Baby Girl

Baby Girl
S2~10



"Minum dulu obatnya" pinta Reynand.


"Gak mau obatnya pahit" tolaknya manja.


"Tentu saja pahit, mana ada obat manis. Minum dulu setelah itu tidur" cebik Reynand.


Reva memanyunkan bibirnya sambil menerima suapan obat dari tangan Reynand.


Setelah minum obat Reva hanya diam saja sambil melihat ke langit-langit ruangannya, ia seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ada apa?" tanya Reynand ketika melihat Reva melamun.


"Tidak ada apa-apa Rey, hanya bosan saja" bohong Reva sambil tersenyum seolah hatinya baik-baik saja.


"Cepatlah sembuh, maka aku akan mengajakmu jalan-jalan kemanapun yang kamu mau" Sahut Reynand.


Reva tersenyum manis sambil melihat wajah Reynand.


Reynand sebenarnya tahu kalau ada sesuatu yang mengganjal di hati Reva tapi dia tidak mau memaksa Reva untuk bercerita, ia akan menunggu Reva siap untuk menceritakan masalahnya.


"Sudah malam, tidur gih..." kata Reynand.


"Tapi kamu tidak akan kemana mana kan" tanya Reva memastikan.


Dia takut Reynand meninggalkannya.


"Aku akan di sini menjagamu" sahut Reynand sambil mengelus pipi Reva.


Reva menarik lengan Reynand lalu memeluknya, ia takut Reyanand membonginya.


Reva memejamkan matanya sambil memeluk tangan Reynand.


"Bocah ini, sama harimau saja berani, giliran sama hantu malah takut" ucap Reyanand terkekeh.


Reynand menepuk nepuk pelan lengan Reva hingga membuatnya terlelap.


Reynand duduk di kursi seraya merebahkan kepalanya di tepi ranjang, tak lama ia pun ikut terlelap menyusul Reva yang sudah dulu masuk kedalam mimpinya.


*


*


Pagi hari sebelum Arsen ke kantor, ia terlebih dahulu mengantar istri serta Gavin ke rumah sakit.


Ceklek. ..


Arsen, Alsiya serta Gavin masuk kedalam ruangan Reva.


Mereka melihat Reva sama Rey masih terlelap, dengan posisi seperti semalam, Reva masih setia memeluk lengan Rey.


"Ck, gadis ini selalu saja manja sama Reynand" decak Arsen melihat kelakuan putrinya itu.


"Kau seperti tak mengenal putrimu saja honey," sahut Alisya.


"Tentu aku tau sayang, pasti dia takut di tinggal Rey. anakmu itu sama hantu saja takut, perasaan dulu saat kecil dia berani tidur sendiri, kenapa sudah besar jadi penakut" kata Arsen.


Alisya menghela nafas panjang, putrinya menjadi penakut gara-gara nonton film horor, sejak saat itu ia kalau tidur minta di temani adiknya.


Gavin menghampiri Rey dan Reva yang masih terlelap, mereka tidak merasa terusik dengan kehadiran mereka.


"Kakak bangun, sudah siang masih molol telus, bangun atau Gavin akan silam kalian beldua dengan ail" teriak Gavin membangunkan mereka sambil memberikan ancaman.


Reynand yang merasa terusik pun mulai mengerjabkan matanya.


"Sssttthhhhh...." ringis Rey, tangannya merasa kram akibat di peluk Reva sepanjang malam.


Reva yang merasakan ada pergerakan dari Rey justru semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Rey.


"Hai bangun, ini sudah siang" ucap Rey membangunkan Reva.


"Lima menit lagi mam" lirih Reva.


Alisya dan Arsen menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putrinya, bisa-bisanya di rumah sakit putrinya bisa tidur nyenyak.


"Kak Leva bangun, Gavin sudah datang ini" panggil Gavin sambil menepuk nepuk pelan pipi Reva.


Reva yang merasa terusik pun akhirnya mengerjabkan matanya dengan perlahan.


"Ada apa sayang" tanya Arsen panik.


"Sakit papa kakinya" keluh Reva manja.


Dengan penuh perhatian Arsen mengelus ngelus kaki putrinya itu.


"Makanya lain kali kalau naik mobil jangan ngebut-ngebut. begini kan hasilnya" omel Reynand kesal kepada sahabatnya yang sok jadi pembalap itu.


