
Arsen melotot menatap mereka berdua, dia baru sadar kalau sedari tadi hanya di kerjai oleh kedua perusuh itu.
"Cepat, kita kabul Leva....sebelum singa itu menelkam kita" pekik Rey.
Mereka berdua lari terbirit birit menjauh dari jangkauan Arsen.
"Sial, aku di kerjai dua bocil itu lagi" gerutu Arsen.
Dengan langkah lebarnya Arsen mengejar kedua perusuh itu, dia kesal pagi-pagi sudah di kerjai mereka berdua.
Sampai ruang tamu Arsen clingak clinguk mencari keberadaan mereka.
"Kemana mereka? Perasaan tadi mereka lari ke arah sini" gumam Arsen.
Sayup-sayup telingan Arsen mendengar suara orang seperti sedang berbisik. Dengan langkah hati-hati Arsen melangkah menuju ke asal suara tersebut.
Sedangkan kedua bocil itu sedang ngumpet di belakang sofa sambil berbisik. "Jangan belisik Leva, nanti kita teltangkap" bisik Reynand.
"Khemmm....." dehem Arsen dengan tangan di lipat di depan dada.
"Gawat, kita ketahuan Ley" lirih Reva.
"Kenapa kalian berbisik hmm" ucap Arsen dengan nada dingin
Mereka berdua menoleh ke belakang, terlihat papanya berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap kearahnya.
"Eh....ada papa telnyata, ada apa papa kesini...kita lagi main petak umpet, iya kan Ley" ucap Reva polos.
"Iya om Alsen" sahut Reynand.
"Tidak ada ngumpet-ngumpet, kalian berdua harus di hukum karena sudah berani ngerjain papa" tegas Arsen. "Bangun ! Dan segera jalani hukuman kalian" titah Arsen
Arsen tidak marah, tapi Arsen tak mau kedua bocah itu kebablasan dan jadi kurang ajar dengan orang yang lebih tua.
Arsen tidak membatasi dirinya dengan anaknya, tapi bukan berarti dia membiarkan anak itu berlaku seenaknya.
Dengan wajah merengut mereka berdua bangkit, mereka bediri sambil melihat wajah Arsen takut.
"Apa hukuman kita om? Jangan yang belat-belat, kan kita masih kecil" tanya Reynand dengan wajah memelas.
"Sudah tau masih kecil...kenapa kalian malah berani ngerjain orang tua" sahut Arsen.
"Jangan telalu selius papa, Leva sama Ley hanya belcanda" ucap Reva mencoba membela diri.
Arsen kesal dengan kedua bocah itu yang selalu bisa menjawab ucapannya.
"Sekarang kalian hadap ke dinding dan pegang kedua telinga kalian, satu jam kalian harus menjalani hukuman kalian" perintah Arsen tegas.
Kedua bocah itu membalikan tubuhnya ke dinding lalu saling menyalahkan sambil saling senggol.
"Ini gala-gala kamu, kalau kita nda ngeljain papa pasti kita nda di hukum" gerutu Reva sambil nyenggol tubuh Rey, Rey pun membalas menyenggol tubuh Reva.
"Salah sendili ngikutin Ley" sahut Reynand tak mau di salahkan.
"Coba kalau oma ada di lumah, pasti oma akan menyelamatkan kita dali kekejaman papa" ucap Reva lesu.
Arsen geleng-geleng melihat tingkah mereka bedua yang tidak ada takut-takutnya dengannya.
"Cepat pegang kedua telinga kalian, ngga usah pada berantem, kalian berdua sama-sama salah" ucap Arsen.
Tap
Tap
Tap
Alisya datang ke ruang tamu sambil membawa kue dan juga buah yang sudah di potong-potong.
"Kalian berdua sedang ngapain" tanya Alisya sambil mendudukan bokongnya di sofa.
"Tolongin kita ma, kita sedang di hukum papa" ujar Reva.
Arsen mencium pipi istrinya lalu menjatuhkan tubuhnya di sebelah Alisya.
"Mereka berdua mengerjai ku baby, mereka memaksaku untuk membuat telur mata sapi, mereka juga berbohong katanya belum makan padahal sudah sarapan sama bibi" Adunya, sambil memasukan potongan buah kedalam mulutnya. Alisya mengangguk mengerti, dia tahu suaminya tidak akan asal hukum kalau mereka berdua tidak membuat ulah.
