
Ravin yang sadar kalau Revan sudah tak mengejar lagi, akhirnya ia turun dari tubuh papa nya itu.
Ia turun dari sofa dan mendekati Reagan yang sedang memangku Cia.
Lalu Ravin memegang tangan mungil Cia yang begitu lembut.
"Kau mau apa boy" tanya Arsen mengeryit.
"Janan belisik papa, Vin ladhi mau layu Cia." sahut Ravin tanya mengalihkan tatapannya dari wajah Cia.
Reagan hanya mengamati saja, ia ingin tahu apa yang akan di lakukan bocah kecil itu.
"Cia dengel ya, ta' Lavin puna pantun untuk Cia" ucap Ravin.
Cia membalasnya dengan anggukan.
Alisya sudah menyembunyikan wajahnya ke punggung suaminya, sedangkan Viona menggigit kemeja Erik karena gemas melihat tingkah Ravin.
Sedangkan Renata melongo melihat bayinya sedang di rayu Revan, bocah laki-laki yang belum genap berumur dua tahun itu sudah mau mendekati putrinya.
"Itan Nila belenang di tolam, ail tolam amatlah dalam, dali lubuk hati teldalam, ku ucaptan celamat malam.
Hahahhaha.....
Semua tertawa terbahak mendengar pantun Ravin.
Cia pun ikut tertawa girang karena melihat semuanya tertawa.
Mereka tak menyangka kalau bocah kecil itu ternyata bisa pantun juga.
"Lagi dong Vin, masak iya begitu doang, mana tertarik Cia nya sama kamu" ucap Erik meladeni kegilaan Ravin.
Arsen melempar bantal sofa mengenai kepala Erik.
"Diam Rik, kau jangan mengompori dia, tidak di komporin aja udah banyak tingkahnya." cebik Arsen.
"Biarin aja Ar, namanya juga laki" timpal Gilang.
Arsen semakin kesal, karena mereka mendukung aksi putranya itu.
"Tenan cemuanya, Lavin macih puna pantun ladhi" ucap Ravi sambil menoleh menyuruh semuanya untuk diam.
Akhirnya mereka semua diam dan bersiap mendengar pantun Ravin yang berikutnya.
"Undul-undul nablak tukang jamu, atu tidak bica tidul nih mikilin kamu" ucap Ravin dengan wajah tengilnya.
Hahahhahaha....
Semua tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya yang terasa sakit.
"Uhh... co cweet cekali, bisa ngga sih kita pindah ke mars aja, rasanya tidak kuat melihat keromantisan mereka berdua" seloroh Dewi.
Nino gemes dengan calon istrinya yang mudah berbaur, bahkan dia sudah tidak canggung lagi dengan yang lain.
"Ravin, gombalanmu membuat hati aunty bergetar, hahahah" timpal Viona.
Suasana semakin ramai akibat ulah Ravin.
Sepertinya bocah kecil itu memiliki stok pantun yang lumayan banyak.
Tiba-tiba Reynand datang mendekati Ravin, lalu menjewer kuping Ravin.
"Aduhhh....satit Ata' satit, tenapa ata' jewel tuping Lavin cih" gerutu Ravin sambil memegangi kupingnya.
"Biar tahu rasa, suka sekali bikin rusuh, awas aja kamu kalau gombalin Cia lagi" omel Reynand posesif, dia tak rela adiknya di rayu-rayu pria lain.
"Iya ata' "sahut Ravin memanyunkan bibirnya.
"Ayo ikut kak Reynand, jangan rayu Cia terus, gigi Cia aja baru tumbuh udah di gombalin" omelnya lagi.
"Begini nih, talau cinta telhalang lestu" gerutu Ravin.
"Cia tenang aja ya, nanti ata'Lavin atan beljuang mendapatkan lestu ta' Ley" ucap Ravin sok gentle
Lalu dia mengikuti langkah Reynand, pergi meninggalkan orang tuanya.
Semuanya menahan tawa mendengar gerutuan Ravin.
"Bukan putraku sumpah," ceplos Alisya dengan wajah memerah karena malu.
Arsen terkekeh sambil mencium gemas pipi chubby istrinya.
"Bisa tidak sih, putramu itu kandangin dulu kalau ada Cia, Ar," ucap Reagan yang sejak tadi merasa kesal dengan tingkah Ravin yang merayu putrinya. apa lagi melihat Cia yang terlihat girang di rayu Ravin, semakin membuat hati Reagan panas.
"Biarin saja, anakmu juga seneng-seneng aja tuh" sahut Arsen acuh.
Tiba-tiba terdengar suara tangisan dari Cia.
Huwaaaa...
Tangis Cia pecah, entah apa yang menyebabkan bayi itu menangis.
"Eh, kenapa menangis girl" ucap Reagan bingung seraya bangun dari temoat duduknya.
"Mungkin anakmu masih mau di gombalin Ravin, Re" timpal Erik.
"Jangan ngadi-ngadi kamu Rik," kesal Reagan.
"Lihat saja, putrimu itu menangis setelah di tinggal Ravin" ucap Erik.
Reagan mendengus kesal, masak iya putrinya tertarik sama Ravin.
"Jangan nangis girl" ucap Reagan lembut seraya menggoyang goyangkan tubuhnya agar putrinya itu berhenti menangis.
Cia tetap menangis sambil menunjuk ke arah Ravin tadi pergi.
"Tuh benar kan kata gue, putrimu itu mau ke Ravin" ucap Erik asal, dia seolah mengerti penyebab Cia menangis.
Reagan mencoba berjalan ke arah yang di tunjukkan putrinya. dan benar saja putrinya itu berhenti menangis ketika melihat Ravin yang sedang duduk anteng bersama Reynand.
"Oh my, putriku kenapa genit sekali" decak Reagan.