
"Sayang, itu bukannya temanmu yang tadi ya?" tanya Viona dari dalam mobil yang melihat Aqila di jemput sama mobil mewah.
"Iya itu Aqila mami, memangnya kenapa" jawab Reva dan bertanya.
"Tadi kenapa Aqila di ejek anak miskin" tanya Viona yang masih penasaran.
Pasalnya tak mungkin kalau anak miskin di jemput pake mobil Alphard, kalau anak pembantu pun tak akan mungkin majikannya menyediakan mobil mewah untuk antar jemput.
"Oh, tadi Aqila di bilang anak miskin kalena dia nda pelnah jajan mami, Aqila nda pelnah bawa uang jajan, dia selalu bawa bekal dali lumahna" jawab Leva jujur.
Viona dan Erik tepuk jidat, sungguh penilaian yang sangat konyol. Terkadang memang ada beberapa orang tua yang tak pernah mengijinkan anaknya megang uang , apa lagi masih paud, mereka lebih memilih membawakan bekal dari rumah, biar ngga jajan sembarangan.
"Kamu tahu bukan kalau Aqila bukan anak orang miskin" tanya Viona.
"Tentu saja Leva tau mami" jawab Reva santai sambil tak bisa diam duduk di atas pangkuan Viona.
"Lalu kenapa kamu memukulnya, kan yang mereka tuduhkan tidak benar" tanya Viona sambil mengerutkan dahinya.
"Leva nda suka ada olang yang ejek-ejek Leva sama teman Leva, sekalian Leva kasih pelajalan buat Daffa dan teman-temannya itu, bial nda belani cali gala-gala lagi di sekolah, untung Leva sudah belajal bela dili dali papa, jadi Leva menang lawan meleka semua" jawab Reva sambil tertawa.
Viona ternganga mendengarnya, alasan dia sih awalnya bagus, tapi ujungnya-ujungnya dia ingin mengetes ilmu beladirinya yang selama ini sudah ia pelajari bersama Arsen. Untung dia menang, kalau dia salah cari lawan yang ada dia babak belur.
"Besok lagi jangan begitu sayang, untung kali ini kamu menang, kalau nanti kamu yang babak belur bagaimana, bisa-bisa kita semua nangis" peringatnya.
"Iya mami. Nanti jangan bilang mama ya kalau Leva pukul olang, Leva takut di hukum mama" pinta Reva dengan tatapan memohon.
Viona dan Erik menahan tawa, ternyata masih ada yang dia takuti.
"Kenapa kamu takut sama mama ketimbang papa sayang?" tanya Viona penasaran.
"Mama kalau kasih hukuman sangat menyelamkan mami, Leva kena hukum papa kalau Leva nakal sama Ley, paling di suluh beldili hadap ke tembok" jawab Reva.
"Terus kalau mama ngasih hukumannya apa" tanya Viona.
Erik hanya mendengarkan dua kesayangannya berceloteh sambil fokus mengemudikan mobilnya.
"Leva nda boleh jajan, Leva nda boleh main sama Ley, Leva cuma di suluh diam di lumah doang, itu sangat menyebalkan mami" jawab Reva.
"Memangnya Reva suka di kasih uang saku sama mama" tanya Viona.
"iya mami" jawab Reva sambil menunjukkan uangnya yang sisa lima ribu.
"Hah, memangnya berapa yang mama kasih sayang" tanya Viona.
"yang ijo mami, kata Ley itu dua puluh libu" jawab Reva polos.
Viona tertawa kecil, ternyata Alisya masih membatasi uang jajan anaknya.
"Kamu jajan apa saja? Kenapa uangnya tinggal segini?" tanya Viona.
"Tadi buat jajanin Aqila juga mami, makana uangna tinggal segini" jawab Reva.
Viona mengelus rambut panjang Reva dengan penuh sayang.
Mobil yang di kendarai Erik tiba di Mansion Arsen. Erik keluar dari mobil di susul denagn Viona yang menggendong Reva. Mereka masuk ke dalam sambil tangan Erik merangkul pinggang istrinya.