"Namanya juga emosi. mana tahu akan jadi seperti ini" gerutu Reva memonyongkan bibirnya.


"Dasar bocah" ejek Reynand lalu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihjan tubuhnya, hari ini dia harus ke kantor.


Gavin duduk di kursi yang tadi Reynand duduki, sambil mengelus lengan kakaknya.


Reva menoleh melihat ke arah adiknya.


"Haisss... kau manis sekali boy. Adik kak Reva yang paling tampan, kenapa kamu tidak berangkat ke sekolah hmm" ucap Reva yang selalu memuji adiknya dengan mulut manisnya itu.


"Gavin sudah ijin sama mama, kalau hali ini Gavin bolos dulu, mau jagain kak Leva di sini" sahut Gevan dengan wajah menggemaskan.


"Alasan saja, bilang saja memang malas ke sekolah, ayo ngaku sama kak Reva" ucap Reva kesal, adiknya ini terlalu banyak alasan.


"Iya itu salah satunya, Gavin takut ntal cepat pintal" sahut Gavin nyleneh.


"Kamu ini ada-ada aja, siapa yang ngajarin kamu begitu?, namanya orang sekolah itu biar pintar, kamu malah takut pintar"


"Nda tahu, Kak Lavin bilangna begitu, katana gak apa-apa sekali-sekali bolos bial nda cepat pintal, kasihan teman-teman Gavin, begitu" adunya kepada Reva.


"Kamu jangan keseringan bergaul sama kak Ravin, mending sama kak Revan aja" saran Reva.


Gavin mengangguk patuh.


Alisya dan Arsen mendelik mendengarnya, putranya itu memang kurang ajar, bukan nya memberitahu yang benar, ini justru menyesaatkan.


"Kamu Jangan biarkan Gavin terlalu sering bermain sama Ravin mam, bisa-bisa Gavin mengikuti dia yang suka seenaknya itu" ucap Arsen kepada istrinya.


"Iya pa" sahut Alisya.


Di banding yang lain, Ravin memang agak susah di atur, dia lebih suka kebebasan dan anaknya slegekkan.


Meskipun begitu dia termasuk anak yang pintar dan sayang sama keluarganya.


"Om, Rey ke kantor dulu ya, hari ini Rey ada meeting sama klien dari luar negeri soalnya" ucap Reynand yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian kantornya.


Semalam memang dia sudah menyiapkan baju ganti untuknya.


"Iya Rey, om terima kasih kamu sudah mau menjaga Reva" kata Arsen.


"Tak perlu sungkan om, Reva kan saudara Rey juga, jadi sudah seharusnya bukan kalau Rey menjaganya" balas Reynand dengan senyum getir di bibirnya, hatinya seperti tertimpa batu yang besar ketika mengucapkan kata saudara, rasanya begitu sakit.


Reynand belum tahu kalau Reva bukan anak kandung Arsen, dia hanya tahu kalau dirinya sama Reva itu sepupuan.


Sebenarnya sejak dulu Reynand menyukai Reva, tapi ia menekan perasaanya sendiri. ia tak mungkin menyukai saudaranya sendiri.


Ketika Reva menjalin hubungan sama Brian, ia lebih sering menghabiskan waktunya untuk belajar dan belajar, agar bisa melupakan perasaannya terhadap Reva.


Namun hingga saat ini ia belum bisa melupakannya, semakin di lupakan rasa sayang itu justru semakin kuat, hingga saat ini Reynand masih menyimpannya rapat-rapat di hatinya, tak ada dari keluarganya yang tahu akan perasaannya kepada Reva, karena Reynand pandai menyembunyikan perasaannya.


Meskipun banyak wanita yang mendekati dirinya, tapi dirinya enggan untuk mengenalnya, karena perasaannya masih terpaut dengan satu nama, yaitu Reva Davidson putri sambung om nya sendiri.


*


*


Sedangkan di rumah Brian, mereka sedang sarapan bersmaa keluarganya.


"Apa rencanamu hari ini Bri" tanya Debora di sela-sela makannya.


"Aku sama Listy akan pergi ke restoran kemarin untuk meminta rekaman CCTV kejadian kemarin Dad" sahut Brian.


Debora mengangguk setuju, lebih cepat lebih baik sebelum ada seseorang yang memusnakan rekaman tersebut pikirnya.


Bersambung.


Happy reading guys🙏