Baby Girl

Baby Girl
BAB 72



Tiga hari berlalu. Malam hari tiba-tiba Arsen menginginkan sesuatu, dia melihat putrinya sedang menonton tv sambil meminum susu sendirian, sedangkan Alisya sedang di kamar sambil menonton video di ponsel.


Arsen menghampiri putrinya yang sedang serius menonton film kesukaannya.


"Sayang, ikut papa yuk" ajak Arsen.


"kemana pa" tanya Reva.


"Jalan-jalan naik motor" jawab Arsen.


"Memangna papa bisa naik motol" tanya Reva ragu.


"Bisa ayok, sana ke kamar ambil jaket dulu...minta sama mama, papa tunggu di bawah" titah Arsen.


Reva mencari mamanya yang ada di kamarnya.


"Mama jaket Leva mana" pinta Reva ketika sudah berada di kamar Alisya.


"Mau buat apa sayang" tanya Alisya sambil menaruh ponselnya di atas nakas.


"Mau naik motol sama papa" jawab Reva. Alisya mencebik kesal pasalnya suaminya tidak mengajak dirinya juga.


Alisya mengambil jaket Reva sekalian dengan jaketnya, ia akan memaksa suaminya untuk ikut.


Alisya memakaikan jaket ke tubuh kecil Reva, setelah itu mengajak putrinya ke bawah menemui Arsen.


"Ayo pa, Leva sudah pakai jaket ini" ajak Reva sambil berlari mendekati papanya.


"Mama ikut" pekik Alisya.


"Mama di lumah saja, kan papa cuma ajak Leva...mama nda di ajak" tolak Reva. Membuat Alisya manyun.


Karena kalau pergi sama Alisya biasanya akan banyak larangan, tidak boleh beli ini dan itu. Beda kalau pergi sama papanya....Arsen akan membebaskan putrinya itu membeli apapun yang dia inginkan.


(Bapak-bapak memang beda guys, kalau punya uang bawaanya ingin beliin anaknya banyak mainan, beda kalau emak-emak pasti akan ngreog kalau anaknya beli mainan mulu)😂


"Tidak, mama harus ikut" kekeuh Alisya.


Arsen menghela nafas. "Yasudah, jangan berdebat lagi..pakai jaketmu baby" titah Arsen.


Alisya memakai jaketnya lalu berjalan mengikuti Arsen yang tengah menggendong putrinya.


Arsen menyalakan motornya, lalu menstaternya.


Brummm


Brummm


Brumm



Alisya dan Reva melongo melihat Arsen naik moge, Arsen nampak cool dan keren.


"Ayo naik" ucap Arsen menyadarkan mereka berdua.


"Wowww....papa Leva kelen sekali" Reva sambil memegangi kedua pipinya.


"Papa Leva nih bos, senggol dong...hihihi" ucap Reva cekikikan. Arsen terkekeh melihat tingkah putrinya, beda dengan Alisya yang justru kesal, karena putrinya kebanyakan meniru yang ia tonton di tok-tok


Alisya membantu Reva naik ke atas motor dengan wajah yang cemberut, ia tak rela nanti suaminya menjadi pusat perhatian kaum hawa.


Arsen membantu Alisya memakai helmnya.


"Honey...ngga usah pergi ya" cicit Alisya.


"Kenapa baby" tanya Arsen seraya merapihkan poni Alisya kemudian menarik resleting jaket Alisya hingga batas leher.


"Kamu terlalu keren, nanti banyak wanita di luar sana memandangimu, aku tak rela kalau suamiku di pandangi oleh wanita lain. Hanya aku saja yang boleh melihatmu" sifat posesif Alisya keluar.


Arsen dan Alisya tak beda jauh mereka sama-sama posesif terhadap pasanganya masing-masing. Arsen tersenyum senang di balik helm full face nya, Arsen senang melihat Alisya yang posesif, berarti istrinya itu sangat mencintainya yang penting posesifnya tidak berlebihan, masih dalam batas wajar.


"Jangan takut baby, tidak akan ada yang melihat wajah tampan suamimu ini, lihatlah aku sudah memakai helm full face" ucap arsen mengusap pipi istrinya. Alisya mengangguk lalu naik ke atas motor.


