Baby Girl

Baby Girl
S2~9



Usai dokter mengobati luka Brian, Listy dan Brian keluar dari ruangan dokter, ia menuju ke mobilnya yang ada di parkiran rumah sakit.


Sampai di parkiran mereka dua langsung masuk ke dalam mobil, lalu mobil melaju menuju ke rumah Brian.


Setibanya di rumah Brian, mereka berdua langsung masuk kedalam rumah, kedatangan mereka sudah di sambut oleh kedua orang tua Brian.


"Kamu kenapa Bri? Kenapa wajah dan kepala mu terluka seperti itu? siapa yang membuatmu seperti ini Bri?" Debora membrondong banyak pertanyaan kepada Brian, ia tidak terima melihat keadaan putranya yang babak belur.


"Rachel mom, adiknya Reva" lirih Brian, sejujurnya Brian malu, bisa-bisanya ia di bikin babak belur oleh perempuan yang belum genap berusia tujuh belas tahun.


"Hah? bagaimana bisa" kaget Debora.


"Dia melihatku dengan Listy di restoran mom" sahut Brian.


Reno menggeleng gelengkan kepalanya, ia malu melihat putranya di pecundangi oleh gadis remaja.


"Kau membuat Daddy malu Bri, sama anak SMA saja kau kalah" cibir Reno tersenyum miring melihat wajah babak belur putranya.


Brian berdecak kesal mendengar cibiran Daddy nya.


Listy dari tadi hanya menyimak saja, ia bingung dengan obrolan mereka.


"Sebentar, sebenarnya siapa Reva dan Rachel itu? sepertinya kalian begitu mengenal mereka berdua" sela Listy penasaran.


"Rachel adalah adiknya Reva, mantan pacar Brian waktu di kampus dulu" Tak salah Debora bilang Rachel adik Reva, tapi kalau bilang Reva mantan Brian, tentu dia salah, karena sampai sekarang mereka berdua belum ada yang mengatakan kata putus.


Listy mengangguk mengerti.


"Bagaimana kalau kita laporkan dia ke kantor polisi Aunty, dengan tuduhan penganiayaan" Listy memberikan usul kepada keluarga Brian.


Debora melirikkan matanya ke arah suaminya, meminta pendapat kepada suaminya.


"Daddy tidak yakin mom, kau tahu sendiri bukan kekuasaan tuan Arsen" kata Reno.


Listy membulatkan matanya ketika mendengar nama Arsen di sebut oleh ayah kekasihnya itu.


"Jadi Reva sama Rachel anak tuan Arsen? Pemilik Global Group?" tanya Listy terkejut.


Mereka kompak menganggukkan kepalanya termasuk Brian, juga mengiyakan pertanyaan kekasihnya itu.


Sedetik kemudian Listy ekspresi Listy berubah, dia memperlihatkan wajah liciknya sambil tersenyum smirk menatap keluarga Brian.


"Meskipun dia punya kekuasaan, tapi kita punya bukti rekaman CCTV yang ada di restoran tersebut, membuat mereka tidak bisa mengelak lagi" ucap Listy.


Dia yakin kalau dirinya pasti akan menang, bagaimana pun juga mereka punya bukti dan banyak saksi di lokasi kejadian.


"Bagaimana Dad?, yang di ucapkan Listy ada benarnya juga sih, dengan begitu kita bisa menekan perusahaan Global Group. karena tuan Arsen pasti akan melakukan apapun, agar putrinya tidak di penjara" sahut Brian meminta pendapat kepada ayahnya.


Reno berpikir sambil jarinya mengetuk ngetuk dagunya.


"Baiklah, Daddy akan ikuti saran kalian" kata Reno.


Meskipun Reno tak yakin bakal menang melawan Arsen, setidaknya kini dia di posisi yang benar, jika pun putri Arsen bebas tebtu akan membuat reputasi Arsen berubah buruk di mata masyarakat akibat kasus tersebut pikir Reno.


"Kapan kalian akan melapor ke kantor polisi" tanya Reno.


"Besok pagi Dad, malam ini Brian ingin istirahat dulu, kepala Brian masih terasa sakit" sahut Brian.


"Yasudah sana ke kamarmu, dan iatirahatlah" titah Reno.


