
Semenjak kebangkrutan yang terjadi pada perusahaan Dinata kini semua aset keluarga Dinata di sita oleh bank, David hanya di berikan waktu satu hari untuk meninggalkan rumah itu.
Dia mengajak keluarganya untuk membantu membereskan barang-barang pribadinya.
Tiba di rumah Dinata jasmine berdiri terpaku melihat rumah yang sebentar lagi akan menjadi kenangan, dia tak menyangka semua yang sudah dia dan suaminya perjuangkan selama ini habis begitu saja.
"Kita mau tinggal dimana sayang, mommy tidak mau menjadi orang miskin" tanya Siska kepada suaminya.
"Kita akan tinggal di kampung, rumah bekas daddy dulu" jawab David acuh sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam kardus.
Siska menggelengkan kepalanya, "aku tidak mau tinggal di kampung, kita harus temui Alisya dan suaminya sayang, mereka pasti mau membantu kita" tolak Siska lalu memberi usulan kepada suaminya.
"Tidak!!, sudah cukup keluarga ini menyakiti perasaan Alisya, jangan lagi kalian ganggu kehidupan mereka, biarkan mereka hidup dengan tenang, bagaimanapun juga semua ini salah kalian. Mungkin ini teguran dari tuhan untuk membuat kalian berubah menjadi lebih baik" sahut Viona yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tersebut.
Siska menoleh menatap tajam Viona. "Diam kamu, !! Ini semua gara-gara kamu karena sudah memaksa Erik menikahimu, andai Erik tidak menikahimu pasti Alisya mau memaafkan Erik dan menikah dengan putraku." bentak Siska.
Ternyata kematian Aldrik tidak membuat Siska berubah, dia masih belum terima dengan keadaannya. Bahkan dia menyalahkan Viona yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan permasalahan antara Erik dan Alisya. Bahkan dia juga baru tahu kalau ternyata suaminya itu mempunyai anak dari wanita lain.
Viona tertawa sinis mendengar ucapan Siska."Apa mommy bilang? Aku penyebab semua ini? Bahkan kalian sendiri yang tidak mau menerima cucu kandungmu itu, lalu kenapa malah menyalahkanku?, apa kamu belum juga sadar mom dengan kesalahanmu?" balas Viona.
Siska yang tidak terima dengan ucapan Viona langsung berdiri dan menodorong tubuh viona.
Brughh....Viona jatuh perutnya membentur ujung meja karena dorongan keras dari Siska.
"Awwww....ringis Viona.
"Akhhhhh......tolong sakit, daddy tolong" pekik Viona yang merasa sakit di bagian perutnya.
David menoleh meliat ke arah Viona, dia terkejut istrinya dengan tega menyerang menantunya yang sedang hamil.
David mendelik melihat darah segar mengalir dari paha menantunya. Tanpa banyak kata dia langsung mengangkat tubuh menantunya dan langsung melarikannya kerumah sakit.
"Hiks....hikss....sakit dad" lirih Viona menangis sambil memegangi perutnya.
"Sabar sayang, daddy akan membawamu ke rumah sakit" ucap David sambil melihat wajah kesakitan menantunya.
David akan mengurus istrinya nanti, keadaan menantunya jauh lebih penting.
Sementara di rumah Dinata.
Plakkkk.....plakkk
Jasmine menampar pipi menantunya tanpa belas kasihan.
"Apa-apaan kamu Siska, apa kamu masih belum puas membunuh suamiku hah?, Apa sekarang kamu juga mau membunuh calon cucumu sendiri. Aku tak habis pikir dengan jalan pikiranmu, bukannya intropeksi diri malah makin menjadi" bentak Jasmine marah dengan kelakuan menantunya.
"Iya aku akan membunuhnya, karena aku tak sudi mempunyai cucu dari perempuan ja*ang itu, karena dia kita semua menjadi miskin" balas Siska tak kalah tinggi suaranya dengan Jasmine.
Jasmine geram dengan sifat keras kepala menantunya. "Apa kamu belum sadar kalau semua ini terjadi karena ulahmu, karena kecerobohan mu sendirilah yang membuat kita semua hancur" sengit Jasmine sambil menunjuk muka tebal Siska."Jika sampai terjadi apa-apa dengan kandungan Viona, aku tak akan segan-segan menyuruh David untuk menceraikanmu."ancam Jasmine.
