Baby Girl

Baby Girl
Part 18



"Kenapa kamu lama sekali, untung saja pak Melviano belum masuk, jika tidak habis kah kau," ucap Rista yang sudah risau menunggu kehadiran sahabat nya tersebut yang katanya mau ke toilet dan menghabiskan waktu yang cukup lama.


"Heheh maaf Ris, tadi rame banget tau toilet nya, syukurlah pak Melviano belum datang," Citra menghela nafas nya Karena tiba lebih dulu dari Melviano-.


Tak beberapa lama akhirnya dosen yang sedang mereka bicarakan akhirnya datang juga.


Pria itu terlihat membawa beberapa buku dan langsung meletakkan nya di meja dan menyiapkan laptop dan menyalakan infokus untuk memulai pembelajaran.


"Gadis yang paling di belakang, pindah kedepan dan isi kursi yang kosong," tegas Melviano menunjuk ke arah Rista dan juga Citra.


Kedua nya memang selalu memilih untuk duduk di belakang jika sudah pelajaran Melviano. Tumben sekali pria itu menyuruh mereka untuk pindah.


Dengan ogah-ogahan Rista pindah duduk didepan di ikuti oleh Citra yang mengambil kursi tepat di samping nya.


"Bagus, lain kali tempat duduk nya selalu seperti ini jika dikelas saya," ucap Melviano dengan seenak jidat nya.


"Menyebalkan," gumam Rista.


"Baiklah, kita mulai kelas nya," Melviano langsung to the point dan menjelaskan materi.


"Rista, kamu mengerti apa yang saya jelaskan?" tanya Melviano saat sudah selesai dengan sesi penjelasan materi nya.


Rista meringis pelan dalam hati nya, karena dia sebenernya tak mengerti apa yang baru saja dijelaskan oleh Melviano. Dia juga tak tau bagian mana yang harus ditanyakan oleh nya jika saja Melviano menyuruh nya untuk menjelaskan mana yang tidak dia mengerti.


"Nona Rista, anda mendengar saya?"


"Coba kamu maju ke depan dan kerjakan yang soalnya," ucap Melviano seraya memberikan spidol nya pada Rista.


Rista melotot kan mata nya, seperti nya pria itu sedang ingin membalas dendam kepada nya karena sudah meninggal kan pria itu begitu saja tadi di rumah.


"Saya gak ngerti pak," balas Rista dengan wajah yang memelas. ****, dia merasa malu sekarang.


"Coba kerjakan sebisa kamu, jika salah akan diperbaiki kembali," pinta Melviano kekeh.


Dengan berat hati akhirnya Rista menerima spidol di tangan Melviano dan mencoba mengerjakan versi terbaik yang dia bisa.


"Fighting bestie," bisik Citra memberikan semangat serta mengepalkan tangannya di atas angin.


Rista mulai mengerjakan meski tak yakin akan jawaban yang sudah dia tulis yang penting dia sudah berusaha sebisa yang dia bisa.


"Sudah pak," ucap Rista kembali ke tempat duduk nya.


"Hm, baik mari kita periksa bersama-sama," ucap Melviano melihat hasil perhitungan matematika yang di kerjakan oleh Rista.


"Yang ini masih salah, Rista kamu bisa perbaiki! ada mau maju untuk menjawab," ucap Melviano kemudian.


Tak ada yang mengangkat tangan membuat Melviano mengangguk mengerti, jika mahasiswa nya belum paham betul apa yang sudah dia jelaskan.


Melviano kembali menjelaskan ulang agar semua nya mengerti.


"Sampai di Sini pembelajaran hari ini, jika ada yang tidak mengerti dan ingin bertanya seputar materi yang belum di mengerti, bisa hubungi saya. Baiklah kelas saya tutup, terimakasih,"


Melviano mengakhiri kelas karena jam sudah berakhir.


"Huft, pusing banget sih, sakit pala kalo udah matematika." keluh Rista menelungkup kan wajah nya di atas meja.


Citra dan Rista memilih untuk berdiam sejenak di kelas. kini hanya tinggal ke duanya yang berada disana karena kebanyakan sudah langsung pulang.


"Ad ayang ketinggalan pak? tanya Citra memberanikan diri.


"Tidak, kau keluar lah sebentar," suruh Melviano pada citra.


"Tap--"


Belum sempat Citra berbicara dosen nya itu langsung menatap nya dengan tajam membuat nyali nya menjadi menciut.


Tanpa kata lagi Citra meninggalkan ruangan dan berharap Rista akan baik-baik saja di dalam sana.


Dalam hati dia bergumam maaf pada Rista, dia sebenarnya tak ingin meninggalkan Rista hanya saja tatapan Melviano yang begitu menusuk membuat nya takut.


Melviano mendekati Rista yang masih menelungkup kan kepalanya di atas meja. Apa gadis itu tertidur hingga tak menyadari kehadiran nya.


Lama, Melviano memperhatikan Rista hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk membangun kan gadis itu.


"Rista," gumam nya pelan seraya menguncang tubuh Gadis itu dengan pelan.


"Apa sih cit, bentar dulu," gumam Rista.


"Saya bukan citra," balas Melviano dengan suara maskulin nya.


"Hah," beo Rista saat mendengar suara lain dalam ruangan itu selain suara Citra.


Rista menodongkan kepala nya dan sedikit terkejut saat melihat tubuh kekar Melbiiyang kini berada di hadapannya.


Mata nya celingak-celinguk kesana kemari mencari Citra yang ternyata sudah tidak berada dalam kelas.


"Dia sudah keluar tadi," ucap Melviano dengan tenang .


"Ouh, yaudah kalo begitu saya juga mau pamit pulang deh pak," ucap Rista.


"Mengapa kamu menghindari saya Hem, tadi lagi juga kamu meninggal kan saya begitu aja," desis Melviano mendekatkan wajah nya pada Rista.


Rista menenguk ludah nya dengan kasar, karena posisi mereka sangat dekat, bahkan Rista dapat merasakan nafas Melviano menerpa wajah nya. Rista dengan reflek menjauhkan wajah nya.


Melviano tak membiarkan nya begitu saja, pria itu memegang dagu Rista dan mendekatkan wajah mereka kembali.


"Mengapa kau sangat cantik Rista,' ucap Melviano yang berhasil membuat pili Rista menjadi merah.


"Bapak ngomong apaan sih, bapak minggir bentar deh, nanti ada yang kuat takut nya menimbulkan fitnah, " ucap Rista yang merasa tidak nyaman.


"Tidak akan ada yang melihat, saya sudah menyuruh mereka untuk pulang,"


"Pak Melvin ada yang masih mau dibicarakan dengan saya, saya juga ingin segera pulang," ucap Rista mengalihkan pembicaraan.


"Kau sangat cantik,' ucap Melviano kembali.


"Gak jelas," keluh Rista yang malah menjadi kesal sekarang.


"Saya pulang dulu pak," Ucap Rista yang kini gak memperdulikan Melviano lagi.


TBC