
Fokus dulu sama Reva dan Siska ya guys, masalah Brian kita selesaikan nanti.
...****************...
Seminggu berlalu selama Reynand pergi melakukan perjalanan bisnis, waktu Reva ia habiskan untuk merawat neneknya, dan bersyukur Siska sedikit demi sedikit sudah nyambung kalau di ajak bicara, tidak seperti sebelumnya yang hanya diam saja.
"Pagi semuanya" sapa Reva yang baru saja bergabung untuk melakukan sarapan. Ia duduk di sebelah Gavin adiknya.
"Pagi sayang" sahut Arsen mewakili.
"Ayo kita mulai sarapannya, nanti kalian telat" ajak Alisya kepada semuanya.
Mereka pun langsung mengisi piringnya dengan makanan, dan mulai memakan sarapannya.
Sedangkan di rumah Reagan, Reynand buru-buru menuruni anak tangga, bahkan dia melewati orang tuanya begitu saja.
"Rey, kamu tidak sarapan dulu sayang" tanya Renata seidkit meninggikan suaranya agar putranya mendengar.
"Tidak mama, Rey mau jemput Reva" sahut Reynand menolak untuk sarapan pagi bersama keluarganya demi menjemput kekasihnya.
Renata menggelengkan kepalanya melihat kebucinan putranya sama Reva, tapi dia senang akhirnya Reva akan menjadi calon menantunya.
Dia sangat menyayangi Reva, bahkan dulu ia sempat meminta Alisya untuk memberikan Reva kepadanya tapi Arsen tak mengijinkannya, karena pada waktu itu Renata sangat menginginkan anak perempuan. Tapi akhirnya ia di karuniani Cia tapi meskipun begitu rasa sayang dia sama Reva masih sama.
"Biarin aja mom, kakak memang sudah bucin sama kak Reva" ucap Cia.
Renata mengangguk setuju dengan ucapan putrinya. Sementara mereka melanjutkan sarapan berbeda dengan Reynand yang langsung meluncur ke rumah Reva dengan mengendarai mobilnya.
Reynand berhenti di depan rumah Arsen sambil memyembunyikan klakson mobilnya.
Tin
Tin
Tin
Sedangkan di dalam rumah Arsen mereka baru saja menyelesaikan sarapan paginya bersama keluarganya.
"Siapa kak? Reynand bukan?" tanya Alisya.
"Bukan mam, Reynand sedang ada perjalanan bisnis di luar kota tak mungkin dia pulang tanpa mengabari Reva" sahut Reva.
"Tapi itu seperti suara klakson mobil kak Reynand kak" timpal Revan yang sangat hafal betul suara mobil Reynand.
Reva yang penasaranpun akhirnya pamit kedepan untuk melihat siapa yang datang sepagi ini kerumahnya.
"Honey... " pekik Reva langsung berlari menubruk Reynand yang sedang berdiri di depan mobilnya sambil merentangkan tanganya dengan bibir tersenyum manis kearahnya.
Reynand langsung menangkap tubuh Reva yang menubruknya begitu saja.
"Aku sagat merindukanmu sayang" bisik Reyanand.
"Aku juga kangen honey, kamu jahat sekali pulang tapi tidak mengabariku lebih dulu" ucap Reva sambil melepaskan pelukannya.
Bugh
Reva meninju perut karena kesal karena sejak semalam Reynand tidak mengabarinya.
"Wow... kau bukannya memberiku ciuman malah memberiku pukulan sayang" ucap Reynand terkekeh sambil memegangi perutnya.
"Rasakan, siapa suruh kau mengerjaiku" sahut Reva dengan senyum mengejek menatap Reynand.
"Aku hanya ingin memberimu kejutan sayang, tapi aku justru mendapat pukulan darimu" ucap Reynand manja.
Reva kembali memeluk Reynand sambil menepuk nepuk punggungnya, begitu juga Reynand ikut membalas pelukan kekasihnya.
"Uluh... uluhh... uluhh.... bayi besarku manja sekali"
"Biarin aja, kan manja sama kekasih sendiri"
Tiba-tiba pelukan mereka di lepas paksa oleh Arsen yang sejak tadi melihat sepasang kekasih itu sedang berpelukan.
"Belum muhrim, jangan peluk-peluk" ucap Arsen dengan nada ketus.
Reva dan Reynand kompak menggaruk kepalanya yang tak gatal, mereka lupa kalau ini masih di depan rumahnya.
"Maaf papa, Reva berangkat dulu" ucap Reva dan meminta maaf sambil menarik tangan Reynand masuk kedalam mobil.
