
Seminggu berlalu, kini Reva dan Reynand sudah bersiap-siap untuk melakukan bulan madu ke negara J.
Semua keluarga datang berkumpul di rumah Reagan untuk melepas kedua pengantin tersebut.
"Hati-hati sayang, jangan lupa oleh-oleh untuk mami, cucu yang lucu-lucu" ucap Viona sambil mengecup pipi putrinya.
"Doain Reva mami, supaya acara malam pertamanya lancar" bisik Reva di telinga maminya.
"Iya sayang, mami sudah siapkan baju seksi untuk kamu, biar Reynand makin kelepek-kelepek sama kamu" sahut Viona lirih supaya tidak ada yang mendengar obrolan vulgar mereka berdua.
Cuma dengan Viona Reva berani bicara vulgar seperti ini, kalau sama mamahnya dia tidak berani. Yang ada belum ngomong kepalanya sudah di getok duluan pakai panci pink.
"Kalau sudah sampai negara J kabari papi sayang, papi sudah siapkan semua kebutuhan kamu selama di Jepang" ucap Erik.
"Makasih papi" ujar Reva sambil memeluk papinya.
Dari pesawat, hotel dan kebutuhan lain untuk mereka sudah di siapkan oleh Erik semua, untuk acara honeymoon memang bagian Erik yang mengaturnya.
"Dahhh...mamah, papah Reva pergi dulu sama Rey" pamit Reva kepada kedua orang tuanya.
"Hati-hati sayang, kalau ada apa-apa langsung hubungi papah ya" ucap Arsen sambil memeluk putrinya singkat.
Sejak tadi Reynand hanya menahan cemburu melihat istrinya di peluk sana sini oleh keluarga, terutama pria...rasanya Reynand tak rela istrinya di sentuh pria lain meskipun itu keluarganya sendiri.
"Ayo sayang" ajak Reynand kepada sang istri.
"Iya honey" sahut Reva menghampiri suaminya.
Usai berpamitan kepada semuanya Reva dan Reynand menuju ke mobilnya yang sudah siap di depan rumah.
Tiba-tiba teriakan seseorang menghentikan langkah mereka.
"Stop!!"
Membuat Reva dan Reynand menoleh, mereka berdua mengerutkan dahinya ketika Gavin menghentikan langkahnya.
"Ada apa" tanya Reva bingung.
"Gavin boleh ikut nda kak" tanya Gavin polos.
"TIDAK!!!" jawab Reva dan Reynand kompak.
Tentu pasangan suami istri itu dengan kompak langsung menolaknya, bisa gawat kalau Gavin ikut bulan madu juga.
Bukan bikin adonan yang ada malah ngasuh Gavin.
"Kayak anak kembal aja ngomongna balengan" ujar Gavin melihat kekompakan suami istri tersebut.
Alisya mendekati putranya, dan menahannya sebelum dia kembali berulah.
"Gavin pergi sama mamah aja, biarin kak Reva pergi sama kak Rey" rayu Alisya lembut.
"Yasudah deh, Gavin nda jadi ikut" ucap Gavin yang luluh dengan rayuan mamahnya.
Reva dan Reynand masuk kedalam mobil, perlahan sopir mulai melajukan mobilnya, Reva melambaikan kepada semua keluarganya.
Mobil melaju membelah jalanan yang terlihat begitu padat, mereka berdua terus mengobrol hingga tak terasa mobil yang mereka tumpangi tiba di bandara.
Mereka berdua turun, lalu berjalan dan melangkah menuju ke pesawatnya.
Mereka berdua menaiki pesawat pribadi milik Erik.
Sementara di rumah Reagan mereka masih asik berkumpul dengan yang lain.
"Kasih ke anakmu yang lain saja, kan anakmu ada banyak Ar" tolak Erik.
Arsen melempar bantal sofa ke wajah Erik, dia kesal dengan Erik yang sama menolaknya seperti putrinya dia malah melemparkan tanggung jawab perusahaan Dinata ke anaknya yang lain.
Bukan Erik tak mau mengambil alih perusahaan Dinata, tapi Erik sudah menyiapkan sendiri perusahaan untuk putra semata wayangnya.
"Kau bisa menyuruh Revan untuk mengelolanya Ar" timpal Reagan memberi solusi kepada sepupunya.
"Lalu siapa yang akan mengambil perusahaanku, aku sudah lelah bekerja terus di kantor, aku ingin santai sambil menikmati masa tuaku bersama istriku"
"Kan anakmu bukan cuma Revan bo*oh, masih ada Ravin, Rachel,Gavin, memangnya aku sama Erik cuma anak dua doang" sahut Reagan.
"Anakku memang banyak, tapi lihatlah si Ravin mana bisa dia di suruh ambil alih perusahaan, yang ada perusahaanku bangkrut olehnya" ucap Arsen.
Yang Arsen tahu putranya itu hanya bisa main,main,main dan main, soalnya di antara semua anak Arsen hanya Ravin yang susah di atur dan semaunya sendiri. Dia tak pernah bisa di ajak serius.
"Kau jangan terlalu meremehkan putramu yang satu itu Ar, meskipun dia slengekkan tapi mungkin dia yang akan mengikuti jejakmh nanti" ucap Erik memiliki pandangan lain tentang Ravin.
"Aku tidak tahu apa yang kamu ucapkan Rik" sahut Arsen.
"Kamu bapaknya Ar, harusnya kamu yang lebih tahu tentang putramu itu" ucap Erik membuat Arsen menghembuskan nafasnya.
Saking banyaknya anak, terkadang membuat Arsen bingung harus memantau yang mana, selama ini dia hanya memantau putrinya saja, sedangkan yang putra ia bebaskan.
🌹🌹🌹
Setelah melewati perjalanan selama tujuh setengah jam, akhirnya pesawat yang mereka tumpangi landing di bandar udara internasional Tokyo.
"Kita langsung ke hotel saja honey" usul Reva setelah mereka turun dari pesawat.
"Baiklah sayang" sahut Reynand.
Mereka berdua sudah di jemput oleh orang suruhan Erik, mereka menaiki mobil menuju ke hotel.
*
Kini mereka berdua sudah berada di Four season hotel Tokyo.
"Kamu suka sayang" tanya Reynand sambil memeluk istrinya yang sedang berdiri menatap keluar jendela kamar.
"Aku suka honey, aku sangat ingin pergi ke negara ini, tapi tak pernah sempat karena papah dan papi selalu sibuk bekerja. Tapi aku bahagia akhirnya aku bisa kesini sama kamu honey. Apa kamu bahagia berada di negara ini bersama ku honey?" ucap Reva mengutarakan perasaannya. Lalu bertanya kepada Reynand.
"Bahagiaku ketika melihat kamu bahagia sayang" Jawab Reynand sambil mengecup puncak kepala istrinya.
"Kapan kita membuat adek bayi sayang" bisik Reynand di telinga istrinya.
"Memangnya kamu tidak lelah honey" tanya Reva sambil membalikkan tubuhnya menghadap ke arah suaminya.
"Tidak, aku masih kuat membuatmu terus menjerit di bawah tubuhku baby" sahut Reynand dengan suara seraknya menahan has*at.
"Kalau begitu, ayo kita buktikan" ucap Reva dengan tersenyum menggoda.
"Janji jangan menyesal sayang" ucap Reynand langsung mengangkat tubuh Reva dan membawanya keatas ranjang.
Bersambung
Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏
Happy reading guys🙏