Baby Girl

Baby Girl
S2~27



Ini kisah Rey sama Reva dulu ya, nasib Brian nanti dulu.


...****************...


"Ada apa ini pa? kenapa suasananya tegang begitu" tanya Alisya yang baru dari dapur, ia duduk di sisi suaminya.


"Anakmu pacaran sama Reynand" ketus Arsen.


"Lalu apa masalahnya, bukankah mereka normal pa, perempuan dan laki-laki pacaran" sahut Alisya.


Alisya tak mempermasalahkan putrinya mau pacaran sama siapa, yang terpenting laki-laki itu baik dan mencintai putrinya.


Terlebih laki-laki itu Reynand, Alisya tidak perlu khawatir karena ia mengenalnya sejak kecil, dan orang tuanya pun ia tahu.


"Itu dengerin om, benar kata aunty Alisya tidak ada masalah, Rey laki-laki, Reva perempuan, sudah sewajarnya kan kita menjalin hubungan." timpal Reynand sambil tersenyum puas, dia sudah mengantongi restu dari mamanya Reva, nanti giliran dia menemui Erik.


Masalah Arsen Reynand sebenarnya tidak terlaku memikirkannya, dia tinggal ngadu sama omanya atau sama Alisya juga selesai, mana berani om nya itu melawan istri serta bundanya.


Reva mendekati papanya, lalu memeluknya.. ia tahu kegundahan papanya.


"Papa tidak ijinkan Reva pacaran sama Rey?" tanya Reva.


"Bukan tidak mengijinkan, tapi kenapa harus bocah tengik itu sih, akan sangat menyebalkan jika aku memiliki menantu seperti dia" kata Arsen.


Reva kini tahu alasan papanya, karena dulu sia dan Rey selalu saja membuat Arsen kesal.


"Kenapa dengan Rey pa, Rey ganteng dan kaya, nanti kalau Reva jodoh sama Rey papa bisa minta mahar banyak sama om Reagan nanti" ucap Reva memberikan ide kepada papanya.


Arsen menoleh lalu tersenyum putrinya yang tengah memeluknya dari samping.


"Ya kamu benar sayang, papa akan membuat Regan bangkrut" Ucap Arsen dengan wajah berbinar.


Lalu Arsen mengalihkan pandangannya melihat ke arah Rey.


"Kapan kamu akan menikahinya? besok? lusa? atau minggu depan,? om Asren akan merestuinya" tanya Arsen antusias.


Allisya dan Reynand kompak menepuk keningnya.


Semudah itu membujuknya, pikir Reynand.


"Cih, mana bisa om Arsen bikin daddy bangkrut, yang ada om di gantung sama oma" decih Reynand mengejek omnya.


Arsen melengoskan wajahnya malas, sudah pasti ia tak berkutik kalau melawan bundanya.


"Sayang, aku pulang dulu ya..besok pagi aku akan menjemputmu" pamit Reynand.


"Iya honey, kamu hati-hati pulangnya" kata Reva sambil mengantar Reynand ke depan menuju ke mobilnya.


Sebelum masuk ke mobilnya Reynand mengusap pipi Reva terlebih dahulu, ia tidak berani menciumnya, usai itu baru dia masuk kedalam mobilnya.


Reva melihat mobil Rey yang semakin menjauh, ketika sudah tidak terlihat barulah dia masuk kedalam rumahnya.


"Awas kamu Rachel, aku akan mengambil tas nya lagi, enak banget dia main ambil tasnya begitu saja," gumam Reva.


"Kamu mau kemana kak" tanya Alisya ketika melihat putrinya ingin memasuki lift.


"Reva mau mengambil tas Reva ma, tas Reva yang di belikan Rey di ambil sama Rachel" jawab Reva sambil menoleh melihat mamanya.


"Ngambilnya baik-baik jangan sampai berantem" peringatnya.


Alisya tak ingin putra putrinya berselisih hanya karena memperebutkan barang yang sama.


"Iya ma" ucap Reva, setelah itu ia masuk kedalam lift dan naik ke atas menuju ke kamar adiknya itu.


Sampai di lantai dua, Reva tak langsung ke kamar Rachel, ia memilih ke kamar Gavin terlebih dahulu.


Klek..


Terlihat Gavin sedang memainkan gundamnya sendirian.


"Ada apa kak Leva ke kamal Gavin" tanya Gavin ketika melihat kakaknya masuk ke kamarnya.


"Kak Reva mau minta bantuan sama kamu" sahut Reva sambil mendekati adiknya.


"Bantu apa? Gavin na sedang sibuk ini" tanya Gavin.


"Sebentar saja, kak Reva minta tolong ambilkan tas kak Reva di kamar kak Rachel, nanti kak Reva ksih uang deh" rayu Reva, baisanya adiknya itu akan menurut jika di iming-imingi uang.


"Banyak nda uangna?" tanya Gavin bernegosiasi.


"Gavim minta berapa?" tanya Reva.


Gavin berpikir sambil menghitung jarinya.


