Baby Girl

Baby Girl
BAB 116



Waktu berjalan begitu cepat, hari ini kebetulan hari terakhir Alisya dan Arsen liburan di Bali.


Sebelum pulang ke ibu kota, Alisya menyempatkan diri untuk pergi berbelanja oleh-oleh khas Bali. Arsen hanya menurutinya saja, selagi ibu hamil itu senang maka Arsen membiarkannya saja, mungkin karena sudah lama dia tidak pernah mengajak istrinya liburan, jadi ya begini...istrinya kalap, dia banyak membeli apa saja yang dia mau.


Pukul jam 3 sore Arsen membawa istrinya terbang kembali ke ibu kota. Melewati perjalanan yang lumayan panjang akhirnya mereka berdua tiba di bandara Soekarno Hatta.


Arsen langsung di jemput di Bandara oleh Asisten setianya yaitu Nino.


"Bagaimana dengan kantor selama saya tidak ada No?" tanya Arsen setelah berada di dalam mobil.


"Aman tuan, tidak ada kendala sama sekali" jawab Nino sambil fokus menyetir.


"Bagus kalau begitu, kamu memang bisa saya andalkan" ucap Arsen bangga.


Dia memang tidak salah memilih Asisten, Nino orang yang setia, jujur dan selalu bisa ia andalkan setiap waktu.


Tak terasa mobil yang ia tumpangi sudah tiba di mansion Arsen. Nino turun dari mobil dan membantu mengeluarkan semua barang milik bosnya itu dari dalam bagasi. Lalu membawanya masuk ke dalam rumah.


"Om Nino, mama sama papa Leva mana" tanya Reva setelah melihat Nino yang membawa masuk barang bawaan orang tuanya.


"Papa sama mama nona masih di luar Nona" jawab Nino, Reva mengangguk tanda mengerti.


Sedangkan di mobil Arsen sedang berusaha membangunkan istrinya yang sedang tertidur.


"Baby bangun, kita sudah sampai" panggil Aren seraya menepuk nepuk pipi istrinya pelan.


"Kita dimana honey" tanya Alisya setelah membuka matanya.


"Ayo turun, kita sudah ada di rumah baby" ajak Arsen.


Arsen keluar lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk istrinya, Arsen membantu istrinya keluar dari mobil.


Setelah itu Arsen merangkul pinggang istrinya sambil berjalan memasuki rumah. Dan ternyata putrinya sudah lebih dulu smapai di rumah


"Papa..." pekik Reva sambil berlari mendekati papanya.


Arsen berjongkok sambil merentangkan kedua tangannya, Reva langsung masuk kedalam dekapan papanya.


"Haisss...papa kangen sekali sama kamu sayang" ucap Arsen sambil memeluk erat tubuh putrinya dan menciumi puncak kepala Reva.


Alisya kesal, putrinya malah lebih dulu menyapa papanya ketimbang dirinya yang melahirkannya, karena merasa di abaikan oleh mereka bedua pun memilih masuk ke dalam terlebih dahulu.


"Reva juga kangen sama papa" sahut Reva sambil menepuk-nepuk bahu papanya.


Arsen menggendong putrinya lalu membawanya masuk kedalam menemui mamanya yang sedang berkumpul di ruang keluarga termasuk Reynand juga ada di situ.


Arsen melihat keberadaan Rey yang sedang duduk di samping Daddy nya, Arsen menatap tajam penuh permusuhan kepada pria kecil itu.


"Apa liat-liat Ley, mau di colok matanya" ketus Rey membalaa tatapan tajam Arsen.


"Jangan begitu sayang, kamu harus sopan sama om Arsen" tegur Renata. Reyanand mencebik.


"Hai bocah tengik, aku tidak akan mengijinkan Reva main sama kamu lagi. Awas saja kamu kalau berani cium-cium putri om lagi" ancam Arsen.


"Silahkan saja kalau bisa, olang Leva yang seling ke lumahna Ley kok, wleee" tantang Reynand mengejek Arsen.


Arsen mendengus kesal, "Nanti om tidak ijinkan Reva main ke tempat mu lagi" ucap Arsen.


