Baby Girl

Baby Girl
BAB 39



Malam hari setelah Arsen mengantarkan Alisya ke rumah nya, Arsen langsung pulang ke mansion sedangkan Reynand Arsen sudah menyuruh pengawalnya untuk mengantarkan ke rumah Reagan, Arsen terlalu malas jika hadus bolak balik mengantarkan keponakan nya itu.


"Kau sudah pulang nak" sapa Belinda ketika melihat putranya masuk ke rumah.


"Iya bund," jawab Arsen lalu merebahkan kepalanya di pangkuan bundanya. Belinda mengusap kepala putra semata wayang nya dengan penuh kasih sayang.


"Alisya kemana sayang" tanya Belinda yang tak lagi melihat Arsen membawa Alisya pulang.


"Arsen tadi sudah mengantar dia pulang ke rumahnya bund, besok Alisya mesti ke Bogor survey tempat di sana" jawab Arsen sambil menduselkan wajahnya di perut bunda.


Arsen memang suka bermanja-manja dengan bundanya, apa lagi kalau sedang lelah seakan rasa lelahnya hilang setelah merasakan usapan tangan bundanya di kepalanya.


"Bagaimana perasaanmu dengan Alisya sayang? Jika kamu hanya ingin bermain-main mending kamu tinggalkan dia dan cari perempuan lain yang bisa di ajak sekedar happy-happy aja"


"Karena jika kamu hanya berniat mempermainkan Alisya, yang sakit bukan hanya Alisya saja, tapi Reva juga akan merasakan sakit juga, jadi sebelum kamu melangkah terlalu jauh lebih baik yakinkan dulu hatimu karena bukan hanya Alisya saja yang kamu cintai, kamu juga harus bisa menerima keberadaan Reva, jangan sampai nanti kamu membedakan dia dengan anakmu yang lain" tegas Belinda.


Arsen bangkit dari pangkuan bundanya ia menatap lekat kedua mata bundanya.


"Bund, Arsen tak hanya mencintai Alisya saja, Arsen juga sangat menyayangi Reva. Arsen sudah menganggap gadis kecil itu seperti anak Arsen sendiri bund, Arsen sudah bertekad akan melamar Alisya nanti setelah Alisya pulang dari bogor" jawab Arsen dengan sorot mata penuh keyakinan. Belinda mencoba mencari keraguan di mata putranya tapi dia tidak menemukannya.


"Kamu harus bisa janji sama bunda, kalau kamu gak akan pernah menyakiti Alisya dan juga Reva. Kamu harus bisa menjaga serta melindungi mereka, karena bunda melihat tatapan kesedihan dan juga beban yang begitu berat di mata Alisya." ucap Belinda.


Belinda tidak mau anak nya plin plan yang nantinya malah akan menyakiti Alisya. Belinda seorang perempuan sekaligus seorang ibu, jadi dia bisa merasakan apa yang Alisya rasakan.


Tidak mudah jadi Alisya, di tinggal kedua orang tuanya meninggal di usia yang masih remaja, dan di telantarkan oleh kerabat nya dari pihak orang tuanya, di bully di sekolah karena miskin, dan di jadikan bahan taruhan hingga hilangnya kesucian yang ia jaga, di Do dari kampusnya,terus ia masih menanggun beban melahirkan hingga membesarkan putrinya seorang diri. Bersyukur Alisya kuat dan mampu berdiri di kaki sendiri tanpa bantuan orang lain.


Jika bukan Alisya mungkin orang itu sudah bunuh diri atau membunuh janin yang ada di rahim nya.


"Iya bund Arsen janji" tegas Arsen.


"Jika kamu melanggar, bunda sendiri yang akan menghukum mu dengan kedua tangan bunda" ancam Belinda.


"Kau terlihat menakutkan jika seperti itu bund" ledek Arsen sambil pura-pura bergidik ngeri. Belinda yang melihat pun langsung memukul kepala putranya.


"Berapa hari Alisya kebogor nak, terus bagaimana dengan Reva?" cecar Belinda membuat Arsen mendengus.


"Rencana Alisya ke bogor selama tiga hari bund, dan masalah Reva Alisya sudah meminta tolong Arsen untuk menjaganya" jawab Arsen.


"Asik, nanti bunda akan memamerkan Reva ke teman-teman sosialita bunda" ceplos Belinda yang begitu antusias mendengar Reva akan menginap di rumah nya selama 3hari.


"Memangnya bunda tidak malu" tanya Arsen.


"Kenpaa harus malu, bunda malah suka dengan Reva dia anak yang manis dan menggemaskan" sahut Belinda langsung tanpa mikir.