"Lima ribu?" tanya Reva ketika adiknya menunjukkan kelima jarinya.


Gavin menggelengkan kepalanya.


"Lima puluh ribu?" tanya Reva lagi.


Tapi Gavin masih menggelengkan kepalanya juga.


"Lalu berapa? kamu anak kecil tidak boleh pegang uang banyak, nanti kak Reva aduin mama lho" kata Reva.


"Kenapa jadi di aduin ke mama, kan tadi kak Leva sendili yang minta di bantu sama Gavin. jaman sekalang tidak ada yang mulah kak, BBM aja sekalang mahal" protes Gavin.


"Ke kamal kak Lachel tidak menggunakan motol kak Leva, tapi menggunakan tenaga" ucap Gavin sambil menghela nafas berat seperti orang yang lagi banyak beban.


Ingin sekali Reva menjitak kepala adiknya itu, masih kecil sudah itung-itungan.


"Cepat katakan beraoa yang Gavin minta" tanya Reva mulai tak sabar menghadapi adiknya itu.


"Lima latus libu bagaimana? mau tidak? kalau tidak Gavin mending main lobot lagi" tawar Gavin.


Reva melongo mendengarnya, cuma minta di ambilin tas aja di suruh bayar lima ratus ribu.


"Kenapa mahal sekali, seratu ribu aja bagiamana" tawar Reva.


"Kalau tidak mau yasudah, pekeljaan Gavin itu belesiko kak, maka na Gavin minta banyak" sahut Gavin.


"Resiko apanya orang cuma ke kamar kak Rachel" gemes Reva.


"Kalau begitu kenapa kak Leva tidak ambil sendili, kak Leva malah menyuluh Gavin" sungut Gavin.


Sebenarnya bukan tidak berani, Reva malas saja berdebat sama adiknya itu.


"Yasudah ini kak Reva bayar," ucap Reva mengalah, ia menyodorkan lima lembar uang yang ia ambil dari kantong celananya.


Gavin tersenyum penuh kemenangan.


"Senang Gavin belbisnis sama kak Leva" kata Gavin. "Kak Leva tunggu di sini dulu jangan kelual, Gavin ambilkan tas kak Leva ke kamal kak Lachel" lanjutnya.


Gavin berdiri lalu melangkahkan kaki kecilnya keluar dari kamarnya.


Ia menuju ke kamar kakaknya yang ada di depan kamar adiknya.


Tok


Tok


Tok


"Kak Lachel ini Gavin" teriak Gavin dari luar kamar Rachel sambil mengetuk pintu kamarnya.


Klek


Pintu kamar di buka oleh Rachel.


"Ada apa Gavin manggil kak Rachel" tanya Rachel.


"Kita masuk kedalam dulu kak, jangan di sini nanti ada yang dengel" kata Gavin.


Rachel mengerutkan dahinya bingung, kenapa adiknya main rahasia rahasiaan.


Rachel menyusul adiknya yang lebih dulu masuk kedalam kamarnya.


"Apa" tanya Rachel penasaran.


"Kak Lachel butuh uang nda?" tanya Gavin sambil memperlihatkan uang lima ratus ribu di tangannya.


"Hah? kamu dapat uang dari mana?" tanya Rachel.


"Dapat dali olang, kak Lachel mau nda?" tanya Gavin memastikan.


"Mauu dong, kak Rachel minta tiga lembar ya" pinta Rachel.


"Kalau begitu bawa sini dulu tas kak Leva, nanti Gavin kasih uangna" ucap Gavin memberikan opsi.


Rachel langsung mengangguk. lalu ia mengambilkan tas milik Reva yang ada di akta mejanya.


"Ini tas nya" ucap Rachel sambil memberikan tas Reva kepada Gavin.


Gavin menerima tas tersebut. setelah itu ia memberikan tiga lembar uangnya ke Rachel.


"Terima kasih adik kak Rachel" ucap Rachel sambil mencium pipi Gavin.


Gavin mengangguk lalu keluar dari kamar Rachel sambil membawa tas milik Reva.


"Lumayan Gavin untung dua latus libu" gumam Gavin sambil mengipas ngipaskan uangnya.


Ia masuk kedalam Kamarnya.


Reva langsung menghampiri Gavin yang baru saja memasuki kamarnya sambil membawa tas miliknya.


"Ini tas na kak" ucap Gavin sambil menyodorkan tas Reva.


"Terima kasih sayangnya kak Reva, Karen kamu sudah berhasil maka kak Reva akan memberikan bonus sama kamu" ucap Reva sambil menyodorkan uang dua ratus ribu ke Gavin.


"Telima kasih" ucap Gavin senang, sambil menerima uang tersebut.


Setelah itu Reva keluar dari kamar Gavin sambil membawa tas miliknya.


Ternyata tanpa sepengetahuannya Rachel mengintip dari celah pintunya yang tak tertutup rapat.


"Dasar si gendut licik, aku harus lebih sering berbisnis dengannya, suapaya uangku banyak, hihihihi" ucap Rachel terkikik.


Bersambung


Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏 rate