan membuat istana pasir.
"Kita tak membawa baju ganti sayang" ucap Reynand mengingatkan Reva.
"Kita beli saja nanti honey" sahut Reva di sambut anggukan oleh Reva.
Setelah melepas sepatunya Reva segera berlari menuju ke bibir pantai, Reynand pun mengejarnya.
Mereka berdua kejar-kejaran seperti anak kecil.
"Tangkap aku kalau bisa honey" teriak Reva menantang Reynand.
"Aku pasti bisa menangkapmu sayang," sahut Reynand sambil terus berlari mengejar Reva.
Reva yang sudah ngos-ngosan mulai menurunkan kecepatannya, hingga akhirnya di tertangkap oleh Reynand.
Reynand menangkap pinggang Reva dan menceburkannya kelaut, membuat baju yang Reva kenakan menjadi basah kuyup.
Membuat Reynand tertawa bahagia melihat bibir Reva yang mengerucut.
"Sekarang giliranmu hoeny" pekik Reva sambil menciprati air laut ke Reynand membuat Reynand juga basah karena terkena air cipratan air.
Reynand membalas menciprati Reva, mereka berdua saling membalas satu sama lain, hingga tubuh Reynnad basah kuyup seperti Reva.
"Stop hoeny" pinta Reva sambil menutupi wajahnya agar tak kena cipratan air.
Reynand pun berhenti menciprati kekasihnya.
"Kita bikin istana pasir ayo" ajak Reynand.
"Ayo" kata Reva sambil berjalan menggandeng tangan Reynand.
Reva membuat istana pasir di bantu oleh Reynand, mereka bekerja sama hingga menjadi sebuah bangunan.
Prok
Prok
Prok
"Yeee.... Akhirnya jadi juga honey" sorak Reva sambil bertepuk tangan.
Reynand membalasnya dengan senyuman, ia senang melihat Reva yang selalu ceria ketika bersamanya.
"Ayo kita makan dulu honey, tadi aku belum sarapan" ajak Reva sambil nyengir kuda ke arah Reynand.
Reynand menatap tajam sang kekasih.
"Kenapa dari tadi tidak bilang, harusnya kamu sarapan dulu apalagi sekarang kita main basah-basahan nanti kalau kamu sakit bagaimana" cerocos Reynand takut kekasihnya masuk angin karena belum mengisi perut.
"Maaf honey, tadi aku belum lapar makanya aku belum sarapan" sahut Reva beralasan.
"Alasan saja. Lebih baik sekarang ganti baju dulu setelah itu baru cari makan" kata Reynand sambil menarik hidung kekasihnya gemas.
Reynand mengajak Reva pergi dari bibir pantai untuk mencari baju terlebih dahulu, setelah itu barulah ia akan mengajak Reva makan.
"Kalian mau kemana?" tanya Alisya ketika melihat putrinya hendak beranjak dari bibir pantai.
"Reva mau beli baju ganti dulu mam, setelah itu baru Reva mau nyari sarapan." sahut Reva.
"Kamu belum sarapan?" tanya Alisya.
Alisya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang putri.
"Ini bajunya, tadi mama sama papa sudah belikan kalian semua baju. Setelah itu lekas cari sarapan" ucap Alisya sambil memberikan baju untuk Reva dan juga Reynand.
"Makasih mam" ucap Reva menerima baju tersebut.
Reva sama Reynand mencari toilet untuk mengganti pakaiannya.
*
"Reva sama Reynand kemana sayang" tanya Arsen yang baru saja menghampiri istrinya yang sedang duduk di pasir sambil melihat putra putrinya yang sedang bermain air laut.
"Reva sama Reynand sedang mencari makanan sayang, putrimu itu belum sarapan" sahut Alisya sambil menatap wajah suaminya. Arsen mengangguk mengerti.
Arsen duduk di belakang istrinya sambil melingakarkan kedua tangannya di perut Alisya.
"Apa kamu bahagia hmm" tanya Arsen sambil mengecup pipi istrinya.
"Tentu sayang, aku sangat bahagia melihat mereka yang sudah mulai beranjak dewasa sayang, dan sebenar lagi Rey pasti akan segera menikahi putri kita" sahut Alisya membuat Arsen menghela nafas panjang.
"Sebenarnya aku masih belum rela melihat putri kecilku akan menikah. Pasti nanti dia akan meninggalkan rumah dan hidup bersama suaminya.
Aku tak bisa membayangkan jika itu terjadi sayang, aku ingin semua putriku kembali kecil saja. Kamu, Reva dan Rachel akan selamanya menjadi milikku. Aku selalu cemburu jika melihat mereka berdua bersama pria lain" ucap Arsen mengungkapkan isi hatinya.
Bukan Arsen tak menyayangi anaknya yang lain, tapi Arsen lebih memanjakan anak perempuannya ketimbang anak laki-lakinya.
Sebab Arsen selalu mengajarkan semua putranya supaya bisa mandiri dan bertanggung jawab kepada dirinya sendiri. agar kelak putranya itu tak bergantung kepada orang lain atau bergantung pada harta kekayaan orang tuanya.
"Siap tidak siap kelak mereka akan menentukan jalan hidupnya sendiri dan memiliko keluarga masing-masing hoeny" sahut Alisya sambil berbalik dan memeluk suaminya.
"Iya sayang" sahut Arsen sambil membalas pelukan istrinya serta mencium puncak kepala sang istri.
*
"Ayo anak-anak kita pulang, mataharinya sudah mulai meninggi" panggil Arsen kepada semua ank-anaknya.
"Masih selu ini papa, di tunda dulu aja pulangna" protes Gavin belum ingin pulang.
"Kalau begitu Gavin tinggal di sini saja pa, biar makin gosong dan di tinggalin sama Dhea" sahut Rachel menggoda adiknya.
"Ayo kita pulang sekalang pa, Gavin nda mau gosong nanti membuat Gavin ngga ganteng lagi" timpal Gavin langsung mengajak papanya pulang, sedangkan yang lain sudah tertawa cekikikan.
Gavin merupakan hiburan tersendiri bagi kakak-kakaknya, ketika mereka jenuh pasti mereka akan menggoda sang adik, meskipun terkadang Gavin membuat mereka jengkel tapi mereka merasa terhibur oleh adiknya itu.
Mereka semua akhirnya beranjak dari bibir pantai, lalu mereka mengganti pakaian basahnya dengan pakaian kering yang sudah di beli oleh kedua orang tuanya.
*
Kini mereka semua sudah berkumpul di parkiran motor bersiap-siap untuk pulang.
"Habis ini mau kemana lagi? kita mau makan siang dulu atau langsung pulang" tanya Arsen.
"Tentu saja kita makan dulu, Gavin sudah lapal ini" timpal Gavin sambil memegang perutnya yang sudah keroncongan.
"Baiklah berhubung bos Gavin sudah lapar maka kita akan mampir makan siang terlebih dahulu" ucap Arsen sambil tersenyum menatap putra putrinya.
"Itu mah bukan bos Gavin papa, tapi bos cilok" seloroh Reva membuat semuanya tertawa kecuali Gavin. karena Gavin suka sekali makan cilok.
Bocah kecil itu melirik kakaknya sebal.
"Tak masalah jadi bos cilok, yang penting tetap namanya bos. wleee" sahut Gavin sambil menjulurkan lidahnya.
Membuat Reva kesal dan ingin membalas ucapan adiknya itu tapi di cegah oleh sang mama.
Akhirnya mreka tak jadi menaiki motornya, mereka semua lebih memilih jalan kaki menuju ke restoran seafood yang ada di area pantai.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