
"Papa.. " teriak Reva tiba-tiba.
Membuat Arsen yang sedang mengobrol terlonjak kaget.
"Apa girl? kamu ini kebiasaan teriak-teriak, bikin papa kaget aja" tanya Arsen sambil menggerutu karena tingkah putrinya.
"Om Max mana" tanya Reva.
"Om Max baru saja keluar sayang" jawab Arsen.
"Ada apa kamu mencari om Max" lanjut Arsen bertanya sambil menautkan alis nya.
"Panda Reva tertinggal di mobil om Max, pasti om Max sengaja tak mau mengeluarkan Panda Reva" sahut Reva beranjak dari tempat duduknya.
Dia berlari keluar rumah mengejar Max.
"Oh God, Ar lama-lama rumahmu berubah jadi kebun binatang" ucap Erik.
Arsen hanya mampu mengelus dadanya sabar.
Ketika di depan pintu tak sengaja Reva menabrak tubuh Reynand yang baru saja datang bersama orang tuanya. Hingga membuat tubuh Reynand jatuh terduduk dan Reva jatuh di atas tubuhnya.
Reva langsung bangkit. lalu memotong Reynand yang hendak membuka mulutnya.
"Maaf Rey, nanti dulu berantemnya Reva harus mengejar om Max" ucap Reva langsung lari ke depan.
Reagan menggeleng kepalanya melihat tingkah Reva.
"Reva mau kemana Dad" tanya Reynand menatap punggung Reva yang semakin menjauh.
"Ngejar Om Max katanya" jawab Reagan kemudian berlalu, dia mengajak istrinya masuk ke dalam rumah.
Sedangkan di luar rumah.
"Paman tutup gerbangnya, jangan biarkan mobil om Max keluar dari rumah ini" teriak Reva memberikan perintah kepada penjaga yang ada di depan rumah.
Penjaga langsung bergegas menutup pintu gerbang, sesuai perintah nona kecilnya.
"Om Max berhenti, jangan kabur" teriak Reva sambil berlari menuju ke mobil Max.
Beruntung Max belum sempat menjalankan mobilnya.
Tok
Tok
Tok
Reva berjinjit sambil mengetuk ngetuk jendela mobil Max.
Max menurunkan kaca mobilnya.
"Ada apa nona" tanya Max dengan wajah biasa aja.
"Ada apa, ada apa, turunin Panda Reva om" omel Reva lalu meminta Max menurunkan hewan Panda miliknya yang ia minta dari salah satu koleksi hewan milik Max.
Max menggaruk kepalanya yang tak gatal, niat hati mau kabur tapi malah ketahuan.
"Iya, sebentar om Max buka bagasi dulu" ucap Max lemas.
Setelah pintu bagasi terbuka, Max menurunkan dua Panda miliknya yang sekarang sudah menjadi milik anak majikannya itu.
Max memberikan dua anak panda kepada Reva yang di taruh di keranjang.
"Terima kasih om, om Max sekarang boleh pergi" usir Reva setelah menerima anak Panda tersebut.
Lalu Reva berbalik meninggalkan Max begitu saja.
"Sial, aku tak bisa menyelamatkan hewan kesayanganku itu" keluh Max yang masih merasa berat berpisah dengan panda kesayangannya.
Reva berlari sambil melompat lompat girang membawa anak Panda masuk kedalam rumah.
"Chel, kamu mau minta Panda nda" tawar Reva kepada adik bungsunya.
"Iya ata'," sahut Rachel, kemudian beranjak dari kerumunan anak laki-laki yang masih asik melihat burung hantu.
lalu dia mendekati kakaknya.
"Uwaaa... lucu cekali, Chel mau tatu ata' "heboh Rachel.
"Yasudah ini buat kamu satu, buat kak Reva satu, ini gendong sendiri anak Panda nya" ucap Reva menyuruh adiknya mengambil satu Panda dari keranjangnya.
"Cebental, Chel pandil Vin dulu" ucap Rachel. dia mau meminta bantuan kepada Ravin.
Dia berlari menarik tangan Ravin.
"Ada apa, tenapa tamu talik-talik tangan Vin" kesal Ravin karena Rachel tengah menganggu kesenangannya berasama saudara-saudaranya.
Ravin menghela nafas selayaknya orang dewasa yang merasa terbebani.