Ternyata di dalam Alisya sudah menunggu kedatangan mereka di ruang tamu dengan perut besarnya. Dia melotot menatap putrinya yang di gendong Viona.
"Apa yang kamu lakukan Reva?, kenapa papa sampai di panggil ke sekolahanmu" tanya Alisya langsung.
"Mama, anaknya pulang sekolah itu di suluh duduk dulu, di kasih minum dulu, bukan malah di malahin" bukannya menjawab Reva malah protes.
"Jangan mengalihkan pembicaraan kamu ya" ucap Alisya galak.
"Leva hanya membela teman Leva mama, Leva nda ngapa-ngpain" sahut Reva sambil duduk di sisi Viona.
"Papa saja yang lebay" jawab Reva.
"Mana ada papa lebay, mama yakin kamu yang bohong sama mama" kekeuh Alisya.
"Lihat oma, Mama malah menuduh Leva, teltekan sekali pelasaan Leva" Adunya.
Belinda melengoskan wajahnya, ia tak mau terpengaruh dengan drama yang cucunya buat.
Viona memalingkan wajahnya terkekeh geli melihat kelakuan anak tirinya.
"Apa benar begitu Vi" tanya Alisya.
Alisya yakin kalau anaknya pasti bohong, tak mungkin gurunya berani membohongi Arsen.
Viona menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Anu Al, dia menonjok temannya gara-gara membela teman nya yang bernama Aqila" lirih Viona terpaksa.
Alisya terbelalak mendengar penuturan Viona.
"Kamu bener-bener ya Reva, mama harus bagaimana lagi menghukum kamu biar kapok. kamu itu di ajarin bela diri bukan untuk memukuli orang, tapi untuk membantu orang" omel Alisya sambil memegangi kepalanya.
"Telus salahna Leva di mana mama? Leva kan membantu teman Leva yang di ejek sama Daffa, belalti kan Leva menolong olang" ngeyel Reva tak mau di salahkan.
Alisya memijat pelipisnya, dia pusing dengan putrinya yang selalu membalas ucapannya.
"Mama tidak akan kasih uang jajan kamu selama seminggu ke depan, TITIk!" tegas Alisya.
"Tak masalah" sahut Reva santai.
Alisya memicingkan matanya menatap putrinya penuh curiga, tumben putrinya itu tidak protes sama sekali.
"Apa yang sedang kamu rencanakan hah" tanya Alisya curiga.
"Selba salah jadi Leva, nulut salah, nanti kalau plotes makin salah" jawab Reva lesu.
"Tentu saja ada yang Leva lencanakan, tak apa mama nda kasih Leva uang, kan masih ada mami Viona sama mommy Lenata, yang bisa Leva mintain uang jajan" batin Reva tersenyum licik.
Setelah melihat perdebatan yang panjang dan cukup alot antara ibu dan anak itu, Viona dan Erik pamit undur diri dari rumah Alisya.
......................
Malam hari pukul 9 malam Arsen baru pulang dari kantor, dia masuk ke rumah sambil menenteng tas kantornya dan juga jas yang dia tauh di lengannya.
Terlihat beberapa lampu utama sudah ada yang di matikan, penghuni rumah pun sepertinya sudha masuk ke kamarmya masing-masing.
Arsen naik ke atas menuju ke kamarnya.
Ceklek
Suara pintu kamar terbuka oleh Arsen. Terlihat Alisya sudah terlelap.
Arsen mendekati istrinya yang sudah terlelap di ranjang. "maaf, aku baru pulang,baby" lirih Arsen sambil mengecup kening istrinya.
Setelah itu dia meninggalkan istrinya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket karena keringat.
Tiga puluh menit berlalu Arsen keluar dari kamar mandi, dia memakai pakaian tidurnya. Usai itu dia langsung naik ke atas ranjang dan merebahkan diri di sebelah istrinya.
Arsen memeluk tubuh istrinya, namun dia merasa aneh ketika memegang bokong istrinya tangannya terasa basah.
"Apa dia ngompol ya? Tapi mana mungkin dia ngompol" gumam Arsen.
Bersambung.
Happy reading guys🙏