"Dasal tukang ngadu" gerutu Reynand yang mendengar ucapan Arsen
Alisya menggelengkan kepalanya, kedua bocah itu kalau sudah bersama pasti ada aja tingkahnya.
"Kita hanya belcanda mama, papa nya saja yang bapelan" ceplos Reva.
"Nikmatilah hukuman kalian, siapa suruh membuat ulah" ucap Alisya. Membuat Reva sama Reynand mencebik kesal, mereka akhirnya membalikan kembali tubuhnya ke dinding.
Arsen merebahkan dirinya di pangkuan Alisya. "Kamu sudah sarapan baby" tanya Arsen.
"Aku tidak berselera honey, aku cuma makan buah dan kue saja" jawab Alisya.
Arsen mengangguk mengerti. "Tapi nanti siang makan nasi ya, kasihan triplet juga butuh asupan nutrisi" ucap Arsen.
"Iya honey" jawab Alisya sambil mengusap kepala suaminya.
Arsen menciumi perut istrinya sambil mengobrol dengan buah hatinya yang ada di dalam perut Alisya. "Hai, anak-anak papa...sedang apa kalian di dalam perut mama hmm?, nanti kalau kalian sudah keluar kalian jangan meniru kedua kakak kalian yang bandel itu ya" ucap Arsen.
Allisya tersenyum geli mendengarnya.
"Liat saja nanti, kalau dedek bayina kelual kita jadikan pasukan kita Ley" lirih Reva supaya papanya tidak mendengar.
"Iya benal, bial tahu lasa om Alsen.....siapa suluh hukum kita" sahut Reynand.
Sepasang suami istri itu mengobrol dengan saling bermesraan tanpa menghiraukan gerutuan mereka berdua.
Setengah jam berlalu, Arsen mencoba mengecek keadaan kedua bocah itu yang masih berdiri sambil mengobrol. Arsen merasa heran, kedua bocah itu justru menikmati hukumannya tanpa mengeluh, hanya di awal saja mereka mencari pembelaan....setelahnya mereka diam.
"Sudah, sekarang papa bebaskan kalian, tapi jangan di ulangi lagi" ucap Arsen.
Kedua bocah itu menatap Arsen dengan mata berbinar.
"Selius? ini kan belum ada satu jam, awas aja kalau ini cuma plank" ucap Reynand memastikan.
"Oh...jadi kalian masih ingin di hukum?" goda Arsen.
"Tentu saja tidak, kita minta maaf papa" sahut Reva cepat dengan wajah memelas.
Arsen tertawa keras melihat wajah panik kedua bocil itu.
"Ok, papa terima permintaan maaf kalian ,sekarang ganti baju kalian, dan kita akan langsung latihan bela diri" titah Arsen.
Mereka bedua langsung terduduk di lantai mendengar perintah Arsen.
"Leva kila kita benal-benal bebas Ley, telnyata kita halus latihan lagi," lesu Reva sambil bersandar di tembok.
"Iya, Ley belasa ikut militel...mana kita nda di kasih minum, ini namanya penyiksaan.." sahut Reynand.
Alisya datang sambil membawa dua jus di kedua tangannya mendekati kedua bocah itu.
"Ini kalian minum dulu" ucap Alisya sambil menyodorkan kedua gelas itu. Mereka berdua yang haus pun langsung menerimannya lalu meminumnya hingga tandas.
"Telima kasih mama" ucap Reva mewakili sambil menyodorkan gelas yang sudah kosong kepada Alisya.
"Kalian sudah minum kan?, sekarang segera ganti baju kalian...papa akan tunggu kalian di taman belakang." titah Arsen.
"Lihatlah onty, om Alsen itu kejam sama kita" ucap Rey berharap mendapat pembelaan dari Alisya.
Sebenarnya Alisya sudah menyuruh Rey untuk memanggilnya mama, cuma karena karena Reynand sudah sedari awal manggil Alisya dengan sebutan onty jadi dia kagok kalau di suruh panggil mama.
Bersambung
Happy reading guys🙏