"Kenapa tidak boleh papa, Leva nda like ah sama papa" protes Reva sambil bersedekap dada di pangkuan Arsen.


Reynand tersenyum mengejek sambil melihat Arsen. Rey seolah ingin mengatakan "kalau dirinya lah yang menang".


*


*


"Tumben, kamu datang, Ada apa Vi?" tanya Alisya.


"Maaf sebelumnya, jika permintaanku terlalu lancang. Tujuanku kesini, aku ingin meminta ijin sama kamu untuk membawa Reva menjenguk Erik" ucap Viona hati-hati.


Alisya memicingkan matanya. "Apa kau yakin? Bukankah selama ini Erik tak mau mengakui putrinya Vi?" tanya Alisya ragu.


"Dia sudah berubah Al, dia hanya ingin bertemu dengan Reva, dia janji tidak akan mengambil Reva darimu, itu saja" terang Viona.


Alisya diam sejenak, dia harus memikirkan matang-matang, dia tidak mau kalau nanti Erik menyakiti putrinya.


"Jangan takut Al, ada aku yang akan menjaganya" ucap Viona yang tahu dengan ketakutan Alisya.


"Baiklah, tapi jangan paksa Reva untuk mengetahui ayah kandungnya, dia masih terlalu kecil untuk memahami situasi ini" pinta Alisya menghela nafas panjang.


"Aku tidak akan memberitahunya, biar ini semua menjadi tugas mu nanti untuk menjelaskan kepada putrimu." ucap Viona.


Viona merasa ini bukan kapasitas dirinya untuk memberitahukan tentang Erik kepada Reva, dia akan menyerahkan semuanya kepada Alisya, dia hanya ingin membantu Erik untuk bertemu dengan putri kandungnya, itu saja tidak lebih.


"Jika kamu mau, kamu bisa menjemputnya langsung ke sekolahnya nanti." ujar Alisya.


"Terima kasih sudah mau mengijinkan ku untuk membawa putrimu Al" ucap Viona senang.


"Tak perlu sungkan, cepat atau lambat Reva juga harus tahu siapa ayah kandungnya" ucap Alisya. Viona mengangguk setuju.


Sebenarnya tidak perlu juga Reva tahu siapa ayah kandungnya, soalnya nanti kalau dia menikah juga tidak membutuhkan ayah nya menjadi wali.


Namun Alisya memilih suatu saat akan menceritakan sosok ayah kandungnya, karena untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan, contohnya kisah cinta terlarang mungkin.


Setelah pulang dari rumah Alisya, Viona langsung ke sekolah Reva guna menjemputnya.


Viona melihat Reva keluar kelas bersama Reynand. Viona berjalan menghampiri mereka.


"Mami viona kenapa di sini" tanya Reva yang melihat Viona datang menghampirinya.


"Mami Viona ingin menjemputmu sayang, tadi mami sudah ijin sama mama Alisya dan katanya boleh" terang Viona.


"Onty jangan bohong, nanti kalau bohong dosa" sahut Reynand. karena dia selalu di wanti-wanti sama oma serta mommy nya untuk selalu menjaga Reva.


"Onty tidak bohong sayang, kalian bisa tanyakan langsung sama om itu" ucap Viona sambil menunjuk ke arah Max yang tak jauh darinya.


Kaki kecil mereka melangkah mendekati Max, Reynand harus benar-benar waspada. Supaya tidak lagi kejadian seperti. Waktu itu bertemu dengan Siska.


"Om, apa benal onty ini di suluh onty Alisya untuk menjemput Reva?" tanya Reynand sambil menggandeng tangan Reva.


"Benar tuan kecil, tadi nyonya Alisya sudah menghubungi om Max, om kesini hanya untuk menjemput tuan Rey saja" jawab Max.


"Tidak, Rey harus ikut Reva pergi sama tante itu, Om Max nanti bilang sama mommy, kalau Rey pergi sama Reva." tolak Rey, dia harus menjaga Reva.


"Astaga, bocah kecil itu sebegitunya banget menjaga Reva" batin Viona.


Bersambung


Jangan lupa


Like


Koment


Vote


Gift


Happy reading guys🙏