Di rumah sakit.
"Dokter....dokter...cepat kemari tolong menantu saya dokter.."
David lari kedalam rumah sakit sambil mendorong Viona yang tengah terbaring tak berdaya di atas brankar, David mendorong brankar hingga ke ruang IGD.
"Maaf tuan, anda tidak boleh masuk ke dalam ruangan, anda bisa menunggunya di luar" pinta suster
Dokter pun langusng menangani Viona. David menunggu Viona di luar ruang IGD sambil terus duduk dengan perasaan cemas. Dia berharap tidak terjadi sesuatu dengan menantunya terlebih calon cucunya.
Dokter keluar dari ruangan Viona. "Mana suami nyonya Viona tuan" tanya dokter.
David berdiri melihat dokter keluar dari ruangan tersebut."Suaminya tidak bisa datang, saya ayah mertuanya. Memangnya kenapa dok" jawab David seraya bertanya kepada dokter dengan nada cemas.
Dokter menghela nafas sesaat. "Saya butuh persetujuan dari pihak keluarga untuk melakukan operasi,karena janing nyonya Viona tidak. Bisa di selamatkan akibat terjadi benturan dan juga pendarahan yang mengakibatkan janin tidak bisa bertahan" terang dokter
"Apa tidak ada jalan lain lagi dok untuk menyelamatkan calon cucu saya" tanya David dengan suara berat.
Dokter membalasnya dengan gelengan kepala.
David memejamkan matanya untuk meyakinkan diri mengambil keputusan. "Lakukan yang terbaik untuk menantu saya dok, saya ikhlas kehilangan calon cucu saya, tapi tolong selamatkan nyawa menantu saya" pinta David dengan berat hati.
"Baik pak, kami akan segera melakukan operasi" ucap dokter lalu berlalu dari hadapan David.
David terduduk di kursi tunggu sambil memandnag langit-langit rumah sakit.
"Apa semua ini hukuman untuk keluargaku, karena sudah tega membuang cucu kandungku sendiri."
"Maafkan kakek Reva, maafkan kakek yang sudah jahat sama kamu dan mama kamu" batin David.
Kini hanya penyesalan yang di rasakan oleh keluarga Dinata. Andai semuanya bisa di ulang David akan menerima Reva dan juga Alisya dengan tulus. Tapi rasanya semua itu tak akan mungkin.
Hendrawan dan istrinya lari menuju ke ruang operasi, mereka shock ketika David mengabarkan kalau anaknya sedang di rumah sakit.
"Bagaimana keadaan putriku Vid" tanya Hendrawan dengan nafas naik turun.
"Maaf, aku tak bisa menjaga putrimu, dan kini Viona harus operasi untuk pengeluarkan janin yang ada di kandungan nya," lirih David merasa bersalah dengan tindakan istrinya hingga menyebabkan menantunya celaka.
"Bagaimana bisa putriku bisa celaka" tanya Hendrawan.
"Dia beradu muluy dengan Siska, hingga Siska merasa tidak terima dengan ucapan Viona lalu dia mendorongnya hingga perut Viona terbentur ujung meja" jelas David sambil menunduk.
Hendrawan menghela nafas panjang."tidak perlu merasa bersalah, ini sudah menjadi takdir dari tuhan, semua sudah terjadi tak perlu di sesali. Aku berharap keluarga kalian ke depannya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi" ucap Hendrawan bijak sambil menepuk bahu David.
Bukan tak sedih, Hendrawan sedih mendengar putri semata wayangnya celaka hingga menyebabkan dia kehilangan janinnya. Dia juga kevewa dengan Siska tapi mau marah juga percuma toh tidak akan mengembalikan calon cucunya hidup lagi.
Setelah keluar dari rumah sakit Hendrawan akan membawa putrinya untuk tinggal di rumahnya, dia tidak akan mengijinkan lagi putrinya tinggal bersama keluarga Dinata.
Bersambung
Happy reading guys🙏
Jangan lupa
Like
Koment
Vote
Follow🙏💕