
Skip guys
*Gadis barbar dan pria kaku*
"Jadi benar, kalian bolos jam pelajaran" tanya kepala sekolah memastikan.
"Iya pak, soalnya saya males belajar matematika" sahut Ara.
Mereka bertiga hanya diam saja membiarkan Ara yang menghandlenya.
"Besok bapak akan memanggil orang tua kalian untuk datang kesekolah, bapak akan mengadukan kelakuan kalian semua kepada orang tua kalian" kata Seno.
Seno berpikir, mereka pasti takut kalau orang tuanya di panggil kesekolah.
Dengan begitu dia memanfaatkan kelemahan mereka untuk menekannya.
Namun dugaannya salah, mereka berempat malah santai, tak ada yang membantahnya.
Mereka berempat tidak ada yang membantah, semua tahu kalau itu sudah jadi konsekuensi dari tindakannya. Semua sudah terlanjur, lalu mereka bisa apa kecuali harus menghadapi ceramah dari orang tuanya nanti.
"Panggil saja pak, kalau begitu kami pulang dulu pak" kata Ara dan pamit sama kepala sekolah.
Tangan Seno mengepal karena tak berhasil menekan Ara dan teman-temannya, sangat sulit mengintimidasi mereka.
Mereka berempat pergi ke parkiran mengambil mobilnya, mobil mereka satu persatu meninggalkan area sekolah dan melaju menuju ke rumahnya masing-masing.
"Bagaimana pa" tanya Bella menghampiri ayahnya.
"Dia tak terpengaruh dengan ancaman papa, bahkan mereka membiarkan orang tuanya di panggil oleh pihak sekolah" Sahut Seno kepada putrinya.
Seno ingin menekan Ara karena masih dendam dengan Ara dan temannya yang tengah membuat mobil putrinya rusak.
Namun dia tidak bisa terang-terangan membalas perbuatan Ara kepada putrinya itu, akan sangat beresiko jika orang tua Ara mengetahui dirinya telah melakukan hal yang tidak terpuji kepada putrinya.
"Terus bagaimana pa? bahkan tiap hari dia makin dekat dengan Narendra, Bella ingin papa mengeluarkan dia dari sekolah ini, supaya dia tidak bisa dekat lagi dengan Narendra." rengek Bella.
"Tak semudah itu mengeluarkan orang Bella, apalagi Ara tak melakukan kesalahan yang fatal. Bukan dia yang keluar dari sekolah, melainkan papa yang akan di pecat dari sekolah ini nantinya"
"Papa bisa mengeluarkan dia dengan alasan karena sering membolos" usul Bella.
"Baru kali ini mereka ketahuan bolos Bella, bagaimana mungkin papa mengeluarkan mereka dengan alasan spele seperti itu." tolak Seno.
"Kalau begitu papa skors aja mereka, dengan begitu Bella akan leluasa mendekati Narendra" ucap Bella memaksa.
Karena kalau ada Ara, Narendra selalu saja memperhatikan Ara ketimbang dirinya, meskipun di hadapannya tak sedikitpun Narendra menoleh ke arahnya.
...****************...
"Assalamualaikum...Ara cantik sudah pulang ini" teriak Ara memenuhi rumahnya.
"Berisik kak Ara" sahut Shaka yang sedang menonton film kesukaannya.
"Eh, adik ganteng kakak sedang menonton rupanya" kata Ara membuat Shaka merotasi bola matanya malas, dia merasa curiga dengan ucapan manis kakak nya yang beda dari biasanya.
Ara berjalan mendekati adiknya, lalu duduk di sisi adiknya yang masih kosong.
"Eh bocil, kamu punya uang tidak?" tanya Ara.
"Ngapain kak Ara nanya begitu" sahut Shaka curiga.
"Kakak mau pinjem, uang kakak habis... nanti kak Ara ajak kamu jalan-jalan deh" lirih Ara sambil clingukan memastikan tak ada maminya.
"Jalan-jalan kemana?" tanya Shaka yang mulai tertarik dengan iming-iming yang di berikan Ara kepadanya.
"Terserah kamu mintanya kemana? beli jajanndi luar juga boleh, tapi kamu bayar sendiri" ucap Ara.
Shaka mendengus, udah di suruh ngutangin. giliran mau ajak jalan malah di suruh bayar sendiri.