Arsen menarik gas motornya, motorpun berjalan mengelilingi kota metropolitan yang terlihat indah dengan lampu yang mengala di sepanjang jalan.


Arsen membawa mereka ke sebuah taman yang banyak pedagang kaki lima menjajakan jualannya.


Arsen berhenti di dekat salah satu gerobak penjual martabak.


"Baby tolong belikan aku martabak keju" pinta Arsen yang malas turun dari motornya karena terlihat banyak wanita yang mengantri.


"Iya honey, Reva di sini ya sama papa" ucap Alisya seraya turun dari motor secara perlahan.


Arsen membiarkan Alisya mengantri di penjual martabak.


"Girl papa ingij membeli cilok, kamu mau ngga" tawar Arsen. Arsen tak tahu tiba-tiba dirinya ingin jajan di abang-abang pinghir jalan.


"Mau papa" jawab Reva.


Arsen pun membeli 5 kantong Cilok untuk dirinya dan juga Reva, setelah itu Arsen membeli tahu gejrot, seblak dan beberapa jajanan yang lain.


Alisya yang sudah selesai pun langsung menghampiri suaminya, dia tercengang melihat kantong plastik yang penuh dnegan aneka jajanan.


"Baby sudah belum" tanya Arsen yang sudah tidak sabar ingin pulang untuk memakan semua jajanan yang sudah ia beli.


"Sudah honey" jawab Alisya yang masih menatap kantong kresek warna hitam yang berada di tangan suaminya.


"Kalau begitu cepat naik honey, kita langsung pulang saja ya" pinta Arsen.


"Iya honey" Alisya naik ke atas motor.


Arsen menjalankan motor nya pulang dengan kecepatan sedang.


Tiba di rumah Arsen langsung membawa semua makanan yang sudah dia beli ke meja makan.


Belinda penasaran apa yang sedang di bawa putranya itu, dia mengikuti Arsen meja makan.


Arsen langsung memakan ciloknya bersama Reva.


"Honey, kamu yakin makan makanan seperti itu" tanya Alisya, dia tahu kalau Arsen tak pernah mau makan di pinggir jalan, alasannya tidak higienis.


"Ini enak baby" ucap Arsen dengan mulut yang masih mengunyah cilok.


Belinda ngeri melihat cara makan Arsen yang sangat lahap bahkan terkesan rakus.


"Oma mau nda, ini enak oma" tawar Reva kepada Belinda.


"Tidak sayang, Reva makan saja ya" tolak Belinda, dia langsung kenyang melihat Arsen yang makan seperti kesetanan.


Belinda dan Alisya bergidik ngeri melihat Arsen yang sudah menghabiskan 4bungkus cilok, tetelah itu arsen beralih ke makanan yang lain.


Hingga semuanya habis cuma sisa martabak yang tinggal dikit, Arsen duduk bersandar di sandaran kursi karena kekenyangan.


"Papa lakus oma, liat semua makanannya habis di makan papa semua" kesal karena semua makanna yang tadi di beli di habisi Arsen semua, dia hanya memakan cilok saja.


Belinda dan Alisya hanya menggeleng tak percaya.


"Bund, kenapa suami Alisya menjadi begini" tanya Alisya.


"Bunda juga tidak tahu nak, kenapa anak mama jadi seperti ini, padahal dia paling anti makan makanan di pinggir jalan" jawab Belinda.


"Apa jangan-jangan dia kerasukan ya Bund" terka Alisya bergidik ngeri yang dapat pukulan dari Belinda di lengannya.


"Sembarangan saja kamu, jaman sekarang mana ada setan-setan begitu" kesal Belinda.


"Ya Alisya kan ngga tahu bund, Alisya hanya takut saja kenapa suami Alisya jadi begini" sahut Alisya.


Belinda yang penasaran pun langsung bertanya kepada putranya.


"Ar kamu tumben makan makanan pinggir jalan" tanya Belinda.


"Tidak tahu bun, Arsen tiba-tiba ingin makan ini semua" jawab Arsen santai.


Bersambung


Maaf othor baru bisa up, siang othornya sibuk guys


Happy reading semua🙏