
Nino dan Dewi menikmati makan malamnya, tak ada yang bersuara sama sekali, mereka berdua fokus dengan makanan nya masing-masing.
Hingga beberapa menit akhirnya mereka menyelesaikan makan malam nya.
Dewi meneguk jus jeruk yang ada di hadapannya hingga tandas.
lalu dia bangkit dari tempat duduknya,berjalan dan berdiri di depan jendela kamar hotel sambil menatap keluar.
Nino menghampiri istrinya lalu memeluk erat tubuh istrinya dari belakang.
"Apa kamu bahagia hmm" tanya Nino sambil meletakkan dagunya di bahu istrinya.
"Ya, tentu aku bahagia bisa menikah dengan dengan pria sebaik kamu, bukankah aku sangat beruntung, honey" sahut Dewi sambil mengusap punggung tangan suaminya yang ada di perutnya.
Nino tersenyum lalu mengecup pipi istrinya, mereka masih berdiri sambil melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
Selang beberapa menit, tubuh Dewi merasa gelisah dalam pelukan Nino.
"Kamu kenapa sayang" tanya Nino yang merasakan pergerakan istrinya.
"Panas sayang, tolong Ac nya turunin, biar dingin" pinta Dewi sambil melepaskan tangan suaminya yang sedang memeluk tubuhnya. lalu berbalik menghadap ke arah suaminya.
"Hah? ini udah dingin sayang, bagaimana bisa kamu merasa gerah, apa lagi kamu baru selesai mandi" sahut Nino bingung.
"Tapi ini gerah sayang, tubuhku rasanya panas" rengek Dewi yang sudah membuka sedikit bathrobe nya, kebetulan dia belum memakai bajunya, karena perutnya sudah terasa lapar, akhirnya dia memutuskan makan malam terlebih dahulu.
Nino meneguk ludahnya melihat gundukan istrinya yang menyembul dari balik handuknya, di balik bathrobe itu tubuh istrinya masih polos tanpa memakai apapun.
Dewi semakin gelisah tak karuan bahkan ia sudah melepaskan tali bathrobenya. Hingga terpampang begitu jelas tubuh polos istrinya.
Gluk
Nino menelan salivanya, matanya tak berkedip melihat pemandangan yang begitu indah di hadapannya.
Dewi meyibak rambutnya lalu mengipasi tubuhnya menggunakan tangannya.
Nino sebagai lelaki normal, hasrat nya mulai terpancing melihat tubuh istrinya yang terlihat seksi di matanya.
Nino akhirnya tersadar, dia merasa ada yang tidak beres ketika melihat reaksi aneh dari tubuh istrinya.
"Shitt, sepertinya ada yang memasukkan obat perangsang kedalam gelasnya" umpat Nino dalam hati.
Bertahun-tahun berkecimpung di dunia bisnis, dan bekerja sama dengan Max. tentu Nino tahu efek dari mengonsumsi obat perangsang, terkadang banyak rekan bisnisnya bermain curang untuk menjatuhkan lawan bisnisnya.
"Sayang, hiks..hiks, panas." rengek Dewi dengan wajah sayu .
"Kenapa hmm" goda Nino sambil merengkuh pinggang ramping istrinya lalu meniup telinga istrinya.
Dewi merasakan gelanyar aneh dalam dirinya ketika merasakan hembusan nafas Nino yang menerpa telinganya.
Nino mendorong lembut tubuh istrinya hingga menempel di dinding.
Dewi melingkarkan kedua tangannya di leher kokoh Nino lalu men ci um bibir Nino dengan begitu rakus, Nino yang tak mau kalah akhirnya mengikuti permainan liar dari istrinya itu.
Malam ini Dewi benar-benar berubah menjadi wanita yang begitu agresif dan liar.
Entah Nino harus mengutuk orang yang memberikan obat perangsang ke minuman istrinya, atau justru berterima kasih kepada orang tersebut.
Bi bir mereka saling bertaut, ciuman yang tadinya lembut berubah menjadi panas, bahkan Dewi sudah menjulurkan lidahnya dan bermain di dalam mulut Nino.
Lidah mereka saling membelit satu sama lain, sedangkan tangan Nino sudah bertengger di gundukan kenyal mi lik istrinya yang sudah terbuka sempurna.
"Ahhhhh... " de sah Dewi di sela-sela ciumannya.
Nino semakin bersemangat ketika mendengar de sahan dari mulut istrinya itu.
Nino melepas bathrobe yang di pakai istrinya hingga jatuh ke lantai, setelah itu Nino mengangkat tubuh istrinya seperti koala dan membawanya ke ranjang dengan lidah yang masih bertaut.
