Baby Girl

Baby Girl
BAB 77



Dengan perasaan dongkol Siska berlalu dari restoran milik Alisya, dia malu dengan ucapan Dewi yang menohok.


Sebenarnya tidak ada yang salah dengan ucapan Dewi, memang sudah sewajarnya kalau seorang nenek itu mengetahui rumah cucunya.


Sedangkan Siska mengaku nenek nya tapi dia tidak tahu rumah cucunya, sungguh aneh bukan.


"Sial, ternyata susah sekali menemui Alisya, sepertinya aku harus menghubungi Erik untuk meminta alamat sekolah Reva" umpat Siska sambil berjalan menuju mobilnya.


Siska hanya mempunyai waktu dua hari untuk meyakinkan Alisya, kalau tidak maka dengan terpaksa Siska akan menikahkan Erik dengan Viona. Karena dia tak mau di cerai oleh suaminya.


Setelah di dalam mobil Siska mengirim pesan kepada Erik. Setelah tahu alamatnya Siska berencana akan mendatangi Reva di sekolahnya.


Drrrttttt......


Ponsel Siska bergetar, dia melihatnya dan ternyata si Erik lah yang mengirim pesan.


--Erik--


"Reva Sekolah di Pelita Harapan Mom.


Mommy mau ngapain nanyain sekolah Reva?"


(Koreksi kalau nama sekolahnya Reva salah, Author lupa soalnya).


"Bukankah ini sekolahan Elit, ternyata kekayaan Alisya memang tidak bisa di ragukan lagi, aku harus bisa mencuci otak putrinya supaya dia meminta mamanya untuk menikahi Erik" batin Siska.


Siska tak membalas pesan Erik, dia langsung saja memasukkan ponselnya kedalam tas, setelah itu langsung melajukan mobil nya menuju ke sekolahan Reva.


Jalanan cukup lenggang. Sehingga Siska sampai sekolah bertepatan dengan jam sekolah Reva berakhir.


Siska turun dari mobil lalu bertanya pada penjaga sekolah.


"Ada yang bisa saya bantu Nyonya" tanya Penjaga sekolah.


"Saya ingin menjemput cucu saya yang bernama Reva, apa dia sudah keluar?" jawab Siska.


Penjaga sekolah memindai wajah Siska dengan seksama, dia tidak pernah melihat wajah Siska datang ke sekolah ini sebelumnya.


"Maaf, kalau boleh tau Nyonya siapa? Setahu saya oma nya Reva bukan anda nyonya" tanya penjaga sekolah.


Penjaga sekolah tahu daftar siapa-siapa saja wali murid di sekolah tersebut. Pihak sekolah sudah mengantisipasi hal tersebut karena dia tidak mau terjadi penculikan yang akan merugikan nama baik sekolah. Apa lagi kemarin Arsen sempat protes dengan kejadian Erik yang menemui Reva di sekolah.


"Ternyata penjagaan di sekolah ini cukup ketat" batin Siska.


"Saya nenek dari pihak ayahnya" jawab Siska.


Max yang tak sengaja mendengarpun menjadi penasaran, akhirnya max memutuskan untuk menghampiri mereka.


"Ada apa ini pak?" tanya Max


"Nyonya ini mengaku nenek nya Reva" adu penjaga sekolah yang memang sudah mengenali Max, karena hampir tiap hari Max nongkrong di sekolah Reva menunggu anak tuannya itu.


"Ck, berani sekali anda mengaku ngaku nenek nya Reva, nenek Reva hanya nyonya Belinda, lantas kamu siapa" decak Max yang mengenali wajah Siska.


Max sebelumnya sudah mencari tahu bio data Erik lengkap dengan orang tua serta kakeknya, jadi Max cukup mengenali wajah Siska.


"Siapa kamu, saya ini memang neneknya" kekeuh Siska.


"Pergi atau saya seret dari sekolahan ini" usir Max dingin, membuat Siska sedikit gemeteran mendengar gertakan Max.


"Om Max, ayo kita pulang...Leva cudah kangen cama mama, Ley katanya mau ikut pulang cama Leva" Reva tiba-tiba datang menghampiri Max bersama dengan Reynand.


Siska yang melihat Reva keluar pun tak menyia-nyiakan kesempatannya. Dia ingin meraih tangan Reva namu keburu di tepis oleh Reynand.


