
Dua bulan berlalu setelah Brian memikirkan semua saran dari Nadin akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kota J untuk menemui daddy nya.
Di temani Nadin, Brian naik pesawat menuju ke kota kelahirannya di kota J.
Setelah mempuh perjalanan sekitar satu jam akhirnya mereka sampi di Bandara kota J.
Dari Bandara mereka naik taksi menuju ke rumah daddy nya.
"Hai kenapa kamu tegang" ucap Nadin saat merasakan tangan Brian sedikit dingin.
"Tidak, aku hanya grogi saja karena sudah lama tidak bertemu dengan Daddy" jawab Brian.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja" ucap Nadin sambil mengusap punggung Brian.
"Terima kasih" ucap Brian sambil mengecup puncak kepala Nadin, dia merasa nyaman dengan Nadin, apalagi dengan sifat dewasa Nadin membuat dirinya semakin yakin untuk menikahi wanita itu.
Taksi yang di tumpangi mereka sampai di depan rumah Reno, Brian dan Nadin turun dari taksi tersebut.
Brian menggandeng tangan Nadin masuk kedalam rumah daddy nya.
"Den Brian" sapa pelayan di rumah Reno saat melihat tuan Brian pulang ke rumah.
"Daddy ada bi" tanya Brian.
"Tuan Reno ada di kamarnya den, sepertinya sedang tidak enak badan" jawan Bibi.
Brian mengangguk lantas membawa Nadin menaiki anak tangga menuju ke kamar daddy nya.
Ceklek...
Dengan perlahan Brian membuka kamar daddy nya, dia melihat daddy nya sedang duduk termenung sambil menatap ke arah luar jendela.
"Ada apa bi" tanya Reno saat mendengar pintu kamar nya terbuka, tatapannya masih lurus ke depan tanpa menoleh sedikitpun.
Brian melihat ke arah Nadin, Nadin mengusap lengan Brian dan menganggukkan kepalanya.
Lalu Brian melepas tangan wanitanya dan berjalan melangkah mendekati daddy nya.
"Dad" panggil Brian ketika sudah berada di belakang daddy nya.
Reno tak bergeming, ia mengira suara itu hanya halusinasinya saja.
"Daddy" panggil Brian lagi membuat Reno perlahan menoleh ke asal suara.
Matanya berkaca-kaca saat melihat putranya ada di hadapannya saat ini, Reno tak menyangka putranya akan pulang secepat ini.
"Brian" lirih Reno.
Brian tersenyum lalu berjalan ke arah ranjang menghampiri daddy nya. Dan Brian langsung memeluknya.
"Boy, kamu pulang" lirih Reno sambil memeluk putra semata wayangnya.
"Iya dad, Brian pulang" sahut Brian.
"Maafkan daddy, maafkan semua kesalahan daddy" ucap Reno penuh penyesalan.
"Brian sudah memaafkan daddy, tapi ada satu hal yang ingin Brian bicarakan sama daddy" sahut Brian sambil melerai pelukannya.
Ia duduk di tepi ranjang dengan posisi saling berhadapan dengan daddy nya, Nadin keluar dari kamar Reno membiarkan Brian dan orang tuanya berbicara.
"Ada apa" tanya Reno.
"Ini tentang Listy dad" jawab Brian.
"Daddy sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Listy, apalagi semenjak anak yang di kandungan Listy keguguran, Listy sudah bukan lagi tanggung jawab daddy" ucap Reno panjang lebar.
"Daddy salah, Listy tidak benar-benar keguguran dad" ucap Brian.
"Maksud kamu apa? dokter yang menangani Listy sendiri yang mengatakannya sama daddy" ucap Reno kaget.
Brian menggelengkan kepalanya.
"Listy yang menyuruh dokter itu berbohong dengan daddy. Listy kecewa sama daddy makanya dia membohongi daddy seperti itu, dia ingin lepas dari daddy" jelas Brian.
"Asal daddy tahu Listy sekarang sudah melahirkan anaknya yang ia kandung dari hasil perbuatan kalian berdua." lanjut Brian memberitahu daddy Nya. ia tak mau adiknya menajdi korban keegoisan daddy nya.
