Baby Girl

Baby Girl
part 11



"Sayang udah dong ngambeknya, aku kan udah jelasin semuanya,"mohon Rista pada Jeremy yang diam saja setelah perdebatan kecil mereka tadi.


"Jerem, udah dong, betah banget diamnya," Rista menggoyangkan lengan pria itu.


"Aku masih kesal, kamu pindah kampus aja deh,gimana? aku yang urus semuanya nanti heum," ucap Jeremy yang akhirya membuka suaranya.


"Pindah kampus? tapi tanggung banget Jer, aku kan udah semester 6 dan mamah pasti nanti gak setuju, kamu tau mama gimana kan? apalagi mama gak sama kamu," jelas Rista.


"Huft, iya juga sih, kasian kamunya nanti kudu ngulang beberapa kelas lagi," Jeremy menghela nafasnya.


"Pokoknya kamu harus jaga jarak sama dosen kamu itu, aku gak mau kamu deket-deket sama dia, cuma dikelas aja, diluar itu pokoknya gak boleh," ucap Jeremy dengan nada yang tegas.


"Iya sayang," ucap Rista.


"Good girl," balas Jeremy sambil menyadarkan kepala Rista di bahunya. Rista tersenyum senang akhirnya masalah dia dengan Jeremy selesai juga.


"Lagian dosen aku tuh nyebelin banget tau gak? dia tuh galak, semaunya, otoriter pokonya nyebelin, aku gak suka sama dia," adu Rista.


"Siapa yang nyebelin dan galak?"


"Pak Melvin?"


Mata Rista melotot saat melihat Melviano yang kini berada di rooftof. Rista sampai mengangkat kepalanya dari bahu Jeremy. Mengucek matanya memastikan bahwa penglihatan nya tidak salah sama sekali.


Namun itu benar-benar Melvin, pria itu tengah menataap keduanya dengan pandangan yang sulit diartikan oleh Rista.


"Loh, pak Melvin bukannya udah pulang?"


"Mata Kamu tidak berfungsi? kamu lihat saya ada disni, berarti saya belum pulang, bodoh," ucap Melvin dengan wajah songong.


Jeremy kesal mendengar ucapan pria itu, ingin sekali dirinya menonjok pria yang berada dihadapannya.


Jeremy akhirnya berdiri dan memandang pria itu dnegan tatapan permusuhan, dia tak takut sama sekali dengan pandangan pria itu dan aura yang dikeluarkannya.


"Ngomong apa lo sama cewe gua," ucap Jeremy dengan wajah yang menantang.


'Jer jangan, dia dosen aku," ucap Rista.


"Kok kamu jadi belain dia sih," kesal Jeremy.


"Aku gak belain di Jer," bantah Rista. Rista hanya tak ingin memiliki banyak masalah dengan Melviano, dia ingin hidup tenang di kawasan kampusnya.


"Sudah selesai berdebatnya? "


"Apa sih lu, gak usah ikut campur," sentak Jeremy. Melihat dosen inilah yang mendekati Rista membuat dia merasa sedikit Isencure.


Jeremy tak bohong, jika Melviano memang terlihat berwibawa,terlihat perfeksionis dan berpenampilan rapi. Jika Jeremy jadi wanita dia pasti juga akan terpikat dengan Melviano.


Dan lagi pria itu sudah memiliki masa depan dan pekerjaan, berbeda dengannya yang masih belum menjadi apa-apa.


"Jadi beginikah sikap dari keksih yang sangat kau sukai itu Rista, berpenampilan sangat urakan, panntes aja Mamah gak suka sama dia," ucap Melviano seraya tersenyum miring. Eve memang menceritakan padanya jika wanita paruh baya tersebut tak menyukai pria yang menjadi kekasih Rista dan Melviano sekarang sudah melihat pria itu.


Melviano tersenyum dalam hati tentu saja, Karena dia masih bisa untuk mendapatkan Rista secara Eve juga menyukai nya. Melviano tak perlu mengkhawatirkan hubungan kedua orang didepannya ini, karena Eve bahkan tak merestui hubungan mereka.


"Mamah apa maksud lo," ucap Jeremy.


"Tanyakan pada kekasihmu," ucap Melviano seraya menatap Rista dengan pandangan dalam.


"Ah tadi mama Eve bilang buat anter kamu Sampai rumah, jadi otomatis kamu pulang bareng saya, makanya saya masih berada disini," ucap Melviano dengan menekankan nama ibunda Rista.


"Enggak, saya bisa pulang sama Jeremy," tolak Rista dengan mentah-mentah seraya memeluk lengan Jeremy dihadapan dosen nya itu.


"Tidak bisa! Mama kamu sudah memberi pesan pada saya," ucap Melviano keras kepala.