Nino melepaskan tautan bi bir nya lalu merebahkan tubuh Dewi ke atas ranjang yang di penuhi dengan kelopak bunga mawar di atasnya.
Nino menatap sejenak wajah istrinya sayu istrinya.
"Sayang... "panggil Dewi dengan tatapan penuh harap, ia ingin suaminya itu melakukan lebih pada tubuhnya.
Nino melepas bajunya sendiri sampai ****** ********.
Kini terlihat lobak import mi lik Nino yang sudah berdiri tegak.
Giliran Dewi yang meneguk ludahnya melihat tubuh kekar suaminya, dan juga melihat mi lik suaminya yang begitu besar.
Nino merangkak lalu mengukung tubuh istrinya di bawah nya.
Nino mendekatkan wajahnya, hingga bi bir nya menemoel dengan bi bir istrinya, Nino me ***** bi bir manis istrinya yang mulai sekarang menjadi candunya.
Dewi reflek langsung melingkarkan tangannya ke leher suaminya.
"Akhhh... de sah Dewi.
Kini ci uman Nino beralih ke leher Dewi, ia menggigit leher jenjang istrinya. hingga meninggalkan jejak kemerahan di lehernya.
Nino men ci umi setiap inci tubuh istrinya hingga ke gundukan istrinya.
Dia langsung memasukkan gundukan itu ke dalam mulutnya, sedangakn tangan satunya sibuk me re mas gundukan istrinya yang satunya.
Tubuh Dewi melengkung ke atas, dia begitu menikmati permainan suaminya, Dewi tak pernah merasakan seperti ini sebelumnya.
Tangan Nino meraba setiap jengkal tubuh istrinya, kini tangan Nino merabambat ke bawah ek bagian inti mi lik istrinya.
Nino mengusap mi lik istrinya yang sudah ba sah. Nino menyeringai puas.
"Kau sudah ba sah sayang" ucap Nino yang sudah melepaskan mulutnya dari Gundukan istrinya.
"Lakukanlah sayang" sahut Dewi tak sabaran akibat efek obat tersebut.
"Tahan sebentar, ini akan terasa sakit...taoi hanya di awal saja" ucap Nino sambil menatap mata istrinya yang sudah di selimuti oleh kabut ga irah.
Dewi mengangguk mengiyakan.
Nino memegang lobak importnya lalu mengarahkan ke lubang kecil mi lik istrinya.
Nino menekan mi liknya memasuki li yang istrinya, namun dia merasa kesulitan.
"Sakit sayang" ringis Dewi.
"Tahan sayang" sahut Nino.
Nino menekan miliknya, hingga sekali hentakan ia berhasil membobol gawang mi lik istrinya.
Blessss
"Aaaaa.... sakit" teriak Dewi.
Terlihat darah segar keluar dari li yang istrinya.
Nino merasa bangga, karena ternyaat dirinya lah orang pertama yang berhasil menyentuh istrinya.
Nino tak langsung bergerak, ia mendiamkan mi lik nya terlebih dahulu.
Nino men ci um bi bir istrinya, untuk mengalihkan rasa sakit yang di rasakan istrinya itu.
"Aku bergerak sayang" ucap Nino di sela-sela ci uman nya.
Dewi membalasnya dengan anggukan.
Nino mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan begitu lembut agar tak menyakiti istrinya.
"Akhhh" Dewi mulai men de sah.
Dewi sudah tidak merasa sakit lagi, bahkan ia juga ikut menggerakan pinggulnya sesuai dengan gerakan suaminya.
De sahan mereka saling bersahutan memenuhi kamar hotel mereka.
Nino mempercepat tempo permainannya.
"aku ingin pipis sayang" ucap Dewi sambil terus men de sah.
"Kita keluar sama-sama sayang" sahut Nino yang masih menghentak hentakan pinggulnya.
Nino semakin mempercepat hujamannya, hingga tak lama terdengar suara lenguhan dari mereka berdua.
Akhhhh.... jerit mereka berdua.
Nino mengeluarkan lavanya memenuhi rahim istrinya.
"Terima kasih sayang" ucap Nino sambil mengecup kening istrinya.
Lalu nino menggulingkan tubuhnya ke sebelah istrinya.
Mereka berdua terus mengulang permainan hingga efek obat perangsang itu hilang dari tubuh istrinya.
TAMAT
Season pertama tamat guys.🙏
**Othor mengucapkan Terima kasih pada para pembaca yang sudah mengikuti Novel othor yang unfaedah ini.
Season 2 akan othor up nanti malam guys🙏**