Baby Girl

Baby Girl
BAB 105



"Makana halus blifing dulu bial Leva tau" ucap Reva ngga mau di salahkan.


Arsen menahan tawanya melihat kedua perusuh itu malah berdebat.


Alisya geleng-geleng sambil tertawa geli.


Arsen mengendap endap melipir meninggalkan mereka yang sedang asik berantem, Arsen duduk di samping istrinya seraya memeluk istrinya gemas. Makin hari istrinya makin gembul.


"Kamunya saja yang bo*doh" ketus Reynand.


"Leva nda bo*oh, apa kamu lupa kalau Leva selalu juala kelas , bahkan Leva dulu mengalahkanmu waktu lomba baca puisi" sinis Reva sedikit menyombongkan diri.


"Tetap saja kamu suka lemot" ejek Reynand yang mendapat pukulan dari Reva di lengannya.


"Kenapa kamu malah ngajakin Leva belantem, telus sekalang gimana? Jadi latihan bela dili nda ini?" ketus Reva.


Mereka berdua menoleh, ternyata Arsen sudah tidak berada lagi di depannya.


"Papa/Om Alsen....."pekik mereka berdua secara bersamaan.


Sedangkan Arsen tertawa terbahak sambil menduselkan wajahnya ke punggung Alisya.


"Ini gala-gala kamu, ngapain ngajakin Leva belantem" kesal Reva sambil berjalan menghentak hentakan kakinya duduk di kursi taman sambil minum jus buatan mamanya.


Arsen mencoba menetralkan tawanya sebelum putrinya makin kesal dengannya.


"Ayo, jadi latihan ngga ini? Nanti keburu sore lho" ajak Arsen.


"Sudah Sole..." sahut mereka kompak.


Memang kenyataanya sebentar lagi langit akan mulai gelap, karena matahari sudah mulai tenggelam. Mereka berantem tanpa memperhatikan waktu.


"Bukan salah papa kalau begitu, siapa suruh kalian berdua malah berantem" ucap Arsen tak mau di salahkan.


"Sudah ingkal janji, sekalang malah nyalahin kita, siapa lagi kalau bukan...


"ALSEN" mereka kompak sambil tertawa keras, langsung berlari kencang masuk ke dalam rumah sebelum Arsen murka.


"Reva....Reynand, kurang ajar kalian sama papa ya" teriak Arsen dengan wajah merah padam karena kesal.


Alisya tertawa terbahak-bahak melihat wajah suram suaminya itu.


"Baby... Kamu kenapa ikut tertawa hmm, puas kamu melihat suaminya di ledekin kedua bocah itu" tutur Arsen mencebik.


Alisya mengendikan bahunya acuh, lalu menyusul kedua bocah itu masuk kedalam rumah.


Arsen mengikuti langkah istrinya masuk kedalam rumah dengan terus mendumal.


Sedangkan kedua perusuh itu sudah ngumpet entah kemana.


"Kemana mereka, baby?" tanya Arsen.


"Ngga tahu honey, kan kita masuk barengan" jawab Alisya.


"Aku lapar baby, tolong buatkan aku makanan ya" pinta Arsen dengan manja. Padahal semenjak hamil Arsen tak pernah mengijinkan istrinya memasak.


*


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, hujan turun dengan begitu deras di tengahnya gelap malam.


Reva dan Reynand sudah masuk kedalam kamarnya masing-masing, Alisya sengaja tidak menyatukan mereka di dalam satu kamar yang sama.


Berhubung besok weekend Reynand di ijinkan menginap di rumah Arsen oleh orang tuanya, Reagan justru senang kalau putranya menginap di rumah Arsen, dengan begitu tidak ada yang menganggu kebersamaan mereka.


Setelah menidurkan kedua perusuh itu Alisya langsung masuk kedalam kamarnya, terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, petanda kalau suaminya sedang berada di dalamnya.


Alisya masuk ke ruang ganti untuk menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.


Arsen keluar kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang di lilitkan di pinggangnya.


Wajah Alisya merona, meskipun dia sering melihat tubuh atletis suaminya, tetap saja membuat Alisya selalu merona tiap kali melihatnya.


"Mereka sudah tidur, baby?" tanya Arsen sambil memakai pakaiannya di hadapan Alisya. Alisya hanya mengangguk kecil sambil pandangan matanya yang tak pernah beranjak dari tubuh suaminya.


"Kamu kenapa, baby" tanya Arsen heran.