"Kalau begitu Shaka mending pergi sama papi saja, geratis" tolak Shaka.
Alasan Ara meminjam uang kepada adiknya karena uang mingguan dia yang di kasih papinya sudah habis buat main tadi.
Kalau nanti minta lagi sama papinya pasti akan banyak pertanyaan yang akan di tanyakan kepadanya.
Dia berinisiatif meminjam ke adiknay, pasalnya adiknya itu jarang jajan, biasa dia kalau pergi ke sekolah akan selalu membawa bekal buatan maminya.
"Nah kalau akur begini kan papi senang melihatnya" ucap Andre yang baru saja pulang dari kantornya.
Shaka dan Ara menoleh melihat papinya sudah pulang padahal hari masih menunjukkan pukul stengah empat sore.
"Tumben papi sudah pulang" tanya Ara.
"Karena papa tidak sabar mau bertanya sama putri nakal papi, tadi kalian habis darimana" tanya Andre sambil duduk di sofa single di ruangan tersebut.
"Tentu saja dari sekolah pi" sahut Ara mengerutkan dahinya, ia bingung dengan maksud papinya, tak mungkin kan kalau papinya tau kalau dirinya bolos pikir Ara.
"Jangan berbohong sayang, apa hari ini kamu bolos sekolah hmmm" tanya Andre tegas.
"Iya Ara bolos pi dan besok pihak sekolah akan memanggil papi untuk datang ke sekolah" jawab Ara jujur, percuma saja bohong, kalau papinya sudah bertanya seperti itu tandanya papinya sudah mengetahuinya.
"Kenapa harus bolos, bukankah kalian bisa main setelah jam pulang sekolah"
"Ara tidak suka pelajaran berhitung. itu membuat kepala Ara pusing" keluhnya.
"Lalu kenapa kamu mengambil jurusan IPA kalu tidak suka berhitung, kenapa tidak ambil IPS kalau begitu. " ucap Andre tak habis pikir dengan jalan pikiran putrinya.
"Karena biar terlihat keren" ucap Ara sambil cengengesan.
Andre geleng-geleng, selalu saja alasannya tak masuk akal.
Sebenarnya Andre tidak marah putrinya bolos, terlebih dia sudah melihat senidiri apa yang di lakukan putrinya di luar tadi.
Tapi bukan berarti Andre membenarkan perbuatan putrinya.
Silahkan saja mau pergi kemana dan ngapain, asal jangan mempengaruhi jam sekolahnya, karena bagi Andre dan Chika, pendidikan tetap nomor satu.
"Lalu ini kenapa kamu dekat-dekat dengan adik kamu" tanya Andre curiga.
"Dekat di curigai, giliran berantem di marahi" gerutu Ara.
Kali ini Andre menatap wajah putranya.
"Kak Ara mau utang sama Shaka" jawab Shaka ember. Membuat Ara melototi adiknya, mulut adiknya selalu saja tidak bisa di ajak kompromi.
"Memangnya uang kamu kemana Ara, ini baru hari apa, sudah habis saja uangnya" omel Chika yang baru saja datang sambil mebawakan minum untuk mereka.
"Mami ngga mau tahu, pokoknya mami tidak mau kasih uang kamu lagi. besok-besok mami akan kasih uang saku kamu harian saja, di kasih mingguan malah cepet habis. baru juga tiga hari".
"Yee.. bukan salah Ara kalau uangnya habis, mami aja yang ngasihnya kurang banyak,"
Ingin Rasanya Chika memukul kepala putrinya, uang lima ratus ribu tidak cukup tuh memangnya anaknya itu jajan apa aja.
"Sudah nanti papi yang kasih"kata Andre menghentikan perdebatan mereka.
"Papi terbaik, ....I love you papi"sorak Ara sambil mencium pipi papinya.
Ara tersenyum mengejek ke arah maminya, terlihat wajah maminya merah padam karena marah dengannya.
"Besok Ara akan menyuruh aunty Arin saja yang datang ke sekolah, karena Ara tak mau mami yang datang" teriak Ara sambil berlari menuju ke kamarnya sebelum maminya kembali murka dengannya.
