Baby Girl

Baby Girl
BAB 43



Sampai di rumah ternyata Arsen sudah pulang terlebih dahulu, Arsen mengeryit melihat Reva yang masih sesegukan berada di gendongan Belinda, sedangkan Reynand sudah di pulang ke rumahnya.


Arsen yang penasaran pun menghampirinya, soalnya gadis kecil itu jarang menangis kecuali kalau dia sedang sakit, pasti dia akan manja dan terus merengek.


Arsen mendekat ke bundanya lalu bertanya. "Reva kenapa Bund? Kenapa wajahnya sebab" tanya Arsen sambil mengelus wajah sembab Reva.


"Huaaa....Om Alsen tepala Leva satit, tadi di jambak mak lampil hiks...hiks, Leva mau cama mama om mama Leva mana hiks" raung Reva mencari Alisya, Arsen langsung mengambil alih Reva dari gendongan Belinda.


"Don't cry girl" ucap Arsen sambil menepuk-nepuk punggung ringkih Reva.


Arsen menatap mata Belinda seolah meminta penjelasan, Belinda menghela nafas dalam-dalam, pasalnya kalau di ceritakan pasti anak nya akan ngamuk. Belinda sangat tahu peringai Arsen.


"Bunda tadi berdebat sama Siska teman arisan sosialita bunda nak, tapi ternyata dia kenal sama Reva, setelah bunda tanya katanya dia kenal Reva pas sedang berkunjung ke restoran. Reva dan Reynand takut dengan nya karena bunda bilang dia kek mak lampir, mungkin dia tidak terima , ketika kita hampir sampai di pintu keluar tiba-tiba Siska lari dan menjambak rambut Reva, maaf bunda kecolongan boy" ucap Belinda dengan wajah penuh penyesalan.


Arsen yang mendengar sempat mengerutkan dahinya. Dia akan tanyakan lebih detail lagi nanti, Arsen mau menenangkan Reva terlebih dahulu.


"Leva mau mama om, Leva mau nyucul mama aja di cini ada mak lampil yang jahat cama Leva hiks hiks"Reva menangis histeris di gendongan Arsen


"Kita telpon mama ya" pinta Arsen. Reva pun mengangguk menyetujuinya.


Arsen membawa Reva ke kamar nya, karena ponsel Arsen tertinggal di kamar. Arsen memencet nomor ponsel Alisya melakukan panggilan video call.


Tutt


Tutt


Tutt


"Hallo baby, maaf malam-malam aku menghubungimu" ucap Arsen setelah panggilannya tersambung.


"Mama Leva tatut, mama tapan pulang hiks hiks" pekik Reva yang mendengar suara mamanya.


Alisya yang mendengar pekikan Reva pun bertanya sama Arsen. Alisya khawatir karena putrinya tak pernah menangis sehisteris itu.


"Reva kenapa Ar" tanya Alisya dengan wajah khawatir.


"Kamu bicara saja sama anak nya ya, aku gak tahu kejadiannya tadi dia di bawa bunda ke arisan, pulang-pulang nangis begini" jawab Arsen. Arsen juga ingin tahu sebenarnya siapa yang di temui Reva di restoran.


Arsen memberikan ponselnya ke Reva, sehingga wajah Reva memenuhi layar ponsel milik Arsen.


"Reva kenapa sayang" tanya Alisya.


"Leva hiks, tadi di jambak cama mak lampil ma, tepala Leva satit mama hiks" adunya sambil memperagakan pas Siska menjambak dirinya.


Alisya memejamkan sesaat menetralisir emosinya. Siapa yang sudah berani menjambak putrinya" batin Alisya.


"Mak lampir siapa sayang" tanya Alisya.


"Mak lampil mama, teman na oma mukana selem telus matana melotot bedini" jawab Reva sambil melototkan matanya menirukan Siska.


Alisya dan Arsen tak tahu harus sedih atau tertawa, soalnya wajah Reva terlihat begitu lucu dan menggemaskan.


"Haisss...Berani-beraninya mak lampir itu jambak anak mama. Jangan takut sayang nanti kalau mama ketemu mak lampirnya mama akan memukulnya biar tahu rasa, enak saja sudah berani pukul anak cantik nya mama" ucap Alisya menggebu-gebu menghibur putrinya.