"Mana ata' Panda puna Chel" tanya Rachel.
"Ini ambil satu" ucap Reva.
Ravin membantu mengambil Panda dari dalam keranjang.
Ravin mengangkat di bagian kedua kedua tangan, sedangkan Rachel memegang di bagian kaki.
Mereka berdua membawa Panda tersebut ke ruang tamu, untuk di perlihatkan kepada mamanya.
"Mama, liat Chel di tacih ata' Panda, hihihi" Rachel tertawa kesenengan.
Alisya dan Arsen menepuk keningnya pusing.
"Apa lagi ini honey" keluh Alisya seraya menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Dulu kamu ngidam apa sih sayang, kenapa semua anakmu aneh," sahut Arsen.
plakk
Alisya memukul punggung suaminya.
"Yang ngidam itu kamu, jika kamu lupa" sewot Alisya.
Arsen mengusap tengkuknya, dia malu di tertawakan sama yang lain.
Alisya mendekati putrinya.
"Panda na tenapa diam caja ma," tanya Rachel ketika mamanya sudah mendekat.
"Mingkin tidur sayang" jawab Alisya sambil mengamati Panda yang sedang rebahan di lantai sambil memejamkan matanya.
"Oh.. ladhi tidul," sahut Rachel mengangguk ngangguk seolah mengerti.
"Bialin aja dia tidul dulu mama, muntin panda na tapek habis naik mobil cama ata', hihihihi" ucap Rachel dengan suara cadelnya.
Alisya selalu di buat gemas dengan tingkah putra putrinya.
Sementara anak-anak bermain dengan binatangnya, para orang dewasa membahas pernikahan Nino.
"Bagaimana Nino? sudah siap semua belum persiapannya, jangan sampai ada yang terlewatkan untuk acara besok" tanya Belinda sambil memperingati Nino.
"Sudah semua bun, tinggal nyiapin mental aja buat ngucap ijab qabul nanti" sahut Nino di selingin dengan becandaan.
"Kalau itu mah emang harus siap jamil, awas aja nanti kamu salah menyebut nama calon istrimu itu" timpal Arsen.
"Tentu saja tidak akan, selama seminggu ini aku sudah menghafalkannya, bahkan aku sudah sering berlatih" ucap Nino percaya diri.
"Dan pelatihan itu semuanya tidak akan berguna di depan penghulu, di saat kamu gugup, semua itu akan hilang dari otakmu itu" sahut Reagan menakuti Nino.
"Dan jika itu terjadi, maka pernikahanmu tidak akan sah" timpal Erik semakin membuat wajah Nino pucat.
Belinda menggelengkan kepalanya melihat kelakuan mereka, bukannya memberikan semangat, malah membuat mentalnya down duluan.
*
Sementara mereka giat menggoda Nino, lain lagi dengan anak-anak yang sedang berlari ketakutan karena ulah Revan, yang sengaja mengeluarkan ularnya dari dalam kandangnya.
"Vin belhenti, janan lali tamu, cini tenalan dulu cama ulal atu" teriak Reva seraya berlari mengejar Ravin yang lari terbirit-birit.
"Nda mau, janan ikutin Vin telus, Vin tatut Van" pekik Ravin sambil berlari mencari keberadaan orang tuanya.
"Dasal payah, jadhi towok tok penatut" ucap Revan yang menghentikan larinya karena lelah.
Ravin tak peduli dengan ucapan Revan yang mengejeknya.
"Papa tolong, Van natal papa" ucap Ravin seraya menubruk tubuh papanya, lalu dia memanjat tubuh Arsen yang sedang duduk.
"Ada apa boy, ini kenapa kamu memanjat tubuh papa" tanya Arsen bingung.
"Vin tatut papa, Van natutin Vin" ucap Ravin seraya menyembunyikan tubuhnya.
"Kamu ini sama ular aja takut, giliran sama cewek aja tidak takut" ledek Arsen.
"Talau cewek tan tantik papa, talau ulal tan sanat menggelikan, Vin jijik melihatna" sahut Ravin beralasan.
"Halah, takut mah takut aja boy" goda Arsen.
"Tidak, Vin tuma geli aja, nda tatut" ngotot Ravin.
Bersambung
Happy reading guys🙏jangan lupa like, koment, vote, gift🙏