Baby Girl

Baby Girl
BAB 170



Keesokan harinya, hari yang di tunggu-tunggu Nino dan Dewi pun tiba.


Hari ini merupakan hari pernikahan Nino dan Dewi.


Alisya mendandani semua buah hatinya untuk menghadiri acara pernikahan Nino yang di langsungkan di hotel bintang lima milik Arsen.


Arsen sengaja menyiapkan hotelnya untuk acara asistennya tersebut.


Sejak tadi Alisya di buat lelah oleh Ravin yang tak mau di pakaikan baju, bocah itu terus berlari menghindar dari kejaran ibunya.


"Vin cetop ! Chel pucing ini liat tamu lali telus, tacihan tan mama na tapek tejal tamu, Chel kacih tahu ta' Leva ya bial tamu di malahin cama ta' Leva" omel Rachel.


Gadis kecil jengkel dengan tingkah salah satu kembarannya itu.


Ravin menghentikan larinya karena mendengar nama Reva yang di sebut oelh adiknya itu.


"Sama mama tidak takut, giliran baru dengar nama kak Reva aja langsung takut" kata Alisya.


"Vin butan tatut cama ata' Leva mama, tapi Vin tatut cama ulal nya Van, nanti talau ata' natutin Vin patai ulal nya Van badaimana" ucap Reva alasan.


"Makanya jangan nakal, biar tidak di takut-takutin sama kakak" sahut Alisya seraya memakaikan baju ke tubuh Ravin.


"Vin nda atal mama, Vin tuma nda bica diam aja" seru Ravin.


"Sama aja boy," decak Alisya.


"Beda mama, talau natal itu cuka putul-putul olang, talau Vin itu cuka lali-lali" Ravin terus ngeyel membalas ucapan Alisya, dia tak mau kalah dengan mamanya.


Alisya menghela nafas sabar. dia memilih diam tak lagi meladeni ucapan Ravin. Suka-suka putranya, pikir Alisya.


Arsen masuk ke kamar triplet dengan stelan jas rapih. Arsen tersenyum melihat istri serta anaknya.



"Sudah belum mam" tanya Arsen.


"Sebentar lagi selesai pa, anakmu yang satu ini yang membuatku lama" sahut Alisya.


"Apa lagi yang dia lakukan" tanya Arsen sambil duduk di sisi Rachel yang sedang asik liat kartun spons kuning. lalu mengusap kepala putrinya sayang.


Rachel menyandarkan tubuhnya ke dada papanya.


"Vin nda mau patai baju papa, Vin judha buat mama Chel tesel" adu Rachel kepada papanya.


"Oh ya? terus apa lagi" tanyanya lagi.


"Cudah itu caja, talena tadi Chel ancam Vin mau tacih tau ata' Leva, makana Vin tatut" jawab Rachel tanpa mengalihkan sedikitpun matanya dari layar tv.


Arsen terkekeh, memiliki empat anak dengan karakter yang berbeda beda terkadang membuat dirinya, pusing, kesal, bangga, campur aduk jadi satu.


Beruntung ada putri sulungnya, yang selalu mampu menghandle kenakalan adiknya-adiknya itu.


Reva yang lebih sering menemani triplet ketimbang dirinya yang sibuk kerja, membuat triplet lebih takut ke Reva ketimbang dirinya.


Arsen yang jarang ada waktu dengan buah hatinya, membuat dia tak pernah memarahinya, kecuali kalau sudah keterlaluan baru dia akan memarahi anaknya.


Berbeda dengan Reva yang suka sekali mengomeli adiknya jika mereka membuat onar dan tak mau menurut.


"Kak Reva mana boy" tanya Arsen kepada Ravin.


"Di tamalnya muntin" jawab Ravin.


Arsen mengangguk, setelah mereka semua selesai dia akan menghampiri putrinya.


"Ayo kita jalan sekarang, nanti kita telat ke acara pernikahan om Nino" ajak Arsen.


"Ayo pa, mama juga sudah selesai" sahut Alisya


Dia mendekati Arsen, lalu merapihkan jas yang di pakai suaminya itu.


"Terima kasih mam" ucap Arsen tersenyum manis kepada istrinya.


