
Malam hari semua para tamu undangan satu persatu datang memenuhi ballroom hotel.
Nino yang selama ini di kenal sebagai perwakilan dari perusahaan Global Group tentu saja banyak tamu undangan dari kalangan bisnis pada hadir ke acara resepsi pernikahannya.
Keluarga Arsen dan keluarga Dewi juga sudah nampak hadir memenuhi ballroom, Reagan dan juga keluarga juga ikut hadir.
"Aku tak menyangka, akhirnya kamu nikah juga No, aku pikir kamu akan terus menjomblo" ucap Arsen sambil tersenyum tipis.
"Selagi lagi selamat atas pernikahan kalian berdua, aku ada hadiah untuk kalian, nanti aku akn menyuruh orang untuk mengirimnya ke kamar kalian" ucap Arsen.
"Sama-sama Ar, terima kasih sudah membantuku selama ini" sahut Nino.
"Jangan sungkan No. yang penting setelah ini kamu harus langsung tancap gas, biar teman triplet semakin bertambah" goda Arsen sambil memainkan alisnya.
"Kau pasti suka dengan hadiah yang akan aku berikan nanti" lanjutnya berbisik di telinga Nino.
Nino menatap sahabat sekaligus bos nya itu, pasti ada sesuatu yang bos nya itu rencanakan.
Usai berbisik seperti itu Arsen berlalu dari hadapan Nino sambil membawa Rachel di gendonganya, Arsen meninggalkan istrinya yang sedang mengobrol dengan Dewi.
"Selamat ya mbak, semoga langgeng dengan Nino" ucap Alisya, lalu memeluk Dewi.
"Makasih ya Al, terima kasih juga untuk keluarga suamimu yang sudah mensupport hubungan kami" balas Dewi seraya mengurai pelukannya.
Alisya mengangguk sambil tersenyum mengiyakan.
Lalu Alisya pergi menyusul suaminya dan juga anak-anaknya.
Sebenarnya Alisya masih ingin ngobrol sama Dewi, tapi melihat antrian panjang yang juga ingin memberikan selamat kepada pengantin, akhirnya Alisya mengurungkan niatnya.
"Kamu sudah makan belum, honey" tanya Alisya kepada Arsen.
"Belum baby, aku menunggumu" jawab Arsen.
"Kalau begitu aku ambilkan dulu" ucap Alisya kemudian berjalan menuju ke stand makanan, lalu mengambil makanan untuk suaminya.
Sembari menunggu istrinya mengambil makanan, Arsen mengobrol bersama Reagan dan juga yang lainnya.
Sedangkan para bocil sedang duduk berkumpul di mejanya sendiri.
"Vin, Chel mau agal-agal jeli itu" bisik Rachel di telinga Ravin.
"Tamu mau?, sebental Vin ambiltan dulu ya" ucap Ravin.
Meskipun mereka kerap berantem, tapi Ravin tetap menyayangi adiknya itu, dia selalu menuruti apa yang Rachel mau.
Vin turun dari kursinya.
"Kamu mau kemana Vin" tanya Reva yang melihat adiknya beranjak dari temoat duduknya.
"Cebental ata', Vin mau ambil itu dulu buat Chel" jawab Ravin seraya menunjuk stand jajan yang tak jauh dari tempat duduknya.
"Hati-hati, jangan buat rusuh" peringat Reva kepada Ravin.
Ravin mengangguk, setelah itu pergi menuju ke Stand Jely yang di inginkan adiknya. Beruntung di situ ada yang jaga, jadi Ravin bisa meminta tolong kepada orang tersebut.
Apa lagi yang jaga stand merupakan gadis cantik, membuat Ravin semangat mengambilkan makanan yang di inginkan adiknya itu.
"Ata' tantik, bica tolong ambiltan itu nda?, vin nda nyampai coalna, nanti Vin tacih ata' cium deh" ucap Ravin dengan gaya genitnya mengedipkan satu matanya.
waitress terkekeh melihat tingkah Ravin.
"Bisa boy, biar kakak ambilkan untukmu" ucap waitress
Penjaga stand mengambilkan beberapa Jely beraneka bentuk, lalu memberikannya kepada Ravin dengan sedikit menunduk.