Lagi-lagi Alisya tidak bersuara, hanya menggelengkan kepalanya saja. Arsen merangkak naik ke atas ranjang, lalu duduk di sebelah istrinya sambil bersandar di headboard ranjang.


Alisya langsung memeluk tubuh kekar suaminya sambil bersandar di dadanya, yang menurut Alisya itu tempat ternyamannya.


"Apa hari ini mereka merepotkanmu, baby?" tanya Arsen sambil mengusap perut istrinya yang sudah sedikit menonjol, kehamilan Alisya sudah memasuki usia dua bualn, berhubung di hamil triplet jadi ukuran perutnya lebih besar dari kehamilan sebelumnya.


"Tidak honey, dia baik hari ini....hanya saja seperti biasa aku akan merasa mual di pagi hari" jawab Alisya sambil menulis abstrak di atas perut suaminya.


"Apa kamu tak merasa jenuh sayang? Apa kamu tidak ingin liburan? Semenjak hamil kamu hanya di rumah saja" tanya Arsen, takut istrinya stress. Karena sebelum menikah Alisya sudah terbiasa bekerja.


"Nanti saja, setelah usia kandungannya memasuki trisemester kedua" tolak Alisya, dia masih takut kalau naik pesawat di usia kehamilannya yang masih rawan, apa lagi sebelumnya Alisya belum pernah naik pesawat, bisnis dia masih sekitaran kota J, B, B, jadi tidak perlu naik pesawat.


"Baiklah, nanti jika kamu ingin katakan saja padahku baby" ucap Arsen lembut.


"Tidur ya, ini sudah pukul setengah sebelas malam, kasihan dedek bayinya" titah Arsen. Alisya menggeleng.


Arsen mengeryit heran. "Kenapa? Apa kamu menginginkan sesuatu,baby? Makan mungkin?" tanya Arsen. Alisya menggelengkan kepalanya lagi.


"Lalu apa hmm" tanya Arsen sambil menyingkirkan rambut Alisya yang menutupi dahinya.


Tiba-tiba tangan Alisya merayap ke bagian tubuh bawah Arsen. Alisya mengurut adik kecil Arsen hingga semakin lama benda itu mulai tegak dan mengeras. Arsen menggigit bibir bawahnya karena ulah tangan istrinya. Arsen masih mencoba menahan gejolak di dalam tubuhnya


"Dedeknya minta di jenguk papa" lirih Alisya manja.


"Kau ini, bilang saja mamanya yang pingin kenapa mesti malu hmm" ledek Arsen sambil memencet hidung istrinya.


Arsen langsung merebahkan istrinya di ranjang, "Dia sudah berdiri baby, kamu harus tanggung jawab sekarang," ucap Arsen dengan suara seraknya.


Arsen langsung men ci um bi bir istrinya. Sedangkan tangannya sudah sibuk mer*mas dan memlilin pu*ing Alisya.


"Da damu semakin besar, baby" ucap Arsen di sela-sela ci*mannya dengan Alisya.


"Akhhh....honey" de sah Alisya ketika Arsen mulai menurunkan tali piyamanya dan da da Alisya langsung menyembul di depan wajah Arsen.


Istrinya semenjak hamil kalau tidur sudah jarang memakai bra lagi, katanya sesak.


Arsen langsung mer*masnya keduanya sambil memandangi wajah istrinya yang sedang merasa keenakan.


"Da damu selalu membuatku ingin menyentuhnya baby, apa lagi sekarang lebih besar dan mont*k," goda Arsen yang tak menghentikan kegiatannya.


"Lakukanlah honey, kenapa kamu malah menyikasaku seperti ini" rengek Alisya membuat Arsen terkekeh.


Arsen mendekatkan wajahnya ke da da Alisya sambil melebarkan kedua paha Alisya. Arsen mengecek Area sensitif Alisya dengan menggunakan jarinya, ternyata mi lik istrinya sudah sangat ba sah.


Secara perlahan Arsen langsung melakukan penyatuan. di ruangan kamar Arsen penuh dengan suara de*ahan mereka berdua yang saling bersahutan. Hingha akhirnya mereka mencapai kl*maks.


Arsen hanya melakukannya sekali saja, karena dia takut menyakiti kandungan istrinya.



Arsen menatap istrinya yang sudah terlelap, dia merasa selalu jatuh cinta tiap harinya pada istrinya itu.


"Dasar ibu hamil, suka malu-malu tapi ujungnya liar juga" gumam Arsen, lalu membawa tubuh Alisya ke dalam pelukannya.


Bersambung


Happy reading guys🙏