Baby Girl

Baby Girl
BAB 94



Sementara di kantor Viona tengah fokus menyelesaikan pekerjaanya, dia ingin mengalihkan kekecewaan nya dengan mengerjakan banyak pekerjaan. Vio masih tak menyangka kalau ternyata Erik sebejat itu. Terlebih keluarganya malah mendukungnya.


dia belum tahu kalau Erik masuk penjara. Karena selama ini Erik jarang memberikan kabar begitu pun juga sebaliknya.


Tok...tok..tokk.


Bunyi suara ketukan pintu dari luar.


"Masuk.." teriak Viona tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas


Ceklek...suara pintu terbuka dari luar.


Asisten Viona masuk ke dalam ruangan Viona."Maaf mengganggu nyonya, saya hanya ingin memberikan kabar kalau tuan Erik masuk penjara dengan tuduhan penggelapan uang perusahaan, tuan Aldrik juga masuk ke rumah sakit karena serangan jantung" ucap Asisten Viona.


Tak


Pulpen jatuh dari genggaman Viona. Viona mengangkat kepalanya menatap tajam mata asistenya yang masih menatapnya. "Jangan asal bicara kamu, saya bisa saja memecatmu" ucap Viona yang masih tidak percaya.


"Saya tidak berbohong nyonya, nyonya bisa langsung menghubungi tuan David, karena saya baru saja di hubungi tuan David, karena sejak tadi beliau menghubungi nyonya tapi tidak kunjung nyonya angkat" jelas asisten Viona.


Viona mengambil ponsel yang ada di tasnya, Viona kaget ternyata banyak panggilan yang masuk ke nomornya, banyak pesan yang masuk dari Rani dan juga mertuanya. Saking larutnya dalam pekerjaan sampai membuat Viona mengabaikan ponselnya.


Viona memasukkan ponselnya kedalam tasnya, dia beranjak dari kursinya.


"Saya akan pergi ke kantor polisi, kamu tolong bereskan meja kerja saya." titah Viona buru-buru.


"Baik nyonya" ucap asisten Viona.


Viona keluar dari ruangannya, dia masuk ke ruangan papanya terlebih dahulu.


Brakkkk.....Viona membuka pintu ruangan papa nya dengan kasar.


Hendrawan kaget mendengar pintunya yang di buka kasar dari luar.


"Apa apaan kamu Viona" kesal Hendrawan sambil mengelus dadanya.


"Maaf pa, Viona ingin mengabarkan kalau opa Aldrik masuk rumah sakit dan Erik masuk penjara" ucap Viona dengan nafas naik turun.


Hendrawan menghela nafas lalu mendekati putrinya. Dia tahu perasaan putrinya...baru saja mengetahui kenyataan kalau suaminya mempunyai anak dari wanita lain, dan sekarang suaminya masuk penjara karena korupsi.


Hendrawan memeluk putrinya sambil menenangkannya. "Tenang sayang, ingat janin yang ada di perutmu....papa akan menemanimu ke kantor polisi" ucap Hendrawan.


Viona menitihkan air matanya di pelukan papanya. "kenapa masalah ini menimpa Viona secara bersamaan pa? Bagaimana nasib anak Viona nanti kalau Erik di penjara" lirih Viona.


Ketakutan seorang ibu adalah melihat anaknya lahir dengan keadaan orang tuanya yang tak lengkap, kebanyakan seorang ibu akan bertahan untuk kebahagiaan anaknya meskipun sakit pada akhirnya.


"Papa akan berusaha membantumu untuk mengeluarkan Erik, lebih baik kita ke kantor polisi sekarang" ucap Hendrawan lalu mengajak Viona pergi ke kantor polisi untuk menemui Erik.


......................


Setelah Alisya dan Arsen pergi dari perusahaan Dinata, Nino mengambil alih sementara perusahaan tersebut dia memberikan instruksi kepada semua karyawan.


Alisya dan Arsen masuk ke rumah dengan wajah berseri-seri. Arsen merasa puas dengan kehancuran keluarga Dinata.


Arsen merasa suasana begitu sepi, bahkan dia pulang saja tidak ada yang menyambutnya seperti biasanya.