"Iya mama nanti putul mak lampilna, kalena cudah nyatitin tepala nya Leva," sungut Reva yang sibuk menahan ingusnya supaya tidak keluar.


"Sekarang Reva tidur ya, jangan nangis terus nanti Reva sakit sayang" titah Alisya. Reva mengangguk patuh lalu memberikan ponselnya kepada Arsen.


"Sebentar jangan di matikan, aku akan membantu Reva membersihkan tubuhnya dulu" ucap Arsen. Alisya mengangguk karena dia juga masih penasaran sama mak lampir yang di maksud putrinya.


Arsen membawa Reva kekamar mandi, ia mencuci kaki, tangan, dan membantu menggosok gigi Reva. Setelah itu Arsen mengganti baju Reva yang ia ambil dari tas yang berisi keperluan Reva yang sudah di siapkan Alisya.


Setelah selesai semua, Arsen membawa Reva ke ranjang setelah itu menepuk-nepuk bokong Reva supaya cepat tidur.


Arsen mengambil ponselnya terus menjauh dari Reva supaya tidak menggnggu tidurnya.


"Hallo baby" sapa Arsen.


"Iya Ar, apa Reva sudah tidur" tanya Alisya.


"Baru saja dia terlelap baby" jawab Arsen sambil memandangi wajah Alisya yang memenuhi layar ponselnya.


"Maaf, sudah merepotkanmu" ucap Alisya yang merasa sudah terlalu merepotkan Arsen.


Arsen mengangguk lalu ia bertanya.


"Apa kau mengenal sosok wanita paruh baya bernama Siska baby" tanya Arsen. Karena Arsen tak tahu Siska mana yang di maksud bundanya.


"Hah, Siska siapa aku tak mengenalnya" jawab Alisya bingung.


"Kata bunda yang menjambak rambut Reva namanya Siska, dan dia pernah bertemu dengan Reva di restoran" jelas Arsen.


Deg


Jantung Alisya berdetak lebih kencang, Pikiran Alisya langsung melayang mengingat pertemuan putrinya dengan keluarga Dinata. putrinya tidak pernah mengobrol dengan pengunjung lain selain keluarga Dinata dan Arsen.


"Aku tak tahu Ar, tapi Reva pernah duduk bersama di tengah-tegah keluarga Dinata yang sedang berkunjung ke restoranku, tapi aku tak tahu yang kamu maksud dia apa bukan, karena aku sediri juga tidak tahu namanya" jawab Alisya.


Arsen mengetatkan rahangnya setelah mendengar penjelasan Alisya. Arsen sangat yakin kalau itu benar Siska yang ia maksud.


"Apa dia sudah mendapatkan rambut Reva, kalau iya aku harus menyelidikinya dan memperketat keamanan Reva" batin Arsen.


"Tenanglah, aku akan menyelidikinya" sahut Arsen.


"Baby apa aku bisa minta sesuatu dari mu" tanya Arsen.


"Apa itu Ar" tanya Alisya mengerutkan dahinya.


"Jadilah kuat demi Reva, kamu harus mampu melawan orang-orang yang akan menindasmu nanti, aku tak mau melihat wanitaku lemah dan mudah di tindas oleh orang lain. Jangan takut karena aku akan selalu di sampingmu dan akan selalu menjadi perisaimu juga Reva" ucap Arsen serius memperingati Alisya. Arsen yakin pasti Siskan sudah mendapatkan sample rambut Reva.


Alisya bingung dengan apa yang di ucapkan oleh Arsen, terdengar ambigu di telinga Alisya spertiny Arsen mengetahui sesuatu yang akan terjadi nantinya.


"Ada apa Ar? Kau seperti mengetahui sesuatu" tanya Alisya.


"Tidak ada apa-apa, hanya itu yang aku minta darimu baby" jawab Arsen.


Arsen tidak mau memberi tahu Alisya terlebih dahulu sebelum ia menyelidiki tentang Siska, Arsen juga tak mau Alisya kepikiran apa lagi Alisya sedang di luar kota.


**Bersambung


Maaf kalau banyak typo guys, othor ngetikny sambil menahan ngantuk dan nahan sakit gigi.😭


Happy reading All🙏


Jangan lupa


Like


Koment


Vote


Follow**