
Arsen menuruni tangga bersama Alisya sambil menggendong Rachel menuju ke ruang tv menemui putranya.
"Boy, ponsel papa mana? " tanya Arsen seraya menurunkan putrinya dari gendongannya.
Ravin menoleh sambil menjulurkan lidahnya.
"Kamu curi ponsel papa boy" tuduh Arsen.
"No, Vin cudah bilang cama papa, papa aja yang nda dengal" protes Ravin kembali fokus ke layar ponselnya.
"Kapan kamu bilang sama papa, perasaan tadi kamu ngga bilang apa-apa sama papa" tanya Arsen.
"Waktu papa cedang tidul" jawab Ravin.
Arsen tercengang, bagaimana bisa orang tidur di ajakin ngobrol, anaknya suka ngadi-ngadi emang.
"Kalau begitu, bawa sini ponsel papa" pinta Arsen mengalah, tidak akan menang juga berdebat sama Ravin, putranya itu tak jauh beda sama Reva, sama-sama ngeyel.
"No, Vin mau telpon Cia" tolak Ravin.
"Memangnya kamu mau ngapain telpon Cia" tanya Arsen.
"Vin tanen cama Cia" sahut Ravin.
"Kenapa harus sama Cia, sama Ethan aja ya, sini papa telponin uncle Erik" ucap Arsen.
Arsen tak mau kalau sampai anak-anaknya pada bucin sama anaknya Reagan, bisa besar kepala sepupunya itu.
"Vin tanen na cama Cia butan ama Ethan" seru Ravin.
Arsen menghela nafas sabar.
"Bawa sini ponselnya, tidak usah di telpon juga nanti Cia kesini sama om Reagan" pinta Arsen memberi tahu putranya.
"Celius? Cia mau kecini? " tanya Ravin memastikan.
"Iya" jawab Arsen merotasi bola matanya jengah.
Ravin pun akhirnya memberikan ponselnya kepada papanya. Sekarang Ravin beralih mengerjai Rachel yang lagi duduk anteng sambil nonton film si botak kesukaannya.
Ravin melihat spidol yang tergeletak di atas meja, lalu Ravin mengambil spidol tersebut.
Setelah mendapatkannya, Ravin mendekati Rachel.
"Vin napain" tanya Rachel seraya memundurkan wajahnya menghindari Ravin.
"Diam Chel, janan gelak-gelak" peringat Ravin kepada Rachel.
"Mau di apain muta na Chel" tanya Rachel.
Tapi Ravin tak menggubrisnya, ia memegangi wajah Rachel supaya Rachel tak bergerak.
Sedangkan Arsen sedang sibuk melihat email yang masuk di ponselnya. kalau Revan sama Reva ntah kemana belum kelihatan dari tadi. kalau Alisya sedang di dapur membantu sang bibi menyiapkan makanan untuk keluarganya.
"Vin, cudah belum? Chel pedhel ini" tanya Rachel yang sudah tak nyaman, pasalnya sejak tadi wajahnya di pegang Ravin tak boleh gerak-gerak.
"Cabal, cebental ladhi celecai ini" sahut Ravin.
Tak lama selang beberapa menit akhirnya Ravin melepaskan wajah adiknya itu.
"Cudah, cekalang Chel cudah tantik, hihihi" ucap Ravin sambil tertawa melihat wajah Rachel yang ia gambar barusan.
Rachel kembali fokus dengan tontonannya.
Arsen menoleh curiga dengan tawa putranya itu.
"Oh God, kenapa wajah Rachel kamu coret-coret begitu boy" ucap Arsen kaget melihat wajah putrinya yang di gambar seperti kucing oleh putranya.
"Badhus papa, Chel jadi lebih tantik" ujar Ravin.
"Cantik gundulmu, yang ada wajah putriku seperti badut" gerutu Arsen sambil mengambil tissu basah yang ada di meja.
"Kamu kenapa mau wajahnya di coret-coret begini sama kak Ravin" ucap Arsen seraya mengusap wajah putrinya
"Kata Vin, Chel jadhi tantik" sahut Rachel.
Arsen menghela nafas, bagaimana lagi putrinya memang masih polos, sedangkan putranya itu memang perayu ulung.
"Nanti jangan mau di coret-coret lagi sama kak Ravin," peringatnya.
"Iya pa" jawab Rachel.
Dengan hati-hati Arsen membersihkan wajah putrinya, ia tak mau kalau wajah putrinya sampai lecet.
"Kak Reva mana Vin" tanya Arsen setelah selesai membersihkan wajah putrinya.
"Cama Levan papa" jawab Ravin.
"Kemana memangnya" tanya Arsen lagi.
Ravin menaikkan bahunya tanda tidak tahu.
...****************...
Setelah mendapat telpon dari Arsen, Max langsubg meluncur ke rumah Arsen.
Max dengan langkah tegapnya memasuki rumah Arsen.
"Pagi tuan" sapa Max ketika sudah berada tak jauh dari Arsen.
"Pagi Max, duduk dulu... ada yang ingin aku bicarakan kepadamu" Arsen mempersilahkan Max duduk.
"Ada apa tuan" tanya Max sambil mendudukan bokongnya ke sofa kosong di hadapan Arsen.
"Besok kau bantu aku di kantor, karena Nino sudah mulai cuti hari ini" ucap Arsen.
Terlihat Max menghela nafas berat, dia paling males bekerja seharian di satu ruangan.
"Apa tidak ada kerjaan lain tuan, tuan kan tahu sendiri saya paling malas dengan dunia bisnis, saya juga tidak suka berurusan dengan orang penjilat" tolak Max
"Terus siapa yang akan membantuku" keluh Arsen. Di bantu Nino saja terkadang dia pulang malam, apalagi tidak ada...Bisa-bisa tidur di kantor.
"Om Max..." panggil Reva tiba-tiba dengan wajah penuh ancaman.
"Bantu papa atau... " ucapan Reva terpotong.
"Baik tuan saya akan gantikan Nino di kantor" ucap Max memotong ucapan Reva.
Arsen menatap Max curiga, sebenarnya apa yang sedang Max sembunyikan, sepertinya dia takut dengan putrinya.
"Bagus, ayo sekarang kita berangkat" ajak Reva sambil menggandeng lengan Revan.
"Kalian mau kemana" tanya Arsen.
"Reva mau piknik di hutan om Max, Reva bosen di rumah terus" jawab Reva seraya mengeluh, pasalnya sejak libur sekolah dia tidak kemana mana.
"Terus kamu mau kemana boy sudah rapih begitu, ini siapa lagi yang dandanin kamu seperti itu" tanya Arsen, dia merasa gemas dengan dandanan putranya.
"Van mau itut ata' "jawab Revan dengan suara cadelnya.
"Ikut papa ke kantor saja ya" ajak Arsen.
"Nda mau, Van mau itut ata' "kekeuh Revan.
"Biarin aja Revan sama Reva pa" sela Reva, dia memang sengaja mengajak adiknya itu.
"Yasudah jaga adiknya" ucap Arsen mengalah.
Akhirnya Max membawa Revan dan Reva pergi dari rumah Arsen, mereka masuk mobil lalu Max melajukan mobilnya pergi ke hutan.
Barsambung
Happy reading guys🙏