Reva harus menyelamatkan Reynand sebelum papa posesifnya itu kembali menyemburnya.
Reynand menancap gas dan pergi meninggalkan Arsen.
"Mereka berdua kalau sudah bersama pasti selalu membuatku darah tinggi" gumam Arsen melihat kelakuan mereka yang tak pernah berubah selalu saja membuatnya jengkel.
"Reva mana honey" tanya Alisya yang baru saja keluar sambil membawa tas kerja suaminya.
Alisya mengangguk lalu memberikan tasnya kepada suaminya.
"Sekarang kamu juga harus berangkat, nanti kamu telat" ucap Alisya sambil merapihkan penampilan suaminya.
Arsen menarik pinggang istrinya hingga tubuh Alisya menubruk dada Arsen hingga tak menyisakan sedikitpun jarak di antara keduanya.
"Apa kau tak mau mengulangi kegiatan yang semalam baby? aku bisa meluangkan waktuku untuk kegiatan itu" bisik Arsen di telinga istrinya membuat bulu kuduk Alisya meremang. Wajah Alisya merona mengingat kegiatan semalam yang di gempur habis suaminya.
Alisya mendorong dada suaminya supaya melepaskan pelukannya.
"Dasar mesum" ucap Alisya melengoskan wajahnya kearah lain untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.
Arsen tergelak melihat wajah istrinya yang merona, ia sangat suka melihat wajah malu-malu istrinya.
"Baiklah, suami akan bekerja dulu" pamit Arsen kemudian mencium kening sang istri.
Setelah itu ia pergi ke kantor dengan di antar oleh sopirnya.
Sedangkan di tempat lain mobil Reynand baru saja sampai di depan kantor Dinata.
"Semagat kerjanya sayang, pulang kerja aku akan menjemputmu sekalian nanti kita makan malam bersama" ucap Reynand.
Reva mengangguk dan mencium pipi Reynand.
"Dahh... honey" ucap Reva langsung kabur keluar dari mobil Reynand.
Sedangkan di dalam mobil Reynand masih belum sadar kalau Reva sudah turun dari mobilnya, dia masih terbengong sambil memegangi pipinya yang baru saja dapat ciuman dari wanitanya.
"Haiss... ternyata anak itu sudah kabur, dia selalu saja mencuri cium di pipiku, tapi setelah itu dia akan kabur dan tak membiarkanku untuk membalasnya. Licik sekali dia" gumam Reynand sambil kembali melajukan mobilnya menuju ke perusahaanya.
Tiba di perusahaan Reynand langsung berjalan menuju ke ruangannya.
Ceklek...
Reynand membuka pintu kemudian masuk kedalam ruangannya dia berjalan menuju meja kerjanya dan duduk di kursi kebesarannya.
Tak lama Abi sang asisten pun masuk kedalam ruangan Reynand.
"Apa jadwalku hari ini Bi" tanya Reynand.
"Nanti siang ada meeting dengan perusahaan tuan Julian di restoran X tuan. selebihnya tuan hanya di kantor mengerjakan berkas yang perlu di tanda tangani."
"Ck, tua bangka itu lagi, apa tua bangka itu akan mengajak putrinya, Bi" decak Reynand dan menanyakan kehadiran Jenni putri Julian.
Kalau Jenni ikut hadir maka dia akan membawa Reva ikut serta juga, dia terlalu malas meladeni ulat bulu itu.
"Saya tidak tahu tuan, mungkin saja akan ikut soalnya nona Jenni juga sudah bekerja di perusahaan ayahnya itu"
Reynand mengangguk mengerti, setelah itu Abi pamit keluar dari ruangan Reynand.
"Aku akan mengajak Reva aja, biar dia yang mengusir ulat bulu itu" guman Reynand sambil terkekeh.
Reynand merasa lucu mengingat kejadian Reva memanasi Jenni di acara gala dinner waktu itu.
"Hallo sayang" sapa Reynand menghubungi Reva
"......."
"Ikut aku meeting di restoran X" pinta Reynand.
"....."
"Apa kau rela kekasihmu ini di tempeli ulat bulu sayang" ucap Reynand dengan nada memelas.
"......."
"Terima kasih sayang, nanti kita langsung ketemu di lokasi saja ya" ucap Reynand senang karena Reva mau ikut dengannya.
"....."
Setelah itu Reynand mengakhiri panggilannya.
"Nanti malam aku akan memberimu kejutan sayang" ucap Reynand sambil mengusap foto candid Reva yang ia jadikan wallpaper di layar ponselnya.
Bersambung.
Happy reading guys🙏
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