******
"Anak itu selalu saja mebuatku jengkel, dan apalagi ini... dia malah menyuruh Arin yang datang kesekolahnya, yang ada dia malah mendukung kelakuan Ara itu, orang dia sama-sama tukang bolos dulu." ucap Chika kesal.
"Sudahlah biarin saja, kamu kek ngga tahu Ara aja" Sahut Andre merangkul bahu istrinya lalu berjalan menaiki tangga dan membawanya masuk kedalam kamar.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka, Andre dan Chika masuk kedalam kamar.
Chika masuk kedalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, ia mengisi bak mandi dengan air hangat untuk mandi suaminya, tak lupa Chika juga menuang sabun dansedikit aromatheraphy kedalam bak mandi.
"Sayang, airnya sudah siap" ucap Chika yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
Andre meletakkan ponselnya di atas nakas, setalh itu membuka pakaiannya sambil berjalan menuju ke dalam kamar mandi.
Chika mendengus kesal melihat baju suaminya yang tercecer di lantai, lantas ia memunguti baju suaminya dan memasukkannya ke kranjang pakaian kotor yang ada di sudut ruangan.
Tiga puluh menit Andre keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan handuk yang terlilit di pinggangnya, membuat tubuh kekar Andre terekspos begitu saja.
"Ada diatas ranjang sayang" teriak Chika dari dalam walk in closet.
Andre mendekati ranjang dan memakai baju tidur yang sudah di siapkan oleh istrinya.
Usai memakai baju Andre naik ke atas ranjang, dia duduk sambil bersandar di headboard ranjang.
"Sayang sini" pinta Andre ketika melihat Chika keluar dari ruang ganti dengan menggunakan piyama.
Chika mendekati suaminya dan ikut naik ke atas tempat tidur.
Andre menarik tubuh istrinya dan membawanya kedalam pelukannya.
*
Sedangkan di dalam kamar Ara, ia sedang membaca novel kesukaanya, tak lama terdengar ponselnya berbunyi.
Ara mengambil ponsel tersebut dan melihat nama Narendra yang tertera di layar kaca ponselnya.
"Ngapain jam segini bang Narend menghubungiku" gumam Ara penasaran, lalu mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo" sapa Ara ketika panggilanya sudah terhubung.
"Lagi ngapain" tanya Narendra singkat dari sebrang telpon.
"Baca novel, ada apa abang menghubungi Ara" tanya Ara bingung, tak biasanya Narendra menghubunginya malam-malam begini.
Jangankan untuk menghubunginya, kirim pesan saja jarang.
"Abang besok akan menjemputmu berangkat sekolah" ucap Narendra tiba-tiba.
"Ara naik mobil sendiri aja bang" tolak Ara, dia tak mau terlalu dekat dengan Narendra, karena jika berdekatan dengannya takut membuat dirinya baper.
"Tidak ada penolakan, besok pagi abang akan datang kerumahmu" ucap Narendra memaksa, setelah itu dia langsung mengakhiri panggilannya.
Ara kesal lalu membanting ponselnya diatas kasur.
"Dasar beruang kutub, bisanya cuma maksa orang saja, tidak tahu apa kalau berdekatan dengannya membuat batin ini tersiksa" gerutu Ara sambil berguling guling dia atas kasurnya.
Karena perlakuan Narendra yang berubah membuat Ara ingin bertanya langsung kepadanya, tapi dia takut sakit hati ketika jawaban Narendra tak sesuai dengan harapannya.
Ara terus menggerutu memaki Narendra, hingga dia merasa lelah dan membuatnya terlelap.
πΊπΊπΊ
Pagi telah tiba, mentari telah muncul hingga membuat cahaya keemasan masuki ke celah-celah jendela kamar Narendra , pemuda tampan itu langsung membuka mata karena merasa terusik dengan cahaya matahari yang masuk kedalam kamarnya.
Narendra merenggangkan otot tubuhnya terlebih dahulu, setelah itu ia bangun dan duduk sebentar untuk memulihkan kesadarannya terlebih dahulu.
Lalu ia turun dari ranjangnya dan melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamar mandinya.
Sedangkang di bawah, di ruang makan Alana sedang menyiapkan sarapan pagi untuk suami serta kedua anaknya.
Tak berselang lama Raka dan Nayla menuruni anak tangga.
"Selamat pagi mam" sapa Nayla lalu duduk di kursi kosong sebelah sang mama.