"Dan kamu Listy, sana temani kekasihmu itu, supaya cepat sembuh" kata Reno kepada Listy.


"Baik om" sahut Listy dengan gaya genitnya.


Lalu Listy dan Brian naik ke lantai dua menuju ke kamar Brian.


Seolah orang tua Brian tak takut kalau anaknya itu melakukan hal yang di larang agama, karena mereka mendukung hubungan Brian dan Listy.


...****************...


Sedangkan malam hari, di sebuah ruangan yang ada di salah satu rumah sakit. Reynand malam ini meminta ijin sama Arsen dan juga Erik untuk menjaga Reva.


"Rey kamu di sini? kemana papi Erik?" tanya Reva ketika melihat Reynand masuk ke ruangannya.


"Papi Erik pulang, sekarang giliran aku yang menjagamu" jawab Reynand sambil tersenyum manis.


"Terima kasih" ucap Reva.


"Apa kamu sudah makan malam hmm?" tanya Reynand penuh perhatian.


"Aku tak suka makananya, rasanya tidak enak" jawab Reva sambil memanyunkan bibirnya.


"Tidak mau" Tolak Reva sambil melengoskan wajahnya.


Reynand terkekeh melihat tingkah kekanakan sahabatnya itu, Revanya yang dulu sudah kembali ceria, tida seperti tadi siang yang masih murung.


"Mamanya Snow ngga usah ngeyel, makan atau aku akan meninggalkanmu, biarin saja kamu di sini di temani hantu rumah sakit" ucap Reynand menakut nakuti Reva.


Reynand tahu kelemahan Reva, meskipun sahabatnya itu terkenal pemberani, bukan berarti Reva tak takut sama apapun, Reva tak takut dengan harimau tapi sahabatnya itu justru takut dengan hal-hal yang berbau mistis.


"Jangan, kalau kau pergi, aku akan membencimu seumur hidupku," ancam Reva.


Reynand tersenyum mengejek Reva.


"Ck, sudah besar tapi masih saja takut dengan hantu" ledek Reynand.


Reva mengerucutkan bibirnya, lalu mencoba bangun untuk duduk.


"Sssttthhhh" desis Reva, dia merasa nyeri di bagian kepala serta kakinya.


"Mau ngapain" tanya Reynand.


"Mau duduk, katanya tadi di suruh makan" ketus Reva.


"Berbaring saja biar aku yang suapi, kepalamu masih sakit jadi jangan banyak tingkah" omel Reynand sambil mengambil gelas minum untuk Reva


"Minum dulu" pinta Reyannad.


Reva pun patuh, ia minum dengan menggunakan sedotan.


Usai minum lalu Reynand mengambil makanan yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit yang di letakkan di atas nakas.


"Aaaaaaa... " pinta Reynand


Reva membuka mulutnya, lalu Reynand memasukkan makanan kedalam mulut Reva.


Sejak kecil tumbuh bersama tentu tak membuat keduanya canggung.


Reynand dengan telaten menyuapi Reva, hingga lima suapan Reva meminta berhenti.


"Sudah, aku kenyang" ucap Reva.


Reynand tak memaksanya untuk menghabiskan makanannya, yang terpenting sudah ada makanan yang masuk kedalam perutnya.


Lalu Rey mengusap sisa makanan yang ada di bibir Reva dengan menggunakan tissu.


Reynand sengaja tak bertanya tentang Brian kepada Reva, ia takut Reva akan kepikiran dan membuat kesehatannya drop.


"Mau makan buah tidak?" tawar Reynand.


"Mau jeruk saja" sahut Reva.


"Baiklah tuan putri" ucap Reynand.


Reynan pun mengupas kulit jeruk terlebih dahulu, setelah itu kembali menyuapi Reva.


Mereka berdua malah seperti orang pacaran, terlihat Reynand yang begitu perhatian kepada Reva.


"Kenapa papi tidak kembali kesini lagi" tanya Reva ketika sudah cukup lama Erik tak kunjung kembali ke ruangannya.


"Uncle Erik tak akan kembali kesini lagi, karena aku sudah mengusirnya" sahut Reynand sekenanya.


Reva merotasi bola matanya malas.


Bersambung


Jangan lupa


Like


Koment


Vote


Gift


Banyakin koment guys😕


Happy reading semuanya🙏