Ravin menerima Jely tersebut dari tangan sang waitress.
"Telima tacih ata' tantik" ucap Ravin sambil mencium pipi sang waitress.
Dari kejauhan Arsen melihat putranya yang sedang modusin waitress, dia di buat melongo dengan aksi putrya nya yang dengan berani mencium waitress tersebut.
"Gila putramu Ar, masih piyik aja sudah berani cium-cium perempuan" ucap Erik terheran heran.
"Aku juga tak tahu, putraku yang satu itu sebenarnya mengikuti tingkah siapa, perasaan dulu aku tidak begitu," ucap Arsen masih memperhatikan Ravin hingga ke mejanya.
"Kau harus menjauhkan Cia dari Ravin, jangan sampai putriku juga di modusin sama dia" timpal Reagan posesif.
Arsen menghela nafas, bagaimana mungkin Ravin modusin Cia, sebelum modusin Cia sudah di hadang dulu sama Reynand.
*
*
Setelah acara resepsi selesai, Arsen meninggalkan Nino dengan Dewi di hotel, sedangkan yang lain memilih pulang ke rumahnya masing-masing.
"Sayang, tolong lepasin resletingnya, tanganku ngga nyampai" pinta Dewi.
"Iya honey" ucap Nino seraya meletakkan ponselnya di atas nakas.
Setelah itu dia mendekati istrinya.
Nino menarik resletik gaun pengantin istrinya itu ke bawah, dan terlihat dengan begitu jelas punggung mulus Dewi di hadapan Nino.
Gluk
Nino menelan salivanya kasar. ia sekuat tenaga menahan hasratnya, sebab ia tak mau terlalu terburu-buru untuk melakukan malam pertamanya, dia tak ingin membuat istrinya takut.
"Sudah sayang" ucap Nino.
"Terima kasih" balas Dewi sambil memgang baju pengantinya agar tidak melorot.
Dewi berjalan menuju ke kamar mandi yang ada di kamar hotel tersebut, sedangkan Nino kembali duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.
Tak lama terdengar suara dari luar orang mengetuk pintu kamarnya.
Tok
Tok
Tok
Nino beranjak dari sofa yang ia duduki tadi lalu berjalan dan melangkah menuju ke arah pintu.
Klek
Pintu di buka oleh Nino.
"Selamat malam tuan, saya hanya ingin mengantarkan makan malam sekaligus kado dari tuan Arsen" ucap room service.
Nino mengangguk, dan membiarkan room service masuk kekamarnya sambil mendorong troli yang berisi makanan untuknya dan juga Dewi.
Kebetulan tadi Nino dan Dewi belum sempat makan, makanya dia memesan makanan untuk istri dan juga dirinya.
"Terima kasih" ucap Nino setelah room service selesai menata makanan dia atas meja. Tak lupa Nino juga memberikan uang tip untuknya.
Nino membuka kado yang di berikan Arsen untuknya.
"****, dasar bos sialan, apa dia pikir aku ini lemah Syahw*t sampai harus minum beginian. Bahkan begadang sampai pagi pun aku masih sanggup" umpay Nino dalam hati.
Ternyata kadonya berisi obat kuat dan juga lingeri.
Sebenarnya lingeri itu sengaja di beli Alisya untuk Dewi, tapi berhubung suaminya itu iseng, ia sekalian memasukkan beberapa obat kuat untuk Nino.
Nino menyembunyika obat tersebut, ia tak mau kalau sampai di lihat oleh istrinya.
Setelah tiga puluh menit berlalu, Dewi keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe.
Dewi melihat kotak kado yang tergeletak di atas kasur, dia yang penasaran langsung saja membukanya.
Dia terperangah sekaligus malu melihat baju mirip saringan santan itu, apa lagi di situ ada suaminya.
Dewi melempar baju itu begitu saja.
"Siapa yang memberikan kado ini sayang" tanya Dewi.
"Dari Alisya" jawab Nino.
"Dasar Alisya, kenapa dia memberikan baju lucnut itu" gerutu Dewi.
Dewi tentu tau model baju itu.
Bersambung
Hapoy reading guys🙏