Baby Girl

Baby Girl
Part 10



Dengan berat hati, Melviano akhirnya mengantarkan gadis yang sudah diklaim sebagai pemilik hati nya untuk menemui sang kekasih.


Menyebalkan memang, saat dia sendiri yang harus mengantar gadis itu. Rasanya benar-benar menyesakkan saat bukan dirinya nya lah yang menjadi tujuan sang pujaan hati.


"Disini? really? bisa-bisanya kamu nyamperin dia ke kampusnya, harusnya kan sebagai laki-laki dia yang harus menghampiri mu," ucap Melviano menjelek-jelekkan.


"Itu karena bapak juga, siapa suruh otak Atik ponsel orang lain, " balas Rista yang masih memiliki kekesalan pada pria itu.


"Tapi makasih banyak loh pak udah mau repot-repot antar saya kemari,"


Rista pun kemudian merapikan dirinya dan memeriksa barang bawaannya agar tidak ada yang tertinggal.


"Saya turun ya pak, bapak hati-hati pulang' nya," ucap Rista melambaikan tangan nya pada Melviano.


Bukannya menurut untuk pulang, Melviano malah ikut turun dalam mobil sambil memperhatikan kearah mana Rista akan pergi.


"Aku penasaran, lelaki seperti apa kekasih Rista, tapi aku yakin aku jauh lebih tampan dan mapan," Ucap nya membanggakan dirinya sendiri.


Baru saja Melviano menginjakan kakinya di kalangan kampus, banyak wanita yang menjerit histeris saat melihat nya.


Buset cakep banget coy


Bening banget


Dia anak mana sih


Ganteng banget


Sayang bagi nomornya dong


Kiwww


Melviano mengabaikan semua kata pujian tersebut, pria itu tetap melangkah dengan gaya yang dibuat Cool.


"Lihat, mereka saja tergila-gila padaku, mata Rista katarak sepertinya sampai tak bisa melihat kearah ku dnaa malah lebih memilih bocah ingusan yang belum memiliki apa-apa," gumam Melviano sambil berjalan.


Disisi lain Rista sudah sampai di dalam kampus Jeremy.


Dia langsung menuju kekantin yang sering kali dikunjungi oleh Jeremy dengan teman-teman nya.


Rista tau karena Jeremy sering mengajaknya kesana.


Rista celingak-celinguk mencari sosok yang sedari tadi dalam pikirannya.


"Kemana sih? apa dia masih dikelas ya?" ucap nya namun matanya tak lepas mencari keberadaan Jeremy.


"Jerem," panggil nya dengan senang saat melihat Jeremy yang sedang berjalan bersama dengan circle nya berjalan menuju kekantin.


Seperti nya pria itu baru saja keluar dari kelasnya.


Jeremy terlihat berjalan dengan wajah yang datar seraya menggendong tasnya menggunakan satu tangan.


"Wihh, disamperin smaa ayank tuh bro," ucap teman Jeremy menyenggol baju Jeremy.


"Aku tidak perduli," singkat Jeremy.


"Jerem," lirih Rista saat sudah berada tepat dihadapan Jeremy yang tak mau memandang nya. Pria itu malah mengarah kan pandangan nya kearah lain, padahal Rista jelas-jelas sudah berada dihadapannya.


"Udah Ris selesai kan masalah kalian ,dia tuh uring-uringan beberapa hari ini." ucap Junian .


"Semoga berhasil Rista," ucap Daffa salah satu teman Jeremy juga.


"Duluan ya bro," ucap keduanya meninggal kan pasangan yang sedang marahan itu.


"Imut aku," ucap Rista seraya menggenggam tangan Jeremy yang lebih besar darinya.


Jeremy menurut saja, karena dia sudah tau kemana gadis itu akan membawanya.


"Shitt, kenapa harus digandeng seperti itu sialan, aku saja belum pernah ," umpat Melviano yang merasakan panas dihatinya.


"Mas nya kenapa ya," ucap orang yang memperhatikan kelakuan aneh Melviano.


"Bukan urusanmu!" sentak Melviano dengan tatapan tajam lalu kembali mengekori Rista dengan Jeremy.