"Tante siapa, jangan pegang-pegang Leva" ucap Reynand yang sudah mulai tidak cadel lagi kecuali huruf R yang masih susah Reynand ucapkan.


"Saya neneknya Reva sayang" ucap Siska lembut karena tak ingin membuat Reva takut.


"Leva nda punya nenek, Leva punya nya oma, iya tan Ley" sahut Reva di sertai anggukan dari Reynand.


Max yang sudah jengah pun langsung menggendong Reva sambil menggandeng Reyanand pergi meninggalkan Siska.


Siska berlari megejar Reva,lalu meraih tangan Reva yang sudah mulai ketakutan.


"Ayo ikut nenek sayang, ketemu Daddy Erik" maksa Siska.


"Papa Leva butan Elik, tapi papa Alsen" ketus Reva sambil menghempaskan tangan Siska, namun tak bisa mungkin karena tenaga Reva yang tak seberapa di banding tenaga Siska.


"Bukan sayang, Daddy kamu adalah Erik bukan Arsen" sahut Siska.


"Huwaaa.....om Leva tatut" Reva menangis histeris sambil memeluk erat leher Max. Reva takut karena siska berganti memegang kaki Reva.


Max yang sudah tak bisa sabar lagi akhirnya mendorong tubuh Siska hingga tangan siska terlepas dari Reva dan mundur beberapa langkah kebelakang.


"Jangan menganggunya, atau akau akan lebih kasar dari ini" ancam Max. Setelah itu dia berlalu meninggalkan Siska yang masih mematung.


Siska menatap punggung Max yang berjalan menjaih darinya, dia bertanya-tanya sebenarnya siapa Max itu.


"Dia seperti seorang bodyguard, ternyata Alisya sampai sedetail itu memperhatikan keselamatan putrinya" gumam Siska yang masih memandang mobil max Yang sudah tak terlihat dari pandangannya.


*


*


*


Tiba di rumah Arsen Reva masih sesegukkan, matanya masih sembab, dan hidungnya juga terlihat merah.


"Reva kenapa sayang" tanya Arsen mengambil putrinya dari gendongan Max.


"Tadi ada nenek tua yang mengaku nenek nya Leva om, Leva yang takut akhilna menangis" adu Reynand.


Arsen melihat wajah Max, max yang ngerti pun menganggukkan kepalanya.


"Reva ke mama dulu ya, papa mau ngobrol dulu sama om Max" ucap Arsen lembut sambil menurunkan Reva dari gendongannya.


"Tolong jagain Reva nya dulu Rey" pinta Arsen. Reynand mengangguk patuh.


Arsen melihat Reynand yang menggandeng tangan Reva menaiki tangga menuju ke kamar Alisya.


Setelah memastikan putrinya sampai di tangga terakhir, Arsen mengajak Max masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Katakan Max" ucap Arsen yang sudah duduk di kursi kebesarannya yang ada di ruang kerjanya.


"Nyonya Siska datang ke sekolah nona Reva tuan, dia bilang kalau Erik lah Daddy Reva yang sebenarnya" jawab Max, membuat Arsen mengepalkan tangannya.


"Apa tujuan dia melakukan itu Max" tanya Arsen yang mencoba mengontrol emosinya.


"Nona Viona hamil anak tuan Erik tuan, Nona Viona memaksa tuan Erik untuk menikahinya namun tuan Erik menolaknya. Nyonya Siska lebih setuju kalau tuan Erik menikahi Nyonya Alisya karena alasan kepemilikan saham tersebut" terang Max.


Jangan tanya Max tahu dari mana info tersebut, tentu saja dari mata-mata yang sudah ia sebar di sekitar keluarga Dinata atas perintah Arsen.


"Dasar keluarga tak tahu diri. Kau perketat penjagaan Reva dan Alisya max, aku tak mau terjadi apa-apa dengan Reva yang akan mempengaruhi kandungan Alisya nantinya" perintah Arsen dengan tegas


"Nyonya Alisya hamil tuan" tanya Max


"Iya max, saya baru mengetahuinya tadi pagi" jawab Arsen dengan senyum yang tak pernah luntur sejak pagi dari bibirnya.


"Selamat tuan" ucap Max, Max juga ikut bahagia mendengar kabar kehamilan nyonya nya.


"Terima kasih Max" balas Arsen.


Bersambung


Happy reading guys🙏