
Hingga setibanya di rumah sakit, Erik keluar dari mobil dan langsung lari masuk kedalam rumah sakit.
Erik meninggalkan mobilnya begitu saja di lobby rumah sakit. Ia terus berlari menyusuri lorong rumah sakit menuju ke UGD.
Banyak penjaga dan suster rumah sakit yang menegur Erik, namun dia tak memperdulikan itu semua, yang ada di otaknya saat ini hanya putrinya saja.
Terlihat Revan dan Ravin yang sedang duduk di kursi tunggu pasien.
"Revan, Ravin" panggil Erik sambil berlari tergopoh gopoh.
Revan dan Ravin dengan kompak menoleh kasal suara, ia melihat Erik yang baru saja sampai dengan nafas yang masih naik turun.
"Uncle" lirih Ravin.
"Bagaimana keadaan kak Reva boy" tanya Erik dengan nada bergetar.
Revan dan Ravin kompak menggelengkan kepalanya.
Pasalnya mereka juga belum tahu keadaan kakaknya, dari tadi dokter yang menangani Kakaknya belum juga keluar dari ruangan tersebut.
"Sayang" panggil Viona yang baru saja datang bersama Ethan.
Erik menoleh lalu berjalan mendekati istrinya.
Di tariknya tubuh Viona dan membawanya ke dalam pelukannya. Viona membalas perlukan suaminya, ia mengusap punggung suaminya yang bergetar, terdengar isakan tangis Erik yang masuk ke gendang telinga Viona, Viona menahan air matanya untuk tidak menangis.
Kebalikan dengan Arsen, di sini justru Viona yang harus menguatkan suaminya.
Viona membiarkan suaminya menumpahkan segala kegundahannya, mungkin dengan begitu bisa membuat hati suaminya menjadi sedikit lega.
Selang lama menunggu, akhirnya mereka berdua memutuskan duduk di sebelah Ravin. Dengan masih berpelukan, Viona dan Erik terus berdoa dan memohon untuk kesembuhan putrinya.
Cklek
Pintu ruangan UGD pun terbuka, mereka berempat segera bangkit dan menghampiri dokter.
"Bagaimana keadaan putri saya dok?" tanya Erik mewakili.
Dokter mengambil nafas dalam-dalam.
"Anda orang tuanya" tanya dokter.
"Iya dok saya orang tuanya" jawab Erik.
"Saya membutuhkan persetujuan anda untuk segera melakukan operasi, karena putri anda mengalami pendarahan di kepalanya akibat benturan yang di alaminya, dan juga ada keretakan di kakinya" terang dokter.
"Jika tak secepatnya di lakukan operasi, saya takut nyawa pasien tidak akan tertolong" imbuhnya.
"Lakukan yang terbaik untuk putri saya dok, berapapun biayanya saya akan membayarnya, yang penting dokter bisa menyelamatkan nyawa putri saya" pinta Erik dengan tatapan memohon.
"Segera tanda tangani ini surat persetujuan ini dulu tuan" pinta dokter.
Erik langsung menerima suarat persetujuan tersebut, tanpa berpikir panjang Erik langsung menandatanganinya.
"Saya akan melakukan operasinya sekarang juga, tolong bantu kami dengan doa, agar operasinya lancar" ucap Dokter setelah itu langsung masuk ke dalam ruang tersebut.
Dokter dan suster mendorong brankar keluar dari ruang UGD, mereka akan memindahkan Reva ke ruang OK.
Erik bisa melihat wajah lelap putrinya yang di penuhi luka akibat terkena pecahan kaca.
"Tunggu!" cegah Erik.
Dokter dan suster menghentikan langkahnya.
"Boleh saya mencium putri saya terlebih dahulu" pinta Erik dengan tatapan memohon sambil matanya terus mengeluarkan air mata.
Dokter mengangguk mengiyakan.
"Terima kasih" ucap Erik.
Lalu Erik mendekatkan wajahnya ke wajah putrinya, dan di kecupnya kening Reva.