Biasanya orang tua akan malu mengakui calon cucunya yang bukan asli darah daging nya sendiri, terlebih status Reva yang lahir tanpa adanya pernikahan.


Tapi berbeda dengan bunda nya, Arsen terharu sekaligus bangga kepada bundanya yang tak memandang orang dari statusnya.


"Syukurlah, kalau bunda bisa menyayangi Reva juga, awas aja jika bunda mengajarkan yang aneh-aneh kepada anak itu" ucap Arsen sekaligus memperingati bundanya.


"Yee, terserah bunda lah" sewot Belinda.


Arsen yang kesal akhirnya memilih masuk kedalam kamarnya untuk istirahat.


Belinda memang senang kalau di suruh menggoda putra nya itu, biar putranya tak terlalu kaku katanya.


Pagi-pagi sekali Alisya sudah bangun, ia masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar nya, Alisya membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


Tiga puluh menit berlalu Alisya keluar dari kamar mandi, ia langsung memakai baju sekalian menyiapkan barang bawaan nya yang akan Alisya bawa ke bogor selama tiga hari kedepan.


Setelah selesai semua Alisya turun ke abwah menuju ke dapur membuat sarapan untuk putrinya. Alisya menumis sayur serta menggoreng telur mata sapi kesukaan putrinya.


Masakan sudah matang Alisya langsung menyajikan nya di atas meja makan. Kemudian ia naik lagi ke lantai atas untuk membangunkan putrinya yang akan berangkat kesekolah.


Ceklek... Alisya membuka pintu kamar putrinya. Alisya melihat putrinya sudah terbangun dengan muka bantalnya, tapi dia masih belum beranjak dari tempat tidur.


"Anak cantik mama sudah bangun ternyata" ucap Alisya lalu menghampiri putrinya di atas ranjang.


"Leva Cudah banun dali tadi mama, tapi Leva mals mandi" ucap Reva sambil memeluk bantal gulingnya.


"Hei, sejak kapan putri cantik mama jadi anak pemalas," sahut Alisya.


"Cejak tadi Leva banun tidul ma, hihihi" balas Reva sambil menduselkan wajahnya ke bantal guling sambil cekikikan.


"Anak mama harus mandi" ucap Alisya sambil mengangkat tubuh kecil putrinya lalu membawanya ke dalam kamar mandi.


"Sayang, hari ini mama harus berangkat ke bogor selama tiga hari, nanti Reva tinggal sama Om Arsen ya, setelah mama pulang baru mama langsung jemput Reva." ucap Alisya sambil menyabuni badan Reva.


"Tenapa lama cekali ma" keluh Reva dengan wajah sedihnya, soalnya baru pertama kali Alisya akan meninggalkan putrinya selama berhari-hari, sebelumnya Reva tak pernah jauh dari mama nya.


"Hanya tiga hari saja sayang, Reva bisa main sama om Arsen dan sama oma" Alisya mencoba membujuk Reva, Alisya sengaja tidak mengajak Reva, Alisya nda mau kalau Reva sampai bolos sekolah.


"Ya cudah nda apa-apa, nanti Leva bica main cama Ley tan" sahut Reva dengan mata berbinar, Alisya terbengong melihat mimik wajah putrinya yang tadi nya sedih langsunv berubah ceria hanya karna menyebut nama Rey.


Setelah mandi dan berpakaian, Alisya membawa putri nya ke ruang makan.


Alisya melihat Arsen yang baru memasuki rumahnya.


"Pagi sayang" sapa Arsen sambil mengecup pipi Reva kemudian bergantian mencium kening Alisya.


"Pagi om Alsen, om Alsen tecini mau numpang salapan di lumah Leva ya" ceplos Reva dengan memicingkan matanya menatap Arsen.


"huff... Reva kalau ngomong suka bener" sahut Arsen sambil tertawa kecil. Arsen mengalihkan pandangan nya ke arah Alisya.


"Kapan kau akan berangkat baby" tanya Arsen kepada Alisya.


"Setelah Reva berangkat, aku akan langsung jalan" jawab Alisya sambil memberikan nasi kepada putrinya.


"Biar Reva aku yang antar, kamu hati-hati nanti saat di perjalanan, kabari kalau ada sesuatu" ucap Arsen. Alisya mengangguk.


"Sarapanlah dulu, setelah itu kau bisa mengantar Reva" titah Alisya. Arsen pun patuh. Ia ikut bergabung dengan Reva yang sudah terlebih dulu menyantap maknan nya.


Happy reading guys🙏**