Baby Girl

Baby Girl
S2~35



"Sadar diri itu penting nona, jangan memaksakan sesuatu yang bukan milikmu, kau lihat sendiri bukan kalau tuan Reynand lebih memilih saya yang pengangguran ini, ketimbang anda yang wanita karir. Jadi jangan terlalu membanggakan diri karena tak semua lelaki menyukai wanita seperti anda" bisik Reva di telinga Jenni


Jenni menyembunyikan tangannya yang mengepal di bawah meja, ia tak boleh terpancing dengan bisikan Reva di telinganya, karena dia tak ingin mempermalukan dirinya di hadapan banyak orang.


Usai membisikkan sesuatu di telinga Jenni, Reva mengajak Reynnad untuk pergi dari meja itu, Reva sudah merasa tak nyaman berada di satu meja yang sama dengan Julian dan Jennie.


Reynand pun setuju pergi dari meja itu, karena dirinya juga sudah tidak nyaman berada satu meja dengan orang yang terus menyudutkan wanitanya.


"Saya permisi dulu tuan, saya ingin menemui rekan saya yang lain" pamit Reynand dengan sopan.


"Iya silahkan tuan Reynand, senang sudah mengobrol dengan anda" sahut salah satu orang yang ada di meja tersebut.


Reynand berdiri dari kursinya di susul oleh Reva, Mereka berdua akhirnya pergi meninggalkan meja tersebut.


"Aku lapar honey, mumpung geratis kita makan dulu ya" ucap Reva nyengir sambil mendongakkan wajahnya melihat wajah Reynand yang tampak geleng-geleng dengan sifat kekasihnya yang selalu perhitungan.


Semboyan Reva dari dulu, kalau ada yang geratis kenapa mesti mencari yang bayar. Padahal mamanya sudah kaya tidak susah seperti dulu lagi.


"Kau ini selalu saja nyari yang geratis" ucap Reynand gemes sambil menarik hidung mancung Reva.


"Lah percuma saja kita datang ke acara seperti ini kalau tidak menikmatinya." sahut Reva.


"Terserah kamu lah sayang, lebih baik kita mencari meja terlebih dahulu" saran Reynand.


Mereka berdua menoleh kesana kemari mencari tempat untuk mereka berdua.


"Honey, bukankah itu papa sama om Andre" ucap Reva sambil menunjuk ke arah sang papa.


Reynand mengikuti arah tangan Reva yang menunjuk ke Arsen.


"Ayo kita samperin mereka" ajak Reynand.


Reva dan Reynand berjalan menghampiri meja Arsen dan Andre.


"Papa" panggil Reva membuat Arsen menoleh.


"Kamu di sini juga sayang" sahut Arsen.


"Iya pa, Reva di ajak sama Rey, soalnya om Reagan tak bisa hadir jadi suruh Rey yang mewakilkan" kata Reva.


Arsen mengangguk mengerti, lantas Arsen menyuruh mereka berdua untuk bergabung.


"Perkenalkan tuan, ini putri saya Reva" Arsen memperkenalkan Reva kepada rekan bisnisnya.


"Putri anda cantik tuan Arsen, apa putrimu sudah memiliki kekasih tuan?" sahut salah satu rekan bisnis Arsen.


"Reva dari kecil memang sudah cantik tuan, dan Reva sudah mempunyai calon suami" bukan Arsen yang menyahut, tapi Reva yang menyahut dengan penuh percaya diri. dia memang memiliki kepercayaan diri yang tinggi.


Semua rekan bisnis Arsen tergelak dengan tingkah Reva yang menurutnya lucu.


"Honey, kamu di sini dulu, aku mau kesana mengambil makan" bisik Reva di telinga Reynand.


"Hati-hati" sahut Reynand di balas anggukan oleh Reva.


Reva berlalu dari meja Reynand, dia menuju ke stand makanan, dan ternyata di situ juga ada Jenni yang sedang mengambil makanan.


Reva tak menghiraukan Jenni yang sejak tadi melihatnya dengan tatapan tak bersahabat. Reva fokus mengisi piringnya dengan makanan yang dia suka.