"Saya tidak perduli, saya akan ngomong sama mamah saya, bapak gak perlu ikut campur sejauh itu dengan urusan saya. Bapak cuma sebatas dosen saya saja tidak lebih dari itu," ungkap Rista hang berhasil menohok perasaan Melviano.


"Ayo Jer," ucap Rista menarik Jeremy untuk ikut bersama dengannya, meninggalkan Melviano yang terdiam dengan berbagai macam pikiran di kepalanya.


Sesampainya di mobil milik Jeremy, pria itu kini duduk diam tak membuka suaranya.


Sedangkan Rista kembali menghela nafasnya karena harus membujuk Jeremy lagi. Padahal mereka baru saja baikan dan lihatlah sekarang.


Rista kembali memaki Melviano dalam hatinya. Mengapa pria itu harus datang pikir nya.


"Jer,"


"Jadi dia udah sering kerumah kamu ya, sedekat itu kalian, sampai manggil Tante Eve mamah lagi, aku aja gak pernah dan jarang main kerumah kamu," sindir Jeremy.


Jeremy hanya pernah sekali kerumah sang kekasih, saat pertama kali dia mengantar Rista untuk pulang kerumahnya.


Saat itu Jeremy bertemu dengan Eve, Jeremy sangat senang saat itu bis bertemu dengan orang yang melahirkan Rista, tapi berbanding terbalik dengan Eve yang tak menyukai nya.


Wanita paruh baya tersebut mengatakan jika dia belum oantas untuk menjadi pasangan dari Rista. Karena dia memang merokok suka main dan balapan motor dan mobil, Eve mengetahuinya karena Jeremy jujur saat itu tentang latar belakang nya.


Jeremy hanya tak ingin membohongi Eve, tapi ternyata kejujuran nya malah menjadi Boomerang dan Eve lantas memblacklistnya.


Sejak saat itu dia tak pernah lagi kerumah Rista karena Eve meminta Rista untuk tidak mengajaknya lagi kerumah nya.


"Jer, come on, kita bisa usahakan sama-sama kan, please jangan langsung gini dong, kamu keliatan kayak mau nyerah gitu sama hubungan kita," lirih Rista.


"Aku gak gitu Ris, tapi aku iri aku cemburu tau gak, orang lain bisa sedekat itu sama kamu dan mamah kamu."


"Kenapa bisa dosen kamu kerumah kamu, pasti kamu kan yang ajak atau kamu emang suka sama dia iya! kamu ngegoda dia Samai dia kayak gitu sama kamu kan?" sentak Jeremy yang sudah tidak tau apa yang dia katakan. Semuanya langsung terucap begitu saja.


"Kamu kok ngomong gitu sih, kamu pikir aku cewe apaan hah! aku gak ngegoda dia, tega banget kamu nuduh aku kayak gitu," ucap Rista dengan pandangan yang terluka.


"Ya terus gimana? dia pasti bisa bersikap seperti tadi karena kamu juga respon dia kan. Kamu pasti seneng kan bisa disukai sama cowo mapan dan tampan kaya dosen kamu itu," ucap Melviano lagi.


"Kalo aku suka sama dia, aku gak bakal nolak dia tadi Jer, aku udah langsung bawa dia pulang kerumah tau gak!!!" ucap Rista yang mulai tersulut emosi.


"Udah lah aku males sama kamu, aku pengen sendiri, kamu turun aja," suruh Jeremy tanpa menoleh kearah Rista lagi.


"Jer," ucap Rista tak percaya.


Jeremy tak menjawab dan tetap menatap lurus ke depan.


"Fine, aku bisa pulang sendiri. Kalo kamu maunya kita berakhir. Oke," ucap Rista yang hendak membuka pintu mobil Jeremy.


Namun belum sempat dia keluar pria itu langsung menahan tangan nya.


"What the hell? siapa yang berakhir hah! gak ada yang berakhir," tekan Jeremy. Dia tak terima tentu saja.


"Kamu maunya apasih Jer, kok kamu jadi gini sih, kamu jadi emosian tau gak, gak kayak Jeremy yang aku kenal," ucap Rista .


Biasanya Jeremy selalu bisa mencairkan suasana dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.


"Aku masih sama Ris, aku cuma butuh waktu aja udah, please. Maaf, tapi aku gak mau lepasin kamu gitu aja. Aku cuma mau merenung apa yang salah sama aku dan memperbaiki nya. Supaya aku bisa menyaingi dosen kamu dan membuat mamah kamu suka sama versi aku yang lebih baik. "


"Tapi tetap aja, aku masih marah dan ngambek sama kamu soal Melviano," ucap Jeremy dengan tatapan yang jengkel.


TBC