"Temui dia dad, dia tidak salah apa-apa jangan sampai dia menjadi korban keegoisan kalian berdua, anak Listy butuh kamu dad" ucap Brian.
Reno terdiam, dia meraup wajahnya kasar ia memang salah karena selama ini ia mengabaikan kandungan Listy, tak pernah sekalipun dia menanyakan kandungannya itu.
"Apa Listy mau memaafkan daddy" lirih Reno.
🌹🌹🌹
"Sayang, ayo kita kerumah papi tadi papi menghubungiku meminta kita datang kesana" ucap Reynand.
"Ngapain honey" tanya Reva.
"Mungkin dia kangen sama cucunya" jawab Reynand.
"Selalu saja yang di tanya Cherry, mereka tidak lagi menanyakanku" gerutu Reva.
"Kamu sudah punya aku, jadi buat apa yang lain nanyain kamu hmm" ucap Reynand.
"Tapi dulu mereka selalu menanyakan kabar tentangku, tapi sekarang papi kalau telpon yang di tanya pertama kali itu cucunya bukan aku" rajuk Reva.
"Hai nyonya, kamu sudah jadi ibu-ibu jadi tidak usah cemburu sama anaknya sendiri" ucap Reynand.
Reva megerucutkan bibirnya sebal, Reynand yang gemas langsung mencium bibir istrinya rakus, dia me lu mat nya dengan lembut.
Reva membuka bibirnya, Reynand langasung memasukkan lidahnya dan bermain di dalam rongga mulut Reva. Lidah keduanya saling membelit satu sama lain tidak ada yang mau mengalah, mereka berlomba-lomba memberikan permainan yang terbaik.
Tangan Reynand tak tinggal diam, ia memasukkan tangannya kedalam baju istringa dan memainkan melon impor milik Reva.
"Ahhhh.... " de sah Reva disela-sela ciumannya.
Reynand teru me r emas d4d4 istrinya.
"Sayang aku ingin" ucap Reynand dengan nafas memburu sambil menempelkan keningnya dengan kening sang istri.
"Tapi kalau nanti Cherry bangun gimana honey" tanya Reva.
"Sebentar saja" ucap Reynand yang sudah di penuhi kabut ga i rah.
Reva mengangguk kecil, Reynand lansung menautkan bibirnya samil mendorong pelan tubuh istrinya, dan membuat Reva jatuh terlentang dia atas ranjang.
Tak ingin lama-lama Reynandl langsung melepas ce la na dalam istrinya. ia melihat milik istrinya sudah ba sah.
Reynand mengarahkan lobak impornya kedalam milik Reva.
Dengan sekali hentakan lobak impor Reynand sudah masuk kedalam mi lik Reva.
Reynand menggerakkan pinggulnya masu mundur dengan begitu cepat.
"Ahhh... ahhhh.. honey" racau Reva keenakan.
Reynand menambah tempo permainannya, ia menghentak hentakkan pinggulnya dengan begitu cepat, membuat Reva terus men de sah.
Hingga tak lama terdengar suara jeritan dari keduanya, Reynand mengeluarkan lahar panasnya memenuhi rahim istrinya.
"Akhhh..... " teriak keduanya saat mencapai puncaknya.
Reynand menggulingkan tubuhnya kesamping.
Tak lama terdengar suara tangisan Cherry.
Oekkk...
Oekk...
Orkkk..
"Untuk kita sudah selesai sayang" ucap Reynand terkekeh.
"Aku lemas dad, kamu ambil gih putrimu" ucap Reva yang masih terengah engah.
Reynand mengangguk, dia memakai celananya lalu menghampiri putrinya.
"Princess nya daddy kenapa menangis hmm" tanya Reynand sambil menggendong putrinya.
"Coba lihat popoknya honey" ucap Reva sambil memakai bajunya kembali.
Reynand merebahkan putrinya di atas ranjang dan melihat popok putrinya yang ternyata sudah penuh.
Ia dengan telaten menganti popoknya dengan yang baru.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏
Happy reading guys🙏