Baby Girl

Baby Girl
BAB 82



Sedangkan di sebuah hotel mewah sedang berlangsung acara pernikahan yang di gelar begitu mewah dan berkelas dengan dekorasi yang begitu megah.


Banyak awak media yang hadir untuk meliput acara pernikahan antar dua keluarga konglomerat tersebut.


Terlihat Erik dan Viona berdiri dia atas panggung menyambut tamu yang hadir.


Sebuah senyum terlihat menghiasi bibir Viona, dia terlihat begitu bahagia bisa menikah dengan Erik, namun berbeda dengan Erik yang terlihat dingin dan datar.


"Sayang..aku sangat bahagia, moment yang aku tunggu selama ini akhirnya terjadi juga, aku harap kamu juga merasakan hal yang sama seperti apa yang aku rasakan terlebih sebentar lagi kita akan mempunyai baby" bisik Viona sambil mengelus perutnya yang masih terlihat rata.


Erik hanya bergumam membalas ucapan Viona di telinganya.


Di tengah-tengah berlangsungnya acara terdengar riuh awak media yang tengah membicarakan sosok sepasang suami istri yang terlihat begitu cantik dan juga suaminya yang terlihat tampan memasuki ballroom dengan sang pria yang merangkul pinggang wanitanya posesif.


Banyak tamu yang hadir saling berbisik penasaran dengan sosok mereka berdua.


Tapi beberapa para pemegang saham di perusahaan Dinata yang ikut hadir di situ tentu mengenali siapa Alisya dan juga sahabat Erik yang juga mengenalinya.


"Itu Alisya, dia datang bersama siapa? Sepertinya aku tak pernah melihatnya" tanya Siska


"Apa mungkin itu suaminya" sahut Aldrik.


"Bisa jadi dad, tapi selama ini aku tak pernah melihat sosok suaminya di dunia bisnis, apa mungkin suaminya itu dari kalangan biasa, bukan seorang pembisnis seperti kita" ucap David menganalisa.


Bisik-bisik awak media dan juga tamu undangan yang lain sampai ke telingan Erik dan juga Viona. Mereka melihat ke arah pintu masuk ballroom guna mengetahui siapa yang sebenarnya sedang di bicarakan oleh para tamu undangan.


Deg


"Alisya"


Erik terlihat terkejut, melihat perempuan yang dulu ia hancurkan kini menjelma menjadi wanita cantik dan jauh lebih berkelas dari pada dulu, dengan balutan dress warna abu dan riasan tipis yang menghias wajahnya, bibir tipis, bulu mata lentik dan badan yang terlihat lebih berisi semakin membuat Alisya terlihat cantik di matanya.


Erik tak menyangka kalau dulu Alisya bagaikan upik abu di matanya, kini justru berubah layaknya seorang princess dari keluarga bangsawan. Erik bertanya-tanya dalam hati dari mana Alisya bisa berubah sedrastis itu.


"Apa itu suaminya" batin Erik.


Dia melihat Arsen yang merangkul pinggang Alisya dengan begitu posesif, bisa di tebak kalau tak mungkin dia temannya. Erik yakin kalau itu suami baru Alisya, seperti yang di katakan oleh Rani adik nya.


"Sepertinya wajah wanita itu tak asing di mataku" ucap Viona.


Membuat Erik menoleh dan berkata. "Tentu saja, apa kau tak mengenalinya kalau itu Alisya yang dulu sering kau bully" ejek Erik.


Viona menoleh melihat Erik. "Cih, sepertinya kau sedang membicarakan dirimu sendiri Rik, bahkan ngobrol pun tak pernah....bagaimana mungkin aku membully nya" sindir Viona.


Dia memang merasa tak pernah membully Alisya, yang membuli itu dulu Irene karena dia mengira kalau Andra menyukai Alisya.


Erik melengoskan wajahnya, dia malu dengan sindiran Viona.


"Apa kau mengundangnya?, sepertinya aku tak mengundang dia" tanya Viona.


"Tidak" jawab Erik singkat


Alisya berjalan memasuki ballroom dengan suaminya yang begitu setia mendampinginya.