Arsen mengendong Rachel, sedangkan Alisya menggandengan lengan Ravin dan Reva di sebelah kanan dan kirinya.


Mereka menghampiri Reva yang ada di kamarnya terlebih dahulu, dan ternyata di situ sudah ada Belinda.


"Sudah belum bund" tanya Alisya.


"Sudah sayang, kita juga baru mau keluar" jawab Belinda.


Mereka membawa menaiki mobil aAlphad, agar buah hatinya bisa leluasa.


Mobil melaju menuju ke hotel dimana acara ijab qabul akan di langsungkan.


Setelah cukup lama menempuh perjalanan, akhirnya mobil yang mereka tumpangi tiba di lobby hotel.


Mereka berpisah, Alisya dan orang tuanya serta buah hatinya pergi ke kamar Dewi, sedangkan dirinya menemui Nino.


Keluarga Dewi juga sudah nampak di hotel.


"Kapan acaranya di mulai No" tanya Arsen ketika sudah berada di ruangan yang sama dengan Nino.


"Sebentar lagi acranya di mulai tuan" jawab Nino.


"Kamu ini kenapa manggil saya tuan, ini bukan di kantor No, panggil Arsen saja" protes Arsen mendengar panggilan Nino kepada dirinya yang terlalu formal.


"Baiklah Ar," ucap Nino.


"Begitu kan lebih enak di dengarnya" sahut Arsen.


Akhirnya ijab qabul akan segera di mulai, Nino sudah duduk berhadapan dengan ayah Dewi serta bapak penghulu. Para saksi juga sudah siap.


"Sudah siap" tanya Penghulu.


"Siap" jawab Nino yakin.


Nino menjabat tangan orang tua Dewi.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan saudara Elnino Adanu Dirgantara bin Bapak Dirgantara dengan anak saya yang bernama Dewi Rahmawati binti Bapak Rahman dengan mas kawin (Skip) _ di bayar tunai." ucap Ayah Dewi.


"Saya terima nikah dan kawinnya Dewi Rahmawati binti Bapak Rahman dengan mas kawin tersebut di bayar tunai" ucap Nino lantang dengan satu kali tarikan nafas.


"Gimana para saksi" tanya penghulu.


"Sah" jawab para saksi secara bersamaan.


"Alhamdulillah" ucap Nino bersyukur seraya mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


Sekarang status Nino berubah menjadi seorang suami, dan tentu saja tugasnya pun juga bertambah.


Sedangkan di ruangan yang lain, Dewi sudah memakai baju pengantin dan juga sudah di dandani sedemikia rupa, membuat Dewi semakin cantik dari biasanya.


"Ayo kita keluar, ijab qabulnya sudah selesai" pinta Belinda.


Tanpa sadar Dewi menitihkan air matanya mendengar penuturan Belinda, dia kini tengah menjadi seorang istri dari Elnino kekasihnya.


"Jangan nangis aunty, nanti bedaknya luntur" tegur Reva.


"Iya sayang, jangan buat suamimu terlalu lama menunggu" ucap ibu Dewi.


Dewi mengangguk, lalu menghapus air matanya menggunakan tissu.


Usai itu Belinda membawa Dewi keluar kamar.


Dewi di apit oleh Belinda serta ibu Dewi dan membawanya menemui Nino.


Nino merasa pangling melihat kecantikan istrinya, pasalnya selama ini dia tidak pernah melihat wajah istrinya yang full make up.


"Cantik" lirih Nino memuji wanita yang baru saja sah menjadi istrinya.


"Sabar, nunggu malam dulu baru langsung tancap gas" seloroh Arsen yang mendengar gumaman Nino.


Nino tak menggubris ucapan bosnya yang gak punya akhlak itu, Nino memilih fokus melihat wajah istrinya.


Hingga tiba di dekat Nino, Belinda mendudukan Dewi di sebelah Nino.


"Silahkan tanda tangani dokumen pernikahannya dulu" titah penghulu.


Dewi dan Nino menandatangi dokumen pernikahannya, setelah selesai penghulu meminta Nino memasangkan cincin ke jari Dewi, begitu juga dengan Dewi yang memakaikan cincin ke jari Nino.


Dewi mencium punggung tangan Nino, lalu Nino membalas mencium kening Dewi.


Bersambung


Happy reading guys🙏