"Cepat sembuh anak papi, papi akan terus berdoa dan meminta untuk kesembuhanmu" lirih Erik sambil melepaskan ciumannya di kening putrinya.
Viona dan juga Kembar pun ikut mencium kening Reva.
Ravin yang tak bisa menahan air matanya, akhirnya menangis di pelukan Revan. biarin orang menilai dirinya cengeng, tapi inilah yang ia rasakan, perasaannya begitu hancur ketika melihat mobil kakaknya terbalik dan sekarang kakaknya itu masih harus berjuang di meja operasi.
Berbeda dengan Revan yang mampu menyembunyikan perasaannya, ia tetap tenang di situasi apapun.
Terdengar suara langkah seseorang yang berlari menghampiri mereka.
"Mana Reva Vi" tanya Alisya dengan nafas ngos ngosan.
Mereka baru saja tiba karena tadi sempat terjebak macet di jalan.
"Reva sedang di ruang operasi Al, terjadi pendarahan di kepala serta tulang kaki yang retak" jawab Viona.
Tubuh Alisya langsung limbung ke belakang, beruntung Arsen langsung memeganginya.
"Hikss... hikss..., ini semua salahku, andai dari dulu aku jujur kepadanya pasti tidak akan ada kejadian seperti ini"
"Aku memang ibu yang buruk, hiks.. hiksss" ucap Alisya menangis menyalahkan dirinya sendiri.
Arsen memeluk istrinya, ia meletakkan dagunya di atas kepala sang istri, Arsen juga ikut menangis karena mendengar tangisan pilu istrinya yang menyayat hatinya.
"Jangan terus menyalahkan dirimu baby, ini semua terjadi bukan karena kehendak kita, ini semua terjadi karena takdir, lebih baik kita berdoa supaya operasi Reva lancar." ucap Arsen bijak.
Ini bukan waktunya untuk mencari siapa yang salah, yang terpenting di sini adalah fokus dengan kesembuhan Reva terlebih dahulu.
Sejak tadi Erik sebenarnya ingin bertanya kepada Alisya, namun ia mengurungkan niatnya. ia tak ingin menambah beban kesedihan Alisya.
*
*
Sedangkan di rumah Brian.
Usai ngobrol dengan orang tuanya Brian memutuskan untuk pergi ke apartement Listy. ia ingin merayakan acara ulang tahunnya berdua dengan kekasihnya di apartement.
Ketika melewati ruang tamu, ia melihat kue ulang tahun dia atas meja.
"Kue siapa bi" tanya Brian kepada pelayannya yang kebetulan lewat di depannya.
"Oh itu, tadi non Reva yang membawanya den" jawab sang pelayan.
"Reva kesini" tanya Brian mengerutkan dahinya, pasalnya Reva tidak menemuinya.
"Iya den, tadi bibi suruh non Reva nyusul aden ke ruang keluarga, tapi tak lama non Reva langsung keluar dan meletakkan kue ini di atas meja, lalu tanpa mengucapkan satu patah kata pun non Reva langsung pergi begitu saja" jelas sang pelayan.
Mata Brian membulat sempurna mendengar penuturan pelayannya.
"Apa jangan-jangan Reva mendengar pembicaranku dengan mommy dan Daddy makanya dia tak jadi menemuiku" batin Brian.
Tapi sedetik kemudian Brian langsung menyunggingkan senyumnya.
"Ck, bukankah ini bagus, dengan begitu aku tak perlu susah-susah mencari alasan untuk memutuskan Reva, karena sebelum aku memutuskannya dia sudah tahu lebih dulu" gumam Brian.
Tak ada rasa bersalah sedikit pun di hati Brian, padahal dia sudah menyakiti hati perempuan yang selama ini menjadi kekasihnya.
Dia justru merasa bahagia karena ingin bertemu dengan kekasihnya. Dengan terus bersiul ia keluar dari rumahnya.
Berasambung.
**Brian ini lama-lama kek pohon pisang, punya jantung doang tapi tak punya hati.
Maaf, othor emosi guys😂**
**Jangan lupa
Like
Koment
Vote
Gift
Hapoy reading guys🙏**