"Tegakkan wajahmu baby, jangan sampai kamu menunduk di depan mereka" bisik Arsen sambil mengecup pelipis Alisya. Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka berdua, apa lagi kauh hawa yang tak berkedio melihat wajah tampan Arsen.


Alisya berjalan dengan menegakkan wajahnya angkuh sambil merangkul lengan suaminya menuju ke atas panggung untuk memberikan selamat kepada Erik dan juga Viona.


"Selamat atas pernikahanmu" ucap Alisya tulus sambil mengulurkan tangannya ingin menjabat tangan Erik.


Erik selalu menatap Alisya dari kejauhan hingga kini berada di hadapannya.


Dengan senang hati Erik menerima uluran tangan Alisya.


Deg.


Erik merasakan ada aliran aneh yang mengalir di dalam aliran darahnya.


Alisya segera melepaskan jabatan tangannya, Erik merasa tak rela ketika Alisya melepaskan tangannya.


"Terima kasih, dulu kau sudah membuang Alisya, dengan begitu aku tak perlu susah-susah untuk merebutnya darimu." bisik Arsen sambil menjabat tangan Erik.


"Kalau begitu aku yang akan merebutnya darimu" lirih Erik tak terima.


"Jangan bermimpi, lebih baik kamu urusin istrimu yang sedang hamil itu" ejek Erik dengan memperlihatkan senyum sinisnya kepada Erik.


Erik mengepalkan tangannya mendengar ejekan dari Arsen "Bagimana dia bisa tahu kalau Viona sedang mengandung anakku, sebenarnya siapa suami Alisya" batin Erik.


Alisya memberikan selamat kepada Viona.


"Selamat atas pernikahanmu dengan Erik" ucap Alisya tersenyum tulus sambil mengulurkan tangannya.


"Terima kasih, kamu Alisya bukan? Kenapa kamu bisa datang kemari? Tanya Viona sambil menerima uluran tangan Alisya


"Aku hanya menemani suamiku" jawab Alisya.


Viona mengangguk mengerti.


"Senang berkenalan denganmu" ucap Viona ramah di balas senyuman oleh Alisya.


Alisya dan Arsen turun dari atas panggung, dia mencari tempat duduk yang kosong untuk menikmati hidangan di acara tersebut. Karena Arsen sudah tidak sabar ingin menikmati kue-kue yang sudah sejak tadi menggodanya.


"Baby, kamu tunggu di sini ya, aku akan mengambil makanan dan juga minuman terlebih dahulu" ucap Arsen.


"Iya honey" jawab Alisya.


Tak lama setelah kepergian Arsen, Siska menghampiri Alisya yang sedang sibuk memainkan ponselnya sendirian.


"Hai Al, perkenalkan aku Siska ibunya Erik, kenapa sendirian? Mana Reva cucuku Al" sapa Siska sok akrab.


Alisya hanya menoleh lalu menaikkan bahunya acuh.


"Mana suamimu yang kampungan itu? Kenapa dia tega meninggalkan istrinya duduk sendirian" ucap Siska lagi


Menurut Alisya tak begitu penting meladeni manusia penjilat seperti Siska.


"Baby, maaf aku terlalu lama meninggalkanmu" ucap Arsen sambil membawa aneka kue dan minuman untuk Alisya.


"Tak apa honey" sahut Alisya sambil mengelus rahang tegas suaminya. Arsen menggenggam tangan istrinya lalu menciumnya.


Dari kejauhan ada yang panas melihat keromantisan Alisya dan juga Arsen.


"Cih, kelihatan sekali kalau dia tak pernah makan enak" cemoh Siska yang melihat Arsen mengambil kue yang lumayan banyak.


Bukan tak pernah makan nenek lampir, tapi Arsen sedang terkena Sindrom Couved atau kehamilan simpatik yang terjadi pada pasangan pria dari wanita hamil yang mengalami gejala saat hamil.


"Pergilah, jangan sampai membuat suamiku marah atau kamu akan menyesalinya" usir Alisya.


"Aku menemuimu karena aku ingin bertemu dengan cucuku Al" kekeuh Siska.


Alisya merotasi bola matanya malas. Sedangkan Arsen lebih memilih menikmati kue yang tadi sudah ia ambil.


**Bersambung


Jangan lupa


Like


Koment


Vote


Follow


Happy reading guys🙏**