"Selamat pagi sayang" sapa Raka sambil mengecup pipi istrinya.
Mereka semua sudah duduk di meja makan, mereka tinggal menunggu Narendra saja.
Terlihat Narendra menuruni anak tangga dengan terburu-buru.
Narendra nylonong begitu saja tak menyapa kedua orang tuanya.
"Boy, kamu tidak sarapan dulu" teriak Alana
"Tidak mam, Narend takut telat" sahut Narendra ikut berteriak.
Alana mengerutkan dahinya sambil melihat jam yang menempel di ruangan tersebut.
"Telat apanya, bukankah masih ada satu jam lebih" kata Alana bingung.
"Mungkin dia mau menjemput kekasihnya mam" sahut Nayla asal menebak saja.
"Hah? siapa perempuan beruntung itu Nay" tanya Alana penasaran. Pasalnya sang putra tak pernah sekalipun dekat dengan seorang wanita.
Dan Sekarang putrinya bilang kalau Narendra ingin menjemput wanitanya, sungguh keajaiban dari tuhan kalau putranya mempunyai kekasih beneran.
Nayla tak menjawab, ia hanya mengendikan bahunya tanda tidak tahu, dia tadi cuma asal bicara saja.
*
Tin
Tin
Tin
Narendra membunyikan klakson mobilnya, sang penjaga pun datang dan membukakan gerbang untuk Narendra.
"Paman Aranya ada tidak" tanya Narendra dari kaca jendela mobilnya.
"Non Ara ada di dalam den, mungkin dia masih sarapan bersama tuan dan Nyonya" sahut sang penjaga.
"Terima kasih paman." ucap Narendra, setelah itu ia memasukkan mobilnya kepekarangan rumah Ara.
Ia mematikan mesin mobilnya, kemudian membuka pintu mobil dan keluar.
Narendra berjalan memasuki rumah Andre.
"Assalamualaiku" sapa Narendra.
"Waalaikum salam" sahut sang bibi yang bekerja di rumah Ara. dia membukakan pintu untuk Narendra.
"Ara ada bi" tanha Narendra sopan.
"Non Ara sedang sarapan den, masuk saja mereka ada di ruang makan" sahut sang bibi seraya menyuruh Narendra masuk kedalam rumah.
Narendra mengangguk lalu masuk ke rumah Chik, dia melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan.
Terlihat Ara sedang sarapan bersama kedua orang tuanya dan juga Shaka.
"Selamat pagi aunty, om" sapa Narendra kepada kedua orang tua Ara.
Membuat Chika dan Andre menoleh, melihat siapa yang datang kerumahnya pagi-pagi seperti ini.
"Hai Narend, kamu di sini" ucap Chika kaget melihat anak sahabatnya itu pagi-pagi sudah berada di rumahnya.
"Iya aunty, Narend mau jemput Ara" sahut Narendra.
"Ara nya sedang sarapan, kamu sudah sarapan belum? " tanya Chika.
Narendra menggaruk kepalanya yang tak gatal, sambil menoleh ke arah Ara yang masih fokus menghabiskan sarapannya, tak sedikitpun Ara melirik ke arah Narendra.
"Belum Aunty" jawab Narendra.
"Duduklah, kamu sarapan dulu... kamu pasti terburu-buru makanya tidak sempet sarapan kan" ucap Chika.
Narendra mengangguk lalu duduk di kursi kosong sebelah Shaka.
Chika mengambil piring dan mengisinya dengan nasi goreng dan telur ceplok, lalu dia memberikan piring tersebut kepada Narendra.
"Terima kasih aunty" ucap Narendra sambil menerima piring dari tangan Chika.
Narendra mulai menyantap nasi goreng tersebut dengan begitu lahap, hingga tak butuh lama dia sudah menghabiskan nasinya.
Dia mengambil gelas yang sudah terisi air minum lalu meminumnya.
"Ayo bang kita berangkat, nanti kita telat" ajak Ara yang sudah menggendong tas punggungnya.
Narendra mengangguk setuju, lalu beranjak dari kursinya. ia dan Ara berpamitan dengan Chika dan juga Andre.
Setelah itu mereka berjalan keluar rumah menuju ke mobil Narendra.
Bersambung.
Happy reading guys π