"Ganteng sih tapi galak banget," lirih wanita yang disinisin oleh Melviano.


Benar saja dugaan Jeremy, kekasihnya itu membawanya ke rooftof atas Kampus. Untung saja tempat itu sedang tidak ada orang.


Jeremy sangat menyukai suasana itu, angin benar-benar menerpa wajah nya dan dari atas sana bisa melihat keindahan kota.


"Jerem,"


"Hem," ucap Jeremy yang sedang berdiri didekat plang rooftof menikmati angin siang ini.


"Jeremm," Rista akhirnya mengeluarkan tingkah andalannya yaitu dengan merengek. Biasanya cara itu akan slalu berhasil.


Namun tak sesuai dengan ekspektasi nya, pria itu malah tidak menghiraukan nya memuat Rista ingin menangis saja rasanya.


Jarang sekali Jeremy mendiami dan cuek padanya, Rista tak terbiasa dengan sikap cuek pria itu.


"Sayang," ucap Rista sambil menusuk-nusuk lengan pria itu menggunakan jari telunjuknya.


"Jeremy," ucap nya lagi seraya menoel-noel Jeremy.


"Iseng banget sih tangannya," ucap Jeremy membalikkan badannya dan menangkup jari Rista yang jahil.


"Jangan tatap aku kayak gitu, gak suka," cicit Rista saat melihat tatapan tanpa ekspresi milik Jeremy.


Jeremy menghela nafas." kamu mau ngapain repot-repot kesini? bukannya kamu udah gak mau sama aku Sampai kamu blok aku dari semua medsos kamu,"


"Bukan gitu, aku mau jelasin dulu, makanya dengerin aku dulu oke," pinta Rista.


"Okee," ucap Jeremy sambil menuntun Rista untuk duduk di kursi yang berada disana.


"Sekarang jelasin, aku ada salah sama kamu heum. Kalau aku ada salah aku minta maaf sayang, kita bisa komunikasi in dengan baik kan, bukan nya malah menghilang,"


"kamu tau gak? aku khwatir banget, aku beberapa hari ini mikir aku ada buat salah apa sama kamu, kamu gak ada kasih kabar sama sekali sama aku," ucap Jeremy yang kini mulai mlemebut.


"Maaf, maafin aku Jerem," lirih Rista merasa bersalah. Entah bagaimana tanggapan pria itu Jika dia pernah ingin dijodohkan oleh mamahnya.


"Jelasin coba, aku mau denger," Jeremy berusaha untuk tidak membawa emosi dalam percakapan ini.


"Waktu itu handphone aku diambil sama dosen aku pas aku lagi quiz karena nilai aku jelek, " ucap Rista memulai bercerita.


"Lalu?" Jeremy menaikkan alisnya.


"Nah dosen aku tuh aneh tau sayang, dia tuh masa blokir kamu, soalnya saat itu aku enggak pake password," ucap Rista berhenti sejenak, menunggu bagaimana reaksi Jeremy saat dia mengatakan itu.


"Dosen?"


Rista mengangguk.


"Dia seenaknya gitu, itu kan privasi mana bisa begitu," ucap Jeremy.


"Ya makanya, terus kemarin dia jemout aku kerumah buat berangkat ke kampus bareng sama tadi aku dianterin smaa dia kesini, soalnya dosen aku ngotot dsm dia tuh keras kepala," jelas Rista tanpa menutup apapun.


Dia merasa harus mengatakan semua itu pada Jeremy agar kedepannya tak ada masalah yang besar diantara mereka terjadi.


"****,He like you," desis Jeremy. Dia tentu tau jika dosen Rista sangat menyukai sang kekasih. Tak mungkin seorang dosen memperlakukan mahasiswa nya sedemikian rupa jika tak ada maksud lain. Jeremy juga seorang pria dia tau trik dari dosen itu.


"Aku gak mau kamu deket-deket sama dia sayang," ucap Jeremy yang malah sekarang menjadi merengek.


"Tapi dia dosen aku," ucap Rista


"Yaudah, Batasin pokoknya, just antara mahasiswa dan dosen saja. No more," peringat Jeremy serius.