Hingga piring Reva penuh, ia berbalik ingin meninggalkan stand tersebut.


Dugh


"Akhhhh...." pekik Jenni memegangi kakinya yang terkena tendangan.


Pekikan Jenni membuat Reva akhirnya menoleh, dia melihat Ara yang menyelamatkam dirinya, padahal dulu ia merupakan musuhnya waktu masih kecil.


"Kalau tidak menyukai seseorang berlaku lah selayaknya orang pemberani nona, jangan menggunakan cara licik seperti itu untuk mencelakainya, langsung di hadapannya saja jika anda berani" Ucap orang tersebut yang tak lain adalah Ara, seperti biasa dia menemani sang papi ke perjamuan bisnis.


Jenni mengepalkan tangannya dan wajahnya terlihat memerah karena malu sudah ketahuan ingin mencelakai Reva, dan berakhir mendapat tendangan dari Ara. Dia akhirnya memilih pergi meninggalkan Ara dan Reva.


"Ck, ternyata kamu" ucap Reva sinis menatap Ara dengan tatapan permusuhan, ia masih ingat dulu Ara mendorongnya dan berakhir rambutnya di tarik oleh Reynand dan di marahi sang papa.


Mereka sudah pernah bertemu beberapa kali, makanya Reva mengenali wajah Ara.


"Dasar tak tahu terima kasih, sudah aku tolong malah kek gitu, coba kalau tidak ada aku, pasti kamu sudah malu karena terjatuh apalagi di hadapan orang banyak, pasti itu akan membuatmu tidak keren" ucap Ara dan memberikan sindiran kepada Reva.


"Impas berarti, dulu kan kau juga sudah mendorongku duluan, dan kau membayarnya dengan menolongku" sahut Reva tak mau kalah, dia merasa gengsi mengucapkan terima kasih kepada musuh masa kecilnya itu.


"Kau ini masih saja mengingat masalah itu, aku saja sudah lupa" cebik Ara.


"Aku tak akan melupakan peristiwa itu, karena gara-gara kamu aku di marahi sama papa ku" ucap Reva seperti anak kecil.


"Bukan kau saja bodoh, aku juga di marahi sama papi ku" jengkel Ara yang ingin sekali memukul kepala Reva.


"Baguslah, berarti bukan aku saja yang kena marah sama papaku" ucap Reva dengan wajah mengejek.


Dari kejauhan Arsen dan Reynand melihat Ara yang sedang berdebat dengan Ara.


"Rey buruan sana samperin mereka, nanti mereka bikin keributan di sini" saran Arsen.


"Anak itu masih saja tak berubah, selalu saja kalau bertemu dengannya pasti gelut" gerutu Reynand sambil berjalan medekati mereka berdua.


Setelah sudah dekat Reynand langsung menarik lengan Reva agar berhenti berdebat dengan Ara.


"Sebentar honey, aku belum selesai dengannya" kata Reva menghentikan Reynand.


"Cih, ada juga ternyata lelaki yang mau sama kamu, lebih baik kau denganku saja daripada sama dia yang kekanakan." ucap Ara yang semakin menyulut emosi Reva.


"Dasar pelakor kamu ya, enak saja mau ambil kekasihku, apa kamu tidak laku hingga mau mengambil kekasihku hah" sahut Reva tak terima.


"Tentu saja aku laku, bahkan kekasihku juga tak kalah tampan dari kekasihmu itu" ucap Ara tak mau kalah.


Ada beberapa pasang mata yang sejak tadi melihat perdebatan mereka, tapi tak membuat mereka malu.


"Aku yakin kekasihmu katarak, makanya mau sama kamu atau jangan-jangan kau yang memaksanya untuk menjadi kekasihmu" ucap Reva.


Reynand semakin pusing mendengar perdebatan mereka yang menurutnya tidak jelas.


Reynand tak menggubris penolakan Reva, dia terus menarik tangan Reva.


Bersambung


Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏


Happy reading guys 🙏