"Baby, putriku kemana? Kenapa dia tidak menyambutku pulang" tanya Arsen dengan wajah kesal.


Alisya memutar malas bola matanya. "Kenapa kamu tanya aku, bukankah aku dari tadi juga bersamamu" jawab Alisya.


Samar-samar Alisya mendengar suara orang yang sedang bercanda. "Sepertinya dia sedang di dapur honey, kau mendengar suaranya bukan" ucap Alisya seraya bertanya.


Arsen mencoba menajamkan pendengarannya. "iya baby, itu pasti Reva....kamu istirahat saja ya, aku ingin menemui putri cantikku itu" ucap Arsen membuat Alisya mencebik.


Arsen akan melupakan dirinya jika sudah bersama dengan Reva . Seperti sekarang ini.


"Jangan cemberut, nanti aku akan menyusulmu ke kamar" rayu Arsen di sertai anggukan dari Alisya.


Alisya menaiki lift untuk kelantai dua, karena Arsen sudah tak memperbolehkan naik turun tangga selama kehamilannya. Sedangkan Arsen pergi ke dapur penasaran apa yang sedang di lakukan putrinya.


Dari jauh Arsen terkekeh geli melihat wajah cemong putrinya karena terkena tepung. Dengan langkah cepat Arsen mendekati putrinya yang sedang fokus mencetak adonan cookies di atas loyang


Grep.....


"Anak papa sedang ngapain hmm kenapa serius sekali." ucap Arsen di ceruk leher Reva sambil memeluknya dari belakang.



Reva menoleh sedikit ke samping. "hihihi...liat papa Leva sedang membuat cookies kesukaan na Leva." jawab Reva sambil tepuk tangan heboh.


Arsen mengecupi pipi chubby Reva. "Wow...anak papa hebat, sudah bisa membuat kue" puji Arsen."nanti papa di kasih tidak?" tanyanya.


"Nanti Leva kasih, tapi sedikit..kalena Leva mau bagi buat Ley" jawab Reva membuat Arsen mendengus kesal.


"Kamu ini kenapa selalu mendahulukan Rey ketimbang papa hmm" kesal Arsen sambil mengoleskan tepung di wajah Reva. Setelah itu Arsen lari meninggalkan dapur.


"Papa belhenti...jangan lali, Leva akan balas papa pakai tepung" pekik Reva sambil mencomot tepung lalu berlari mengejar Arsen keruag makan.


Reva melempar tepung ke Arsen tapi tidak kena, Arsen lari memutari meja makan sambil saling melempar tepung.


"Papa stop.!!"pekik Reva yang berhenti mengejar Arsen, dia duduk di lantai dengan nafas yang ngos-ngosan.


Arsen berhenti, kemudian ikut duduk di sebelah putrinya."kenapa berhenti girl? "tanya Arsen.


"Sebental pa, Leva capek....kita istilahat dulu, balu lanjut pelang lagi" ucap Reva dengan nafas putus-putus. Arsen terkekeh melihatnya.


Belinda memijit keningnya yang berdenyut, dia pusing melihat tingkah anak dan ayahnya itu, dapur sudah berantakan, tepung tercecer kemana-mana.


"Tidak ada perang-perang, kalian harus di hukum" tegas Belinda tiba-tiba yang datang dari arah dapur.


Reva dan Arsen memutar kepalanya ke samping. "bukan salah Leva oma, tapi papa yang mulai duluan" ucap Reva tak mau di salahkan.


"Kenapa kamu menyalahkan papa, kan kamu juga ikut melempar tepung ke papa" sahut Arsen tak mau kalah


"Tapi kan papa duluan yang nyelang Leva, jadi papa saja yang di hukum sama oma" sengit Reva.


"Enak saja, kan kamu juga salah jadi kamu juga harus di hukum" sungut Arsen.


Belinda makin pusing melihat perdebatan mereka, sama-sama ngeyel, sama-sama tak mau di salahkan.


"Biar adil kalian berdua yang akan oma hukum, kalian harus bersihkan lantai sampai bersih" lerai Belinda.


"Oma nda kasihan ya sama Leva, Leva kan masih kecil oma" ucap Reva dengan wajah memelas


Bersambung